Tempat yang tepat untuk memulai karier bagi lulusan baru adalah Cilegon, bukan Jakarta.
Sekitar satu setengah bulan lalu, tepatnya di bulan November tahun 2025, saya mencoba peruntungan karier melalui program pemagangan nasional yang diadakan oleh Kementerian Ketenagakerjaan. Program magang ini menawarkan pengalaman serta uang saku buat anak magang sebesar Upah Minimum Kabupaten/Kota tempat magangnya. Program ini diperuntukkan bagi lulusan baru perguruan tinggi maksimal terhitung satu tahun setelah dinyatakan lulus dengan periode magang selama enam bulan.
Setelah banyak pertimbangan, saya memilih lokasi magang di Cilegon. Pemilihan tempat magang ini mempertimbangkan UMK Cilegon yang hanya beda Rp300 ribu dari UMP Jakarta. Selain itu saya pikir saingannya juga lebih sedikit dibandingkan Jakarta. Eh, ternyata saya diterima dan saat menulis ini, saya sudah menjalani magang selama 1 bulan lebih sedikit.
Oleh karena itu saya menulis artikel ini untuk memberi testimoni, bahwa Cilegon adalah tempat yang tepat untuk memulai karier bagi siapa pun. Berikut tiga alasannya.
UMK Cilegon tinggi, tak kalah dari Jakarta
Sebagai seorang lulusan baru yang masih lajang, gaji UMK di Cilegon yang sudah mencapai Rp5 jutaan. Nominal segitu sangat cukup untuk diri sendiri dan bahkan bisa untuk kirim uang bulanan juga ke orang tua di rumah. Saya juga masih bisa menabung.
Alasan satu ini mungkin tak semua orang akan merasakannya, mengingat tak semua perusahaan sudah memberikan upah untuk karyawannya selayaknya UMK dari kota tersebut. Namun secara umum, jika perusahaan tempat kerja Anda di Cilegon menerapkan penggajian sesuai UMK, hal ini dapat jadi alasan mengapa Cilegon tepat dijadikan daerah rantau pertama kali.
Biaya hidup bisa diminimalisir
Hal yang bikin saya kaget ketika sarapan pertama kali di Cilegon adalah ketika menemukan nasi uduk seharga Rp5 ribu dan porsinya bikin kenyang. Saya juga masih bisa menemukan mie ayam seharga Rp9 ribu di kota industri satu ini. Tanpa perlu berhemat, biaya makan di Cilegon masih mendukung dompet kita tetap tebal, terlebih kalau tempat kerja kita berada jauh dari kotanya.
Mengenai tempat tinggal, di Cilegon juga masih ada kontrakan Rp1 jutaan per bulan dengan spesifikasi 3 kamar tidur. Mudah saja jika ingin mencari rekan untuk tinggal bersama dalam satu kontrakan. Tinggal tawarkan ke teman-teman di tempat kerja, lalu bagi rata uang kontrakan tersebut. Maka untuk tempat tinggal per orang hanya perlu membayar Rp300 ribuan. Masih terjangkau, kan?
Kalau saya pribadi sih memilih kos yang dekat dengan tempat magang juga. Jadi, saya juga bisa memangkas biaya transportasi harian. Ini bisa jadi strategi untuk meminimalisir pengeluaran di Cilegon.
Hanya fokus kerja lalu pulang
Selama satu bulan ini, saya jarang sekali keluar kos. Hidup hanya fokus tempat magang dan kos. Hal ini karena polusi dari kendaraan dan pabrik yang bikin kapas pembersih wajah saya tiap habis jalan-jalan naik motor jadi hitam pekat. Jadi kayaknya lebih baik tinggal di kos seandainya ada waktu senggang.
Selain itu, di Cilegon nggak ada tempat rekreasi yang cukup menggoda saya untuk bepergian. Cuma ada mall biasa yang mana bisa kita jumpai juga di kota lainnya. Pantai dan gunung di sini pun banyak diperuntukkan bagi tambang pasir dan batu. Mau wisata kuliner? Nggak ada yang spesial juga.
Cilegon juga minim transportasi umum. Jadi buat perantau yang nggak membawa kendaraan pribadi, ya siap-siap saja gigit jari. Kalau pergi naik ojol tiap hari boncos juga. Sudah gitu di jalan juga banyak truk besar yang lalu-lalang.
Dengan kondisi yang demikian saya jadi malas dan makin betah di kosan. Hidup hanya ke tempat magang lalu pulang ke kos untuk beristirahat. Kita jadi lebih fokus bekerja dan nggak sempat memikirkan hiburan, jadi semakin meminimalisir pengeluaran yang tak perlu. Cukup bersenang-senang nanti saat pulang ke kampung halaman atau musim liburan.
Sejauh ini, memilih Cilegon sebagai perantauan pertama benar-benar pilihan tepat. Seperti yang saya katakan di atas, saya jadi fokus dengan pekerjaan. Cilegon cocok banget buat orang-orang yang ambis karena minim gangguan duniawi.
Jadi, tertarik untuk memulai karier di sini? Yuk, ah.
Penulis: Bunga Gracella Ardimay
Editor: Intan Ekapratiwi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















