Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

3 Alasan Kita Suka Film Superhero meski Ceritanya Gitu-gitu Aja

Raden Muhammad Wisnu oleh Raden Muhammad Wisnu
19 April 2022
A A
3 Alasan Kita Suka Film Superhero meski Ceritanya Gitu-gitu Aja (Pixabay.com)

3 Alasan Kita Suka Film Superhero meski Ceritanya Gitu-gitu Aja (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Selama lebih dari 20 tahun, kita disajikan puluhan film superhero oleh industri film Hollywood yang mereka adaptasi dari komik-komik superhero Marvel maupun DC. Dan kita, dengan suka cita, menyambutnya, lalu berbondong-bondong ke bioskop, lalu membicarakan tentang hal itu selama beberapa hari. Siklus itu terus berulang tiap kali film serupa muncul.

Tapi, kenapa sih kita rasanya antusias dan suka banget sama film superhero, padahal… ya gitu-gitu doang kan filmnya?

Tokoh utamanya punya kekuatan super. Lalu, berusaha berbuat yang benar dengan menjadi penegak keadilan, dengan motivasi yang itu-itu aja: dendam masa lalu, orang tua meninggal di depan mata, kalau-bukan-gue-siapa-lagi-isme, atau trauma. Itu-itu terus.

Lalu, konfliknya nanti seputar kepribadian, atau bermasalah dengan musuh, lalu musuh bikin si tokoh utama meragukan dirinya. Lalu, satu jam kemudian, si tokoh utama menemukan jawaban atas masalahnya, lalu tiba-tiba dia bisa mengakses kekuatan dengan level yang lebih tinggi. Gituuu melulu.

Lalu, meski alurnya sudah ditebak dan klise, apa yang menyebabkan film superhero tetap laris dan ditonton?

#1 Sebagai escape mechanism

Selama ini, kita hidup di dunia yang penuh dengan ketidakadilan. Begal di mana-mana. Korupsi di mana-mana. Politisi busuk di mana-mana. Yang berteriak lantang, kalau nggak kena teror ya diracun di pesawat. Sekalinya ada yang dapet panggung, eh yang muncul malah ketua BEM yang kocak.

Angele urip.

Kita nggak punya kuasa sama sekali untuk melawan ketidakadilan tersebut. Kita manusia biasa, dibatasi oleh kemampuan yang itu-itu aja dan gaji yang segitu-segitu saja.

Baca Juga:

Guardians of the Galaxy Vol. 3, Bukti Marvel Masih Bisa Bikin Film Bagus

Superhero Fatigue: Ketika Film Superhero Mulai Bikin Enek

Tony vs Rogers (Pixabay.com)

Nah, film superhero membantu kita semua untuk kabur dari realitas di atas (escape mechanism) dengan menyajikan pahlawan super yang membasmi kejahatan. Mulai dari begal sampai koruptor ia basmi semua. Sejenak, kita bisa puas melihat orang-orang yang selama ini mendzalimi kita dibasmi oleh para superhero.

Selama beberapa jam,kita bisa kabur dari realitas hidup yang sangat pahit. Jujur saja, setelah nonton film superhero yang kerjanya membasmi kejahatan, kita merasa lega banget kan? Karena di dunia nyata, penjahatlah yang selalu menang, tapi di film superhero, orang baiklah yang selalu menang.

Apalagi kalau nonton filmnya sama orang yang terkasih, ayang misalnya. Kpn y.

#2 Pada dasarnya, semua manusia itu baik

Saya pikir, hampir semua manusia di dunia ini pada dasarnya merupakan orang yang baik. Makanya kita suka banget dengan film-film superhero. Superhero yang kita tonton mewakili jiwa-jiwa kepahlawanan kita yang selama ini cuma bisa kita pendam di dalam hati dan pikiran kita. Kita nggak bisa meluapkannya atau menyalurkannya ya karena itu tadi, sebagai manusia, keterbatasan kita terlalu banyak.

Contohnya, begini deh. Katakanlah kamu melihat orang di depanmu dipalak oleh orang yang perawakannya mirip Brock Lesnar. Pasti pikir-pikir kalau ingin pasang badan dan melawan ketidakadilan tersebut. Tapi, kita, sebagian besar, memilih untuk pergi dan menghindari berurusan dengan hal tersebut. Coba saja kita punya kekuatan, nyali kita turah-turah melawan orang kek gitu.

Portal (Pixabay.com)

Saya tau, kalian pasti mencibir ucapan saya di atas. Tapi, saya sih yakin, Anda bisa mencibir karena belum atau tidak dalam posisi seperti itu. Coba, revisi cibiran Anda nantinya kalau (amit-amit) berada di posisi tersebut. Tapi, doa saya sih, semoga tidak, semoga semua selamat, dan gaji naik tiga kali lipat. Aamiin.

#3 Mengajarkan nilai-nilai kebaikan

Banyak orang yang berkata bawa cerita superhero itu fiksi. Ya ini mah jelas, nggak perlu lagi didebat. Apalagi kalau bilang, “Ah, ngapain nonton film Marvel, fiksi doang.” Ya iya, emang maunya nyata? Situ mau kepalanya digeprek Chitauri? Saya sih, mending hidup gini-gini aja. Serius.

Tapi, film superhero memberikan kita satu hal yang pasti: nilai kebaikan. Kebaikan selalu jadi prioritas bagi tokoh utama. Apa pun yang terjadi dan menimpa, mereka berusaha mencari silver lining dan menyikapinya dengan baik.

Kecuali Tony Stark, dia memang brengsek.

Tony Stark (Pixabay.com)

Sebenarnya, itulah yang jadi nilai plus dan memang harus kita pelajari. Bahwa hidup ini brengsek dan menyebalkan, betul. Hidup ini tak memberi tempat untuk orang lembek dan lemah, betul. Tapi, bagaimanapun, kita tetap bisa bikin dunia ini sedikit lebih baik dengan mengutamakan kebaikan dan selalu menjadi orang baik. Memang susah, tapi yang terbaik memang tak pernah mudah, kan?

Visual yang makin hari makin bagus, efek yang luar biasa, bikin film superhero jadi makin digandrungi. Jadi ya, wajar jika film superhero selalu ditonton dan akan selalu membludak penontonnya. Sebab, ia, seringnya, adalah refleksi atas ketidakmampuan kita melawan hal-hal yang ingin kita lawan.

Kecuali Fantastic Four yang remake, ya Allah itu film apaan.

Penulis: Raden Muhammad Wisnu
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menggugat Ketiadaan Bioskop Modern di Bukittinggi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 April 2022 oleh

Tags: dcfilm superheromarvel
Raden Muhammad Wisnu

Raden Muhammad Wisnu

Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung yang bekerja sebagai copywriter. Asal dari Bandung, bercita-cita menulis buku. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 atau akun Instagram dan TikToknya di @Rwisnu93

ArtikelTerkait

Review Eternals

Review Eternals: Siapa Bilang Jelek? Ah, Nggak Juga

11 November 2021
shang-chi

Shang-Chi dan Komentar Denis Villeneuve yang Masuk Akal

30 September 2021
Spider-Man: No Way Home

Spider-Man: No Way Home, Trailer Tidak Tampilkan Tobey Maguire dan Andrew Garfield Adalah Strategi

19 November 2021
what if? serial animasi marvel mojok

Selain ‘What If?’, Ini Rekomendasi Serial Animasi Keren Marvel Lainnya

18 Agustus 2021
Review Zack Snyder's Justice League dan Perbedaannya dengan Versi Teatrikal mojok.co/terminal

Prediksi Alur Cerita Justice League Snyder’s Cut: Knightmare dan Kemungkinan Terjadinya Flashpoint

18 Februari 2021
Review Moon Knight: Tetap Juara meski Berani Keluar Pakem

Review Moon Knight: Tetap Juara meski Berani Keluar Pakem

5 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

26 Februari 2026
5 Barang Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek-merek yang Sudah Besar Mojok.co

5 Produk Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek yang Sudah Besar

25 Februari 2026
Vespa Matic, Motor Paling Tidak Layak untuk Dibeli (Unsplash)

Vespa Matic Adalah Motor yang Paling Tidak Layak untuk Dibeli karena Overpriced, Boros, dan Paling Dibenci Tukang Servis Motor

1 Maret 2026
Dosa Penjual Oseng Mercon, Makanan Khas Jogja Paling Seksi (Wikimedia Commons)

Dosa Penjual Oseng Mercon Menghilangkan Statusnya Sebagai Kuliner Unik, padahal Ia Adalah Makanan Khas Jogja Paling Seksi

23 Februari 2026
Nasi Godog, Makanan Magelang yang Nggak Ramah di Lidah Pendatang, Tampilan dan Rasanya Absurd Mojok.co

Nasi Godog Magelang, Makanan Aneh yang Nggak Ramah di Lidah Pendatang

28 Februari 2026
Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya Mojok.co

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Jadi Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya

23 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.