MOJOK.COBawa balik Susi Pudjiastuti untuk jadi Menteri KKP sepertinya mustahil, oleh sebab itu Jokowi perlu mencari nama-nama lain.

Usai Edhy Prabowo ditetapkan sebagai tersangka suap oleh KPK, Pak Jokowi segera bergerak cepat menunjuk the one and only Lord Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan ad interim. Sesudah ini, Pak Jokowi baru akan dipusingkan untuk segera memilih Menteri Kelautan dan Perikanan resmi.

Nah, mencari figur yang pas untuk menteri ini sebenarnya mudah saja buat beliau. Masalahnya, standar tinggi yang telah dibuat oleh Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan sebelumnya, bikin memilih pengganti ini susah-susah gampang. Semua orang bakal membandingkan dengan Bu Susi.

Oke deh, bisa saja Pak Jokowi menarik kembali Susi Pudjiastuti untuk menduduki jabatan Menteri Kelautan dan Perikanan lagi, toh pengangkatan menteri adalah hak preogratif presiden.

Masalahnya, memang Bu Susi masih bersedia? Atau kalaupun bersedia, bagaimana dengan Pak Luhut? Karena kita sama-sama tahu, Bu Susi ini termasuk menteri yang pernah berbeda pendapat soal kebijakan dengan Opung Luhut.

Maka dari itu, langkah terbaik Pak Jokowi adalah segera move on. Cari figur menteri yang baru.

Saya yakin, lebih mudah mencari orang yang bersedia menjadi pejabat apalagi setingkat menteri, daripada mencari pemain timnas sepakbola yang prestasinya gitu-gitu aja.

Dan jika Pak Jokowi masih bermimpi mewujudkan kejayaan maritim Indonesia, saya rasa beberapa figur di bawah ini bisa jadi pertimbangan blio untuk diangkat sebagai Menteri KKP yang baru.

Pak Rizieq Shihab

Sekalipun Pak Rizieq (kalau jadi kandidat menteri nyebutnya jadi “pak” dong, bukan “habib”) tidak pernah berurusan dengan kelautan dan kemaritiman, tetapi kemampuan blio menghimpun lautan manusia patut dipertimbangkan.

Ini adalah modal besar untuk merealisasikan program-program blio di kementerian. Ingat, Pak Rizieq adalah Imam Besar FPI, yang selalu menjadi ormas terdepan saat terjadi bencana sekaligus rajin melakukan sweeping bila terjadi kemungkaran.

Bukan tidak mungkin, jika Pak Rizieq menjadi Menteri KKP, FPI akan menjadi garda terdepan dalam melakukan sweeping di lautan. Penyelundupan, ilegal fishing, dan nelayan nakal bersiap-siap lah menghadapi gelombang revolusi akhlak kemaritiman.

Baca juga:  Daripada Pesta Bikini, Lebih Baik Sowan ke Bang Ipul dan Bang Nassar

Dengan militansi anggota FPI, tidak ada tempat bersembunyi lagi untuk pencuri-pencuri kekayaan laut yang nakal. Bahkan FPI bisa saja bekerja sama dengan Angkatan Laut dan instansi terkait lainnya.

FPI yang melakukan sweeping, aparat yang melakukan penangkapan. Kerja sama yang indah bukan? Bahkan bisa jadi kerja sama ini bakal mengakrabkan kembali hubungan antara FPI dengan TNI yang sempat retak belakangan kemarin.

Selain soal keamanan di bidang kelautan, program KKP di bidang peningkatan konsumsi ikan akan lebih mudah dilakukan.

Bagaimana jika PA 212 yang selalu mendukung Pak Rizieq, didorong untuk sering-sering menyelenggarakan aksi di tanggal-tanggal cantik, dengan keharusan menyediakan konsumsi nasi bungkus dengan lauk ikan di dalamnya?

Ini akan meningkatkan angka konsumsi ikan di Indonesia yang masih rendah. Massa 7 juta orang memakan ikan, ini masih yang berkumpul di Jakarta saja lho, ya. Bagaimana jika reuni dilakukan di semua wilayah Indonesia? Revolusioner sekali bukan?

Oleh sebab itu, figur Pak Rizieq sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, adalah yang paling pas.

Tinggal bagaimana kelihaian Pak Jokowi melobi Pak Rizieq. Jika berhasil, ini akan menjadi rekonsiliasi paling fenomenal di abad ini. Lagian, jangan pernah ragukan kemampuan Pak Jokowi dalam melakukan negosiasi. Rival pilpres beliau saja, Pak Prabowo, bersedia jadi menteri di kabinetnya kok.

Nikita Mirzani

Nyai satu ini bisa jadi alternatif lain jika Pak Rizieq tidak bersedia menerima pinangan Pak Jokowi. Nikita Mirzani merupakan emak-emak pemberani yang bahkan melebihi keberanian Bu Risma atau Bu Tejo sekalipun.

Tanpa hujan, tanpa angin, Nikita sempat-sempatnya menyindir Habib Rizieq, yang berakibat ancaman pengepungan rumahnya beberapa laskar. Uniknya, Niki tidak gentar sedikit pun.

Konon selain pemberani dan penuh kontroversi, sebenarnya Nikita Mirzani adalah orang yang sangat dermawan. Salah satu aksi kedermawanannya adalah ikut menyumbang penanganan Covid-19 dengan nominal ratusan juta rupiah.

Dengan sikap kedermawan ini, sudah sepantasnya Pak Jokowi melirik figur Nikita Mirzani.

Dengan keberaniannya, diharapkan nelayan asing yang coba-coba mencuri ikan di lautan Indonesia akan berpikir seribu kali. Sebagai Menteri KKP, saya yakin Nikita akan rajin melakukan patroli di laut, dan sekaligus tak akan segan menantang duel nelayan-nelayan bandel itu. Satu lawan satu kalau perlu.

Baca juga:  Enak Aja, Bahasa Kebumen itu Bukan Jawa Ngapak Ya!

Memang urusan kementerian ini tidak sekadar menjaga laut dari ilegal fishing saja. Sosok Menteri KP selanjutnya harus memiliki visi dan misi untuk memakmurkan masyarakat, khususnya masyarakat nelayan, perempuan nelayan, pembudidaya ikan, petambak garam, dan pelestarian ekosistem pesisir.

Nah, dengan sifat kedermawanan Nikita Mirzani, kemakmuran nelayan sepertinya bukan sekadar impian.

Fadli Zon

Bro satu ini pernah melakukan kritik dan memuji Bu Susi sekaligus. Yah, boleh dibilang, Fadli Zon adalah orang yang cukup fair lah dalam memberikan penilaian kepada kinerja Ibu Susi Pudjiastuti.

“Di tempat lain, kita membangga-banggakan jumlah kapal nelayan asing yang berhasil ditenggelamkan, serta klaim populasi ikan yang meningkat, seolah itu adalah keberhasilan Kementerian Kelautan dan Perikanan,” tulis Fadli Zon di akun Twitternya.

“Padahal, pada saat bersamaan, nelayan kita masih menjadi kelompok termiskin, bahkan sempat menjadi kelompok yang rentan terkena kriminalisasi gara-gara persoalan alat tangkap.”

Kritik Fadli Zon ini, dilontarkan sekitar bulan Februari 2018, ketika Susi Pudjiastuti masih menjabat sebagai Menteri KKP dan rakyat masih sayang-sayangnya kepada Bu Susi.

Pada kesempatan lain, ketika Edhy Prabowo ditunjuk menjadi Menteri KKP menggantikan Ibu Susi, dan berencana membuka kran ekspor benih lobster yang sempat dilarang di era sebelumnya, tak segan Fadli Zon mengingatkan Edhy sekaligus memuji Ibu Susi.

“Saran saya pada Menteri Edhy Prabowo untuk mempertimbangkan masukan dan kritik soal benih lobster,” ujar Fadli Zon.

Nah, bukan tidak mungkin, dengan keahliannya memberikan kritik, bisa jadi beliau mempunyai program khusus di kementerian yang akan membawa era kejayaan bagi dunia kelautan Indonesia.

Apalagi blio adalah salah satu penerima Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Jokowi, yang sudah tidak perlu lagi kita perdebatkan jasa-jasanya bagi Gerindra negeri ini.

Selain itu, Fadli Zon adalah kolega satu partai dengan Edhy Prabowo yang sudah dicopot itu. Jadi visi misi Edhy Prabowo paling tidak sudah diketahui sama Fadli Zon. Ibarat cuma ganti sopir doang ini mah.

Nah, demi mempertahankan jatah kursi Menteri KKP untuk Gerindra, sudah selayaknya Bung Fadli ditunjuk menggantikan Edhy. Apa ya Pak Prabowo sendiri yang harus menjabat jadi Menteri KKP? Biar bisa dobel-dobel jabatan kayak Pak Luhut?

Baca juga:  Rumus Mencari Arti Namamu di Al-Quran ala Gus Nur

Kaesang Pangarep

Ibu Megawati pernah menyampaikan kritik kepada generasi milenial, tentang apa sumbangsih kaum milenial terhadap bangsa dan negara. Dan pada kesempatan itu juga, blio memberi saran ke Pak Jokowi untuk tidak memanjakan generasi satu ini.

Nah, sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuktikan kepada Ibu Mega, bahwa pandangan beliau salah.

Ya, sudah cukup Pak Jokowi memanjakan Kaesang Pangarep dengan memberikan kebebasan bisnis Sang Pisang, Mangkok Ku, Ternakopi, atau ternak lele. Sudah waktunya Kaesang untuk berbakti kepada negeri. Momen yang tepat generasi milenial yang paling dekat dengan Presiden untuk menunjukan kemampuannya.

Dan di satu sisi, Pak Jokowi tidak akan mempunyai beban mental apapun jika mau mengangkat Kaesang sebagai Menteri KKP yang baru. Pak Jokowi mau marah mah marah aja. Tidak perlu menunggu sidang kabinet untuk memarahi Kaesang kalau ada kerjaan yang nggak beres.

Sudah saatnya Kaesang memanfaatkan bonus demograsi Indonesia, dengan kampanye kepada generasi milenial untuk kembali ke laut.

Terlebih lagi nenek moyang kita adalah pelaut, maka jargon Kaesang yang tepat adalah “Sang Moyang”, untuk menumbuhkan kecintaan generasi milenial kepada dunia maritim, mengembalikan kejayaan leluhur bangsa ini.

Jika kampanye ini berhasil, tinggal Kaesang melanjutkan program peningkatan konsumsi makan ikan. Sebagai pengusaha kuliner, tentu ini adalah program enteng buat Kaesang.

Dari yang tadinya bernama Gemar Makan Ikan (Gemarikan), Kaesang bisa menggantinya dengan jargon baru menjadi Sang Ingsang, misalnya. Kan jadi keren punya.

Dengan dibantu chef Arnold Poernomo, hasil laut yang melimpah, dipadukan dengan olahan yang ciamik, sukses jelas menunggu di depan mata. Masyarakat akan menyukai olahan ikan. Tentu ini akan membawa dampak bagi kesejahteraan nelayan, petambak, dan peternak ikan.

Lagipula, masak cuma kakak pertama dan menantu saja yang dapat jatah peluang jadi pejabat? Anak bungsu butuh aktualisasi diri juga dong, Pak Jokowiii.

BACA JUGA Menteri KKP Edhy Prabowo Ditangkap KPK, Fans Susi Pudjiastuti Girang di Media Sosial dan tulisan Santoso M. lainnya.