Stereotyping adalah hal yang mengerikan, lebih mengerikan dibandingkan pertanyaan “kapan kawin?”. Orang cenderung bertanya berdasarkan asumsi yang ada di kepalanya. Asumsi-asumsi ini dipelihara oleh preferensi personal yang ada di benak mereka dan rumit untuk menyangkalnya.

Misalnya, pernah saya mengobrol, saat orang itu tahu istri saya orang Betawi, ia lantas berkomentar,

Oh, istrinya orang Betawi ya? Enak dong, banyak tanah sama kontrakannya.

Itu contoh pertanyaan biadab yang sering saya dapatkan di tengah-tengah obrolan. Jelas menyebalkan. Saat kami sibuk membahas hal penting yang berkaitan dengan hajat umat manusia, seperti betapa naifnya suporter Manchester United yang dulu mencibir Mourinho tapi sekarang memuja dan menyanjungnya, orang ini malah bertanya soal tanah.

Tidak berhenti di sana. Saya juga kerap repot ketika orang tahu di mana dulu saya kuliah. Gara-gara punya gelar sarjana teknik mesin, saya kerap dianggap agen “palu basa”, apa lu mau gua bisa. Misalnya ….

Anak Mesin Itu Bisa Memperbaiki Apa Saja

Eh, kamu kan anak mesin, ini dong tolong benerin!” Ini kalimat yang pernah diajukan seorang teman saat mesin jahit merek Penyanyi miliknya tak bisa berfungsi dengan baik. Sekali lihat saya bisa tahu, mesin jahit itu terakhir kali dilumasi pas zaman kolonial.

Jika saya mengerti prinsip kerja alat tersebut dan mampu memperbaikinya, pasti saya bantu. Tapi, saya hanya sarjana teknik mesin, bukan MacGyver yang bisa menyulap rongsokan jadi bazoka.

Dilema semacam itu juga terjadi di rumah saya sendiri.

Anda ingat saat Juergen Klopp memutuskan mengganti Salah dengan Oxlaide Chamberlain saat Liverpool berhadapan dengan Manchester City 9 September kemarin? Blunder. Akibatnya, sang kiper Mignolet harus rela dijebol gawangnya tiga kali sesudah Chamberlain masuk lapangan.

Kata yang sama pantas buat saya setelah memutuskan bercerita soal pekerjaan saya kepada anak-anak saya.

Sejak saya bercerita kepada mereka bahwa bapaknya ini bertugas mengurus mesin-mesin yang rusak, anak-anak berpikir bapaknya jago soal mesin dan bisa memperbaiki kerusakan mesin apa pun. Celakanya, suatu kali helikopter mainan anak saya salah satu instrumennya macet akibat nyangkut di pohon mangga tetangga sebelah. Ya mereka minta dibetulin. Padahal saya tahu, penjual mainan di Pasar Pagi Asemka tidak memiliki stok spare part helikopter made in Tiongkok tersebut.

Pengalaman lain dialami teman sejawat saya saat kuliah dulu. Kejadian ini terjadi saat kami masih mengenyam tahun pertama kuliah. Itu ketika kami pagi sampai sore hari sibuk dengan urusan menyelesaikan persamaan integral lipat dua atau turunan dengan limit mendekati nol, lalu malam harinya harus melayani hasrat senior yang lucu-lucu dan ingin menularkan kelucuannya tersebut kepada kami para juniornya.

Teman saya, sebut saja A, punya motor kesayangan. Vespa butut. Karena sudah larut malam, teman saya yang lain, sebut saja B, berniat menginap di kos A. Jadilah mereka berdua berboncengan di atas vespa menembus kegelapan malam Bandung.

Saat melintasi ruas Jalan Taman Sari yang bersebelahan dengan Kebun Binatang Bandung yang seumur-umur saya kuliah di sana belum sekali pun saya masuk ke sana, mereka mendengar suara kencang. Mirip raungan gas RX King.

Wuiiih, niat banget itu si RX King nyalip kita ya. padahal kita nggak kenceng-kenceng amat,” celetuk B kepada A.

Iya, gue juga heran,” balas A.

Tak berapa lama mereka merasakan keganjilan. Selain lampu jalanan yang agak redup, mereka tak menemukan satu pun motor yang baru saja melintas. Tak butuh waktu berapa lama untuk mereka sadari bahwa suara keras tersebut berasal dari knalpot si Vespa yang copot dari saluran exhaust dan terlempar sampai beberapa meter di belakang mereka. Apes. Sisa jarak 5 kilo menuju kos harus ditempuh dengan jalan kaki.

Esok harinya mereka berdua membawa vespa tersebut ke bengkel. Sang teknisi dengan cekatan memperbaiki motor pabrikan negeri asal Christian Vieri tersebut.

Ini kabel gasnya juga putus, Mas. Nanti saya ganti,” kata si teknisi.

Sambil bekerja, si teknisi menanyakan beberapa hal tentang si A dan B. Tentu saja termasuk tempat kuliah mereka. Saat mendengar bahwa kedua makhluk lugu dan unyu-unyu tersebut kuliah teknik mesin, si teknisi sempat menghentikan pekerjaannya. Ia lalu memandang iba kedua teman saya tersebut sebelum melanjutkan pekerjaannya lagi.

Sarjana Teknik Mesin Kerja di Bengkel, Pabrik, dan Sebangsanya

Baca juga:  Ketika Porter Nyaris Terangkut di Bagasi Pesawat

Eh kamu anak mesin toh. Pasti kerja di bengkel ya? Atau pabrik mana?” adalah contoh pernyataan sepihak yang disampaikan oknum yang baru 5 menit lalu berkenalan dengan saya.

Kadang kala hal-hal tersebut saya tanggapin dengan jurus ampuh.

“Oh iya, betul, saya anak mesin. Dulu saya kuliah ambil bidang keahlian konversi energi. Yaaa, seputar hukum kekekalan energi dan sebangsanya. Bahwasanya energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan. Dan bahwasanya energi bisa berubah bentuk. Termodinamika, mekanika fluida, perpindahan panas itu contoh-contoh kuliahnya. Bla bla bla ….”

Jurus ini dahsyat efeknya. Entah orang itu mengernyit tanda tak mengerti atau perlahan-lahan ngeloyor pergi.

Tentu saya malas meluruskan prasangka yang keliru tersebut dan menjelaskan bahwa alumni teknik mesin sudah melanglang buana merambah area pekerjaan lain. Tak sedikit teman saya yang bekerja di luar jalur tekniknya, seperti di bank, menjadi analisis keuangan, staf finance, manajer marketing produk rumah tangga, dan sebagainya.

Bahkan salah seorang senior saya ada yang menjadi komentator acara live race Formula One di salah satu stasiun TV. Saya banyak mengetahui seluk-beluk F1 dari artikel-artikel yang ia tulis. Termasuk saat mengetahui apa perbedaan sayap pesawat dan mobil F1.

Untuk pertanyaan tersebut, mungkin Anda pernah bertanya dalam hati, kenapa ya pesawat bisa terbang padahal dimensi dan bobotnya jauh lebih besar dibandingkan mobil F1? Pertanyaan ini kan tidak mungkin Anda ajukan kepada pramugari di pesawat yang sedang asyik memeragakan prosedur keselamatan selama penerbangan. Dan kenapa mobil F1 pun tidak terbang, padahal bobot mobil balap Ferrari hanya sekitar 728 kilo (belum termasuk bobot sopir dan bahan bakar)? Pertanyan ini juga tidak mungkin Anda ajukan kepada kepala crew Ferrari yang sedang sibuk bekerja di pit stop sekalipun Anda mengaku berkerabat dengan Lewis Hamilton.

Pada akhirnya, sebagai sarjana teknik mesin, Anda harus paham sikon yang tepat untuk membicarakan wawasan keilmuan Anda yang ijazahnya Anda capai dengan berdarah-darah.

Terutama kepada pasangan dengan background informatika yang tentu saja memiliki frekuensi pembicaraan yang berbeda dengan kita, sebagaimana yang terjadi antara saya dan istri saya. Alih-alih mengerti penjelasan saya soal metode predictive maintenance yang ampuh untuk menjaga kehandalan (reliability) turbin, kompresor, dan pompa minyak di tempat kerja saya, pertanyaan darinya hanya satu.

Jadi, kapan bonus kamu turun?

Yasalam.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles