• 192
    Shares

Dalam politik, berpindah-pindah partai adalah hal yang biasa, hal yang lumrah. Adanya konflik internal sampai ketidakcocokan visi menjadi alasan yang kerap dilontarkan oleh para politisi yang berpindah partai. Bagi banyak orang, partai memang hanya kendaraan politik, sehingga wajar jika seseorang bisa dengan mudah berpindah partai. Ahok, misalnya. ia bernah berpindah-pindah partai dari PPIB, kemudian pindah Golkar, kemudian pindah lagi ke Gerindra sebelum akhirnya tidak ikut partai manapun.

Perpindahan partai biasanya kerap terjadi menjelang pemilihan legislatif seperti sekarang ini. Di Pileg 2019, misalnya, sudah banyak politisi-politisi yang maju nyaleg dengan berpindah partai, sebut saja nama kontroversial Abraham Lunggana a.k.a Haji Lulung yang berpindah dari PPP ke PAN, ada juga Siti Hediati a.k.a Mbak Titiek yang berpindah dari Golkar ke Partai Berkarya, sampai yang terbaru dan cukup bikin heboh, mantan petinju Chris John yang berpindah dari Partai Demokrat dan berpindah ke Nasdem.

Seperti yang sudah disebutkan, berita soal kepindahan partai seorang politisi tentu adalah berita yang biasa-biasa saja. Namun, khusus untuk kepindahan Yusuf Supendi, hal tersebut tentu saja menjadi perhatian tersendiri.

Bukan apa-apa, sebab, sosok ini adalah legenda dan pendiri PKS, dan ia pindah ke partai yang selama identik sebagai lawan politik PKS, yakni PDIP.

Tak tanggung-tanggung, begitu hijrah ke PDIP, Yusuf Supendi langsung mendaftar sebagai caleg. Menurut Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan DPP PDIP Eva Sundari, Yusuf disebut-sebut akan bertarung di daerah pemilihan Jabar V.

Yusuf Supendi tertarik untuk maju sebagai caleg melalui PDIP karena ia menganggap banyak muslim dan santri yang menjadi kader PDIP.

“Menurut hasil penelitian itu, 70 persen pendukung PDIP itu umat Islam dan santri, 77 persen santri. Saya kan santri, jadi ketemu santri cocok,” ujar Yusuf.

Di partai barunya sekarang, Yusuf mengaku akan berjuang untuk menghilangkan persepsi antiislam, pendukung penista agama, partai yang suka mengkriminalkan ulama, partai PKI, dsb yang selama ini melekat pada PDIP.

“Jika sekarang PDIP dipersepsikan sebagai partai antiIslam dan simpatisan PKI, saya bersama rekan-rekan akan berupaya mengubah persepsi itu,” kata Yusuf.

Yusuf adalah legenda di PKS. Ia sudah menjadi bagian dari PKS sejak partai itu bernama Partai Keadilan pada 1998. Pada titik yang lebih jauh, Yusuf merupakan salah satu pendiri dan deklarator partai dakwah tersebut.

Lulusan Universitas Imam Muhammad Ibn Saud Riyadh Saudi Arabia ini merupakan salah satu generasi pertama dari gerakan Tarbiyah yang ada di Indonesia, gerakan yang kelak berubah bentuk dan menjadi cikal bakal Partai Keadilan Sejahtera.

Dengan rekam jejak tersebut, tak heran jika banyak yang heboh ketika dirinya akhirnya merapat ke PDIP.

Kelihatannya memang benar apa kata orang-orang dalam guyonannya: “Semua akan PDIP pada waktunya.”

Sekarang Yusuf Supendi, besok siapa tahu Anis Matta, Hidayat Nur Wahid, atau Mardani Ali Sera.

Sekali lagi, siapa tahu. (A/M)