• 1.3K
    Shares

Dalam durasi yang sebetulnya tidak terlalu lama, tagar #PrabowoTdkBisaSholat sempat menjadi trending topic di lini masa Twitter di Indonesia.

Di Twitter, tagar #PrabowoTdkBisaSholat banyak digunakan (utamanya) oleh para pendukung Jokowi untuk membandingkan Prabowo dan Jokowi dalam perkara salat.

Belum dapat diketahui secara pasti apa yang menjadi pemicu munculnya tagar tersebut. Namun, kemungkinan besar memang didasari pada kenyataan bahwa Prabowo sangat jarang terjepret kamera wartawan saat sedang salat. Berbeda dengan Jokowi yang kerap terjepret kamera saat sedang salat jamaah, utamanya sebagai imam, baik dalam kapasitasnya sebagai presiden, maupun sebagai calon presiden yang sedang berkampanye.

Tagar tersebut sangat ramai, bahkan sampai melibatkan banyak tokoh. Beberapa akun resmi partai bahkan ikut di-mention dalam percakapan terkait tagar tersebut.

Gerindra sebagai partai yang paling kena dampak terhadap munculnya tagar #PrabowoTdkBisaSholat pun ikut angkat bicara.

Hal tersebut bermula saat ada seorang pengguna Twitter dengan akun @arienoviandi menuliskan twit serangan terhadap kubu koalisi Prabowo.

“Tagar #PrabowoTdkBisaSholat trending sebenarnya merupakan teguran kepada @PKSejahtera dan PAN sebagai partai berbasiskan Islam, tapi tetap memilih @prabowo,” begitu tulis @arienoviandi.

Akun Twitter resmi Gerindra @gerindra pun langsung menanggapi.

Menurut Gerindra, salat selalayaknya tidak perlu dipamer-pamerkan, sebab ibadah adalah urusan antara manusia dengan Tuhan.

“Ibadah bagi agama apapun adalah bukti nyata perbuatan atau bakti manusia kepada Sang Pencipta,” tulis akun @Gerindra. “Ibadah sebaiknya hanya diketahui Sang Pencipta, tanpa harus dipamerkan ke teman ataupun keluarga, bahkan kepada khalayak. Keikhlasan dalam beribadah merupakan poin penting yang menunjukkan bakti manusia kepada Sang Khalik, bukan kekaguman ataupun apresiasi dari orang lain.”

Munculnya tagar #PrabowoTdkBisaSholat sedikit banyak memang menjadi bukti bahwa sentimen agama masih akan tetap dipakai dalam perhelatan kampanye Pilpres 2019 mendatang. Bedanya, kali ini yang menggunakannya kemungkinan besar justru para pendukung Jokowi, yang memang secara isu punya angin yang lebih unggul.

Maklum saja, di Pilpres mendatang, Jokowi perpasangan dengan KH. Ma’ruf Amin yang memang seorang ulama, sedangkan kubu Prabowo yang selama ini dikenal begitu dekat dengan kelompok ulama (bahkan sampai ikut terlibat dalam acara Ijtima Ulama) justru mengusung Sandiaga, sosok yang jelas-jelas bukan ulama, bahkan santri sekalipun.

Yah, mari kita berdoa, semoga sentimen agama yang dipakai di Pilpres mendatang tidak akan separah dan sekejam seperti pada Pilkada Jakarta beberapa waktu yang lalu, yang sampai membuat seorang muslim tak mau menyalatkan jenazah saudara seimannya hanya karena beda pilihan politik. (A/M)