Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Kedapatan Belanja di Toko Bangunan, Setya Novanto Dipindah ke Lapas yang Lebih Ketat

Redaksi oleh Redaksi
18 Juni 2019
A A
setya novanto
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Setya Novanto dipindahkan dari Lapas Sukamiskin ke Lapas Gunung Sindur setelah kedapatan sedang berbelanja di toko bangunan di Padalarang, padahal yang bersangkutan sedang dalam masa tahanan.


Bukan Setya Novanto kalau tidak bikin perkara. Terpidana kasus korupsi KTP elektronik (e-KTP) tersebut baru-baru ini bikin heboh pemberitaan karena pada Jumat, 14 Juni 2019 lalu, ia kedapatan sedang pelesir di salah satu toko bangunan di Daerah Padalarang, padahal yang bersangkutan sedang dalam masa penahanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

Usut punya usut, ternyata Setnov, menurut Kalapas Sukamiskin Tejo Harwanto, memang sedang melakukan pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Santosa, Bandung. Tejo mengatakan bahwa saat memeriksakan kesehatannya, Setya Novanto dikawal oleh petugas pengawal Lapas. Entah bagaimana ceritanya Setya Novanto kemudian bisa kepergok berbelanja di toko bangunan (Dan konon sedang berbelanja keramik).

Atas insiden tersebut, Kanwil Hukum dan HAM Jawa Barat pun langsung memeriksa petugas pengawal narapidana.

Tak cukup di situ, Kepala Kantor Wilayah Kemenkum HAM Jawa Barat, Liberti Sitinjak pun langsung menyampaikan permintaan maafnya atas kelalaian dan keteledoran pengawalan izin berobat Setnov.

Tindak lanjut atas insiden memalukan tersebut, Kementerian Hukum dan HAM langsung memindahkan Setya Novanto ke Lapas Gunung Sindur yang dikenal lebih ketat dengan sistem one man one cell, di mana Lapas tersebut selama ini lebih dikenal sebagai Lapas khusus narapidana terorisme.

“Jadi karena pelanggaran berat, saya hukum dulu dia di situ, biar dia kapok,” terang Liberti Sitinjak. “Saya bilang kita sudah berjuang tapi perilaku narapidana itu tetap menjadi ukuran buat dia tentang dia menjalani hidupnya. Itu risiko kita. Saya hukum dia ke Gunung Sindur biar kapok, kalau gak kapok-kapok, gak tau musti diapain lagi.”

“Insiden per-Lapas-an” yang melibatkan Setya Novanto ini bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya, Papa setnov sempat beberapa kali “berulah”. Pada pertengahan tahun 2018 lalu, misalnya, ia bikin heboh karena diduga menempati sel palsu di Lapas Sukamiskin Bandung. Dugaan penggunaan sel palsu tersebut muncul dalam sidak yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham di Lapas Sukamiskin yang saat itu disiarkan secara ekslusif dalam acara Mata Najwa.

Ulah berikutnya adalah ketika Setya Novanto terlihat di Restoran Padang, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat pada April 2019 lalu. Padahal, ia masih berada dalam masa tahanan.

Nah, insiden pelesiran di Padalarang beberapa waktu yang lalu semakin menambah “kenakalan” Setnov.

Pemindahan Setya Novanto ke Gunung Sindur boleh jadi tidak akan mengurangi kenakalan Setya Novanto. Sebab yang jadi persoalan sebenarnya bukan perkara Setya Novanto-nya, tapi sistem Lapasnya. Kalau sistem pengawasan Lapasnya buruk, ditambah yang diawasi adalah orang sekaliber, selicin, dan sekaya Setya Novanto, maka insiden keluar masuk penjara seenaknya itu tidak bisa dihindari.

Lha Setya Novanto itu, tiang listrik yang keras saja dia tabrak, apalagi cuma aturan Lapas, yang terlihat sangat “lembek” dan “lentur”.

setya novanto

Terakhir diperbarui pada 18 Juni 2019 oleh

Tags: lapasSetya Novanto
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

narapidana di lp wirogunan mojok.co
Hukum

1.099 Warga Binaan Peroleh Remisi, Wajah LP Wirogunan Kini Lebih Humanis

16 Agustus 2022
rokok jadi mata uang di penjara
Liputan

Mantan Penghuni Lapas Bercerita Bagaimana Rokok Menjadi Mata Uang di Penjara

8 Mei 2022
squid game mojok.co
Esai

Drama Squid Game versi Indonesia: Ambil Uang Dulu, Main Kemudian

28 September 2021
Pojokan

Membayangkan Sikap Kemenkumham kalau yang Terbakar Adalah Lapas Koruptor

11 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Supra Fit: Motor Honda yang Bikin Kecewa dan Gak Bikin Bangga MOJOK.CO

Supra Fit: Motor Honda yang Nggak Bisa Saya Banggakan Bahkan Sempat Bikin Kecewa, tapi Justru Paling Berjasa Sampai Sekarang

21 April 2026
Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO

Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera

23 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
iPhone 6 dan 7 lebih diminati gen Z

iPhone Jadul Bangkit Kembali Berkat Gen Z, Kualitas Foto “Tak Sempurna” Malah Dianggap Unggul daripada Keluaran Terbaru

20 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.