MOJOK – Nonton Thomas Cup niatnya ingin lihat kehebatan Kevin Sukamuljo/Marcus Gideon malah dibikin deg-deg-ser sama pertandingan penentu si tunggal putra, Firman Abdul Kholik. Enggak apa-apa deh bikin jantungan yang penting Indonesia menang 3-2 lawan Korea Selatan (Korsel).

Dua pertandingan pada babak penyisihan Kejuaraan Thomas Cup 2018 menyisakan banyak cerita untuk tim putra Indonesia. Beberapa mata tentu saja tertuju pada peforma gemilang ganda putra Kevin Sukamuljo/Marcus Gideon yang sepanjang 2017 dan pertengahan 2018 punya rekor mentereng 19 pertandingan tak terkalahkan di seluruh turnamen yang diikuti.

Sayangnya, rekor tersebut pada akhirnya keok juga pada pertandingan kemarin (22/5) pada babak penyisihan Thomas Cup 2018 di Thailand. Betul memang, Indonesia bisa mengalahkan tuan rumah dengan skor akhir 4-1, akan tetapi satu poin yang didapat Thailand justru diraih dari Kittisak Namdash/Nipitiphon Phuangphuapet yang mengalahkan Marcus/Kevin sang peringkat satu ganda putra dunia.

Peforma Marcus yang baru beberapa waktu sebelumnya melakukan pernikahan ini cukup jadi catatan menarik. Marcus terhitung sampai lima kali melakukan kesalahan pada pukulan pertama. “Ya gimana ya? Fault terus saya kayak baru main kemarin aja,” kata Marcus. Tentu saja hal itu mengganggu kosentrasi Marcus karena, “jadi pincang satu, dia (Kevin) doang yang servis,” tambahnya.

Seperti yang diketahui bersama, batas pukulan pertama memang baru diganti regulasinya. Setelah sebelumnya menggunakan tinggi rusuk terbawah pemain sebagai ukuran, sejak All England 2018 Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) menggunakan satu standar, yakni 115 cm dari permukaan tanah.

Baca juga:  Inilah Calon Ketua Umum PSSI yang Bisa Gantikan Edy Rahmayadi versi Mojok

Marcus dan Kevin yang memiliki tinggi badan tidak sampai 170, tentu lumayan diuntungkan, tapi pada kenyataannya di Thomas Cup pada pertandingan melawan tuan rumah, Marcus malah kelimpungan menghadapi wasit servis. Ya, sudahlah, Cus, Marcus, fokus ke pertandingan-pertandingan berikutnya aja. Enggak guna juga protas-protes. Fokus sama peforma aja, kita dukung semua kok.

Peforma yang tidak begitu bagus pada pertandingan pertama dibalas tuntas oleh keduanya saat melawan tim Korea Selatan (23/5), pada pertandingan kedua tim Indonesia, mereka melawan Cung Seok/Kim Won. Setelah Anthony Ginting pada tunggal pertama kalah melawan Son Wan Ho lewat pertandingan sengit, tim Indonesia bisa bernapas lega karena Marcus/Kevin memberi nafas dengan menyamakan kedudukan 1-1.

Meskipun begitu, cerita kekalahan Thomas Cup karena belum punya tunggal putra mumpuni sempat menghampiri tim Indonesia. Kekalahan dua tahun silam melawan Denmark di Final Thomas Cup 2016, jadi bayang-bayang yang menakutkan saat menghadapi Korsel.

Sebab, dua kali unggul di ganda putra itu jelas tidak menjamin, soalnya tunggal putra punya jatah tiga main. Dan di sanalah kekuatan bulutangkis putra Indonesia belum benar-benar mentereng. Saat Anthony Ginting dan Jonathan Christie keok melawan tunggal Korsel, kemenangan ganda putra gaek Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan tidak bikin kita jadi lega. Sebab pertandingan penentu jatuh lagi pada tunggal putra.

Pada pertandingan kelima inilah jantung suporter Indonesia dibikin deg-deg-ser. Aktornya siapa lagi kalau bukan Firman Abdul Kholik. Pemain ini memang sempat bikin salah fokus karena jarang-jarang ada pemain bulutangkis Indonesia kidal. Melihat seorang pemain tunggal bulutangkis Indonesia kok pegang raket pakai tangan kiri, jelas bayang-bayang harapan, “Wah enggak sunah enggak apa-apa deh, yang penting bisa kayak Lin Dan” muncul serta-merta.

Baca juga:  Menang Semua! Final Bulutangkis Ganda Putra Asian Games 2018 All Indonesia

Masalahnya, kenyataannya di lapangan tidak seperti itu.

Di tiga gim, Kholik membuat kita beberapa kali mesti menyebut Sang Kholik karena benar-benar mau bikin serangan jantung seluruh rakyat Indonesia yang sedang menonton pertandingannya.

Lha gimana?

Kholik selalu mampu unggul jauh di tiap gim-nya. Di gim pertama, Kholik sempat sampai titik game point, ketika lawannya, Ha Yong Woong, hanya dapat poin 14. Kholik 20, si lawan cuma 14. Sekilas ini akan jadi pertandingan mudah untuk Kholik. Eh, ternyata satu demi satu Kholik mati alus dan bikin lawan poinnya semakin mendekat.

Pukulan keluar, kadang kena net, pengembalian enggak sempurna. Sampai-sampai, si lawan dari Korsel bisa membalikkan keadaan jadi 22-20. Tentu saja sumpah serapah di depan layar televisi tak bisa dihentikan. Hal demikian lagi-lagi terulang di gim kedua—bahkan sampai ketiga. Bikin penonton mau keluar untuk berak saja jadi tidak sempat. Untung, atas kehendak Sang Kholik, Kholik bisa menang dan bikin tim Indonesia menang 3-2. Sekaligus mengamankan tiket ke babak selanjutnya.

Di tengah-tengah ketegangan itu, salah seorang penonton di kantor Mojok nyeletuk, “Mbah-nya temenku sampai kena serangan jantung gara-gara nonton badminton beginian. Sampai dibawa ke rumah sakit. Waktu dokter UGD-nya nanya, ‘Kenapa Mbah?’, ‘Abis nonton badmintoon’. Ealah, bener-bener enggak keren blas.”