• 99
    Shares

MOJOK.CO – Mojok Institute melakukan sensus kepada Netizen Twitter, Facebook, dan Instagram untuk mengetahui stereotip apa yang menempel pada jurusan kuliah mereka.

Menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Zimbabwe, jumlah mahasiswa yang ada di Indonesia hanya sekitar 2,3% dari total 250 juta penduduk Indonesia. Sedikitnya jumlah mahasiswa ini berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia yang Mojok Insitute merasa tidak perlu membahasnya karena kami bukan tirto wqwq.

Bodo amat dengan kualitas SDM wqwq, yang lebih penting untuk kami bahas dari data BPS mengenai 2,3% jumlah mahasiswa di Indonesia adalah: korelasi langkanya spesies mahasiswa di Indonesia dengan banyaknya miskonsepsi yang membuat mereka kesulitan untuk menjelaskan jurusan kuliah mereka ketika masa kumpul keluarga yang berdampak pada munculnya percakapan tebak-tebakan seperti ini:

A: Kamu tuh kuliah jurusan apa, nduk?

B: HI, Budhe.

A: Hmm? Hukum Islam?

B: Mboten Budhe, HI itu Hubungan Indah yang gagal dijalin bersamanya Internasional, Budhe.

A: Itu kuliahnya di luar negeri??

B: Mboten Budhe, kulo kan kere, kuliahnya di kelas kayak kuliah biasa.

A: Lah, terus Internasionalnya di mana???

B: ????

A: ????

B: kulo oleh njaluk dicopot saka kertu keluarga?

Bukan hanya di acara keluarga sih, terkadang spesies mahasiswa ini ya susah juga menjelaskan jurusan kuliah mereka ke teman sebaya, apalagi jurusan kuliahnya sedikit njelimet seperti ini:

A: Halo ma men, What’s app line, instagram, bbm? U Kuliah jurusan apa? 

B: Radiologi, bro .

A: Oh kuliah jadi penyiar radio.

A: ???? 

Melihat fenomena yang sering terjadi namun jarang dibicarakan ini, Mojok Institute bermaksud untuk melakukan sensus kepada spesies mahasiswa di Jamaah Mojokiyah se alam sosial media untuk menjelaskan stereotip apa yang sering diberikan kepada jurusan kuliah yang mereka pelajari di kampus.

Tujuan sensus ini adalah untuk menjadi pengantar dalam memahami jurusan kuliah dari kacamata orang-orang awam yang harusnya membuat spesies mahasiswa ini lebih sadar akan peran mereka sebagai agen of change untuk setidaknya membuat mereka nggak gabut dengan berusaha merubah stereotip jurusan kuliah itu.

Hasil Sensus

Berikut adalah hasil sensus kami yang sudah Mojok Institute kelompokan berdasarkan fakultas yang (((menaungi))) jurusan-jurusan tersebut:

Stereotip Jurusan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Ghaib

Mahasiswa FMIPA ketika pertama kali mengenalkan diri pasti sudah bosan dengan tuduhan bahwa mereka adalah mahasiswa pintar, jeniyus, dan terlahir untuk menghitung dan mengorek segala misteri yang ada di dunia ini. Stereotip yang melekat di jurusan-jurusan di FMIPA adalah:

Matematika: Pinter ngitung tanpa kalkulator.

Kimia: Bisa bikin bom.

Astronomi: Ngerti banget Virgo cocoknya pacaran sama zodiak apa.

Fisika: berambut gondrong dengan botak di tengah-tengah seperti Einstein.

Biologi: Cuman belajar tumbuhan dan hewan-hewan. ***Padahal belajar reproduksi juga 😉

Baca juga:  Masa Depan Mahasiswa Sastra Indonesia yang He He He

Statistika: Kalau sudah lulus jadi tukang sensus kecamatan.

Stereotip Jurusan di Fakultas Sastra

Mahasiswa Sastra, pertama kali memperkenalkan diri pasti sudah lelah dengan pertanyaan “Ng4p41n kul14h b4h454? k4n b154 l3s?”. Secara spesifik, stereotip yang menempel di jurusan fakultas sastra adalah:

Bahasa dan Sastra Indonesia: “Belajar bahasa indonesia aja kok kuliah sih?”, sering dianggap kamus berjalan, penyair, dan tukang pidato.

Sastra Jawa: Jago baca primbon, setelah lulus karir utamanya adalah jadi paranormal, dan MC manten.

Sastra Inggris: Pasti jago cas cis cus bahasa inggris. “Sudah lulus mau jadi penerus Pein Akatsuki/Lebih Ganteng, yhaa?”

Sastra Jepang: Otaku, vvibu, vvota.

Sastra Korea: KPOPers halu.

Sastra Rusia: “Kamu k0mun15, yhaa?” 

Stereotipe Jurusan di UIN/Fakultas Agama 

Mahasiswa UIN atau yang belajar Ilmu agama, pertama kali memperkenalkan diri pasti langsung malas menyanggah kalau dikira pak ustaz, pandai bahasa arab, dan sudah sodaqallah hul’adzim atau khatam kitab kuning. Stereotip yang menempel di jurusan-jurusan ilmu agama adalah:

Ilmu Quran: Sudah lulus mau jadi marbot mesjid…

Hukum Islam: Sudah lulus jadi penghulu atau petugas KUA.

Stereotipe Jurusan di Fakultas IT

Mahasiswa IT pertama kali memperkenalkan diri pasti langsung dicap sebagai mahasiswa cupu, gamers ansos, dan vvibu. Stereotip jurusan di fakultas IT adalah:

Jurusan Teknik Informatika: Jago coding dan bisa menghack semua akun sosial media 🙂

Jurusan Teknik Komputer: Bisa memperbaiki laptop dan printer, bisa install ulang software bajakan gratis, prospek karirnya sering dikira hanya jadi penjaga warnet.

Stereotip Jurusan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Fakultas FISIP sering juga disebut Fakultas ilmu santet dan ilmu pelet karena mahasiswanya terkenal cantik-cantik sehingga bisa menghasilkan pelet untuk pakan ikan. Eh, itu beda. Stereotip jurusan di FISIP adalah:

Ilmu Komunikasi: A profesional bacod talker, lulusnya jadi MC, “kuliahnya gampang, yhaa?”, “Ngapain sih komunikasi pakai harus kuliah segala, setiap hari kan kita sudah berkomunikasi.”

Ilmu Perpustakaan: Tukang nyampulin buku/nata buku di perpus kampus.

Ilmu Politik dan Pemerintahan: Sudah lulus prospek kerjanya cuman jadi caleg~

Anak HI: “Ciee mau jadi diplomat”, “Wah kamu anak HI? Pasti bisa 1923 bahasa, yhaa?”

Stereotipe Jurusan di Fakultas Hukum 

Karena FH biasanya jurusannya cuma jurusan hukum, stereotip yang menempel pada mereka hanya satu. Yaitu, tajir melintir kayak Hotman Paris, unch.

Stereotipe Jurusan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis

FEB adalah fakultas paling bergengsi karena dianggap akan memiliki masa depan cerah dengan bekerja sebagai… teller di bank…

Mahasiswa FEB, sama halnya dengan mahasiswa FISIP dan FH biasanya menjadi primadona kampung kampus karena cakep-cakep dan mobilan semua. Stereotip yang menempel di jurusan yang ada di FEB adalah:

Akuntansi: Kuliahnya halu, ngitungin duit yang nggak ada. Kalau sudah lulus kerja jadi teller bank.

Baca juga:  Cita-cita Kok Jadi Barista, Keren Sih tapi Yakin?

Manajemen: Kuliahnya banyak belajar cara menjadi pengusaha tapi kalau sudah lulus tetap saja kerja jadi teller bank. 

Pajak: “Penerusnya Gayus, yhaa?”

Stereotipe Jurusan di Fakultas Lalapan (Pertanian, Peternakan, Kelautan)

Karena kami capek menjelaskan stereotip per fakultas, langsung aja to the point ke stereotip jurusan aja ya :((

Perikanan: Sudah lulus mau ternak lele atau mau jadi nelayan. Panutan mereka adalah Bu Susi Pudjiastuti.

Pertanian: Ahli membajak sawah dan cocok jadi tukang pacul sawah.

Peternakan: Kuliahnya jorok mainan feces hewan ternak. Iywhh.

Stereotipe Jurusan di Fakultas Kehutanan

Kehutanan: Kuliahnya cuman masuk ke luar hutan. Bisa ketemu singa, harimau, dan badak. Eh sebentar, ini kuliah atau training jadi Tarzan??

Stereotipe Jurusan di Fakultas Perhotelan dan Pariwisata

Jurusan Perhotelan: “Sudah lulus jadi resepsionis hotel, yhaa?”

Jurusan Pariwisata: Kuliah tapi isinya jalan-jalan tok.

Stereotipe Jurusan di Fakultas Kesehatan 

Psikologi: Bisa baca pikiran orang, kuliah sambil menyembuhkan penyakit jiwa sendiri.

Perawat: Calon istri idaman karena pandai merawat~ Muak dengan gombalan “Aku juga mau dong dirawat kamu :3”

Kedokteran: Pasti orang kaya.

Kedokteran gigi: Pasti orang-orang yang nggak lulus kuliah kedokteran umum.

Kebidanan: Calon-calon istri perwira.

Kedokteran Hewan: Pasti orang yang benci manusia lalu mencari pelarian dan kasih sayang ke hewan.

Stereotipe Jurusan di Fakultas Filsafat dan Ilmu Sejarah

Filsafat: “Hati-hati kalau nggak kuat iman nanti jadi gila dan atheis”

Ilmu Sejarah: Pasti isinya orang-orang yang nggak bisa move on.

Stereotipe Jurusan di Fakultas Desain 

DKV: Kuliah cuman gambar doang, “Kamu jago gambar, kan? Gambarin mukaku dongg.”

Stereotipe Jurusan di Fakultas Teknik 

Terakhir, fakultas teknik adalah fakultas yang terkenal selalu dikambing hitamkan ketika ada kesalahan karena sering dibilang kesalahan teknik. Eh itu kesalahan teknis hehehe. Maafin kalau nggak lucu :((

Mahasiswa Fakultas Teknik selalu terkenal dengan kekompakan mereka. Terbukti dari kesamaan rambut botak di semester awal, dan rambut gondrong menuju semester akhir. Isinya mayoritas laki-laki yang berusaha menggebet mahasiswi FISIP, FEB, dan FH tapi selalu ditolak karena, “ngaca mz, u kumal dan bau oli :((” Stereotip jurusan di fakultas teknik adalah:

Geologi: Kuliahnya gali tanah dan cari batu.

Teknik pertambangan dan Perminyakan: Tempat bersembunyinya menantu idaman yang memiliki masa depan cerah. Tapi dibenci oleh banyak jurusan lain wqwq.

Arsitektur: Kuliah yang isinya cuman gambar-gambar aja.

Teknik elektro: Tukang servis alat elektronik.

Teknik Mesin: “Habis lulus buka bengkel yha, mas?”

Teknik Sipil: Wah bakal jadi pegawai negeri sipil nih.

Teknik lingkungan: Kuliahnya menyelamatkan lingkungan dengan bersihin sampah.

***

Seperti biasa, berikut adalah jawaban terbaik versi Mojok Institute yang berhak mendapatkan hadiah:

kopi_kemaren: Mending ga komen aku, njogo perasaane pemred mojok 🙂
nisalimah: Sosiologi: Ilmu orang kafir 🙁 🙁 🙁 🙁
June: Kesejahteraan Sosial: Lah emang hidup kamu udah sejahtera so soan mau sejahterain hidup orang lain (?)

Gimana? Relatable AF kan?? Ada jurusan kuliah kamu yang belum dicantumin di sana nggak? Kalau ada bisa dong jawab di komen~

Kalau jurusan redaksi Mojok Institute sih nggak ada stereotipnya sama sekali. Soalnya, jurusannya jurusan mencitai mbaknya apa adanya :3 uwuwuwu~

  • 99
    Shares


Loading...



No more articles