Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Rame Nafkah

Jalan Jihad Petani Garam Tradisional

Redaksi oleh Redaksi
29 Juli 2017
A A
NAFKAH petani GARAM Mojok

NAFKAH petani GARAM Mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Diyakini atau tidak, perkara garam adalah perkara yang amat krusial. Bayangkan, jika tak ada garam, masakan akan jadi kurang sedap. Jika masakan kurang sedap, para suami akan lebih memilih makan di luar. Jika suami banyak makan di luar, hubungan dengan istri akan makin merenggang. Jika hubungan suami istri makin merenggang, maka akan bisa menimbulkan perceraian. Jika timbul perceraian, maka anak-anaknya bakal tidak terurus dengan maksimal. Jika anak-anak tidak terurus dengan maksimal, maka generasi muda akan terancam. Jika generasi muda terancam, maka negara dalam bahaya besar.

Lihat, betapa karena urusan garam semata, sebuah negara bisa sampai terancam.

Iklan

Karenanya, tak berlebihan jika menyebut petani garam tradisional adalah profesi yang mungkin punya derajat tinggi di mata Tuhan. Mereka berjuang untuk kemaslahatan negara melalui rasa asin yang dihasilkan oleh garam mereka. Bagi mereka, bertani garam bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan jihad.

Membikin garam bukan pekerjaan yang mudah. Tak banyak orang yang cukup sabar dan telaten untuk menjalaninya.

Untuk bisa menghasilkan garam, para petani harus menjemur air laut di semacam petak-petak sawah yang rata. Air laut ini dijemur agar menguap dan meninggalkan kristal-kristal garam. Bayangkan, ketika manusia lain sibuk mengeringkan air mata, para petani garam harus sibuk mengeringkan air laut.

Proses penjemuran ini memerlukan waktu sampai berhari hari. Nah, kristal garam yang terbentuk ini kemudian dicuci agar kotoran yang terbawa air laut bisa dihilangkan. Setelah dicuci bersih, kristal ini kemudian dijemur kembali agar kering dan baru kemudian siap dikemas dan dijual.

Dengan hasil kerjanya yang berat dan penuh ketelatenan ini, petani garam kerap harus gigit jari, sebab harga garam produksinya kerap diserap dengan harga murah di pasaran. Kadang tak sampai seribu rupiah untuk setiap plastiknya. Harga yang kerap tidak sebanding dengan usaha yang sudah dikeluarkan.

Namun begitu, banyak dari para petani ini tetap sabar dan menjalani laku hidupnya sebagai petani garam, yah, walau jumlahnya setiap waktu semakin berkurang. Maklum, memang lebih enak menjadi pembeli garam ketimbang petani garam. Semua orang waras paham betul akan hal itu.

Yah, begitulah. Jalan jihad memang tak pernah indah.

INFOGRAFIK petani garam mojok

Terakhir diperbarui pada 30 Juli 2017 oleh

Tags: asingaramMasakanpetani
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten dan dirikan KOMSAH. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Menjadikan Tengkulak Sebagai Musuh Petani adalah Gagasan Konyol yang Nggak Akan Sejahterakan Petani MOJOK.CO

Menjadikan Tengkulak Sebagai Musuh adalah Gagasan Konyol yang Nggak Akan Sejahterakan Petani

2 Maret 2026
Pupuk Organik Buatan Sendiri Jadi Andalan di Tengah Krisis Bertani

Pupuk Organik Buatan Sendiri Jadi Andalan di Tengah Krisis Bertani

15 Juli 2025
Beras Bulog capai 4 juta ton. MOJOK.CO

Stok Beras Bulog Capai 4 Juta Ton, Lalu Gunanya untuk Rakyat Apa kalau Harganya Masih Anomali?

2 Juni 2025
bti, petani, tani.MOJOK.CO

Rumus “3S-4J-4H” Wajib Dijalankan Pemerintah Kalau Mau Petani di Indonesia Maju

28 Januari 2025
Alih Fungsi Lahan Jadi Masalah Serius Petani di Sleman, Tapi Malah Diabaikan Bupatinya.MOJOK.CO

Petani Indonesia Belum Merdeka, Di Hari Kemerdekaan RI ke 79 Petani Malah Nelangsa

18 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.