Tanya

Dear Mojok….

Sebagai mantan playboy-cum-konsultan asmara, sebetulnya saya tidak benar-benar punya masalah perihal asmara. Jatuh cinta. Patah hati. Jatuh cinta lagi. Patah hati lagi. Begitu terus, sebagaimana yang dialami klien-klien. Tapi kali ini beda. Hal yang sedang saya alami dan rasakan ini bukan soal percintaan anak remaja dengan segala keresahannya. Ini tentang suatu yang sakral. Orang-orang menyebutnya: pernikahan.

Setelah 73 kali berpacaran dan semuanya kandas, saya berpikir untuk memantapkan diri maju ke depan penghulu. Tapi, ternyata niat baik saja tidak cukup. Kali pertama saya melamar seorang gadis, meski lamaran itu tidak resmi sebagaimana keluarga bertemu keluarga, gadis itu lebih memilih kembali bersama masa lalunya. Kedua kali, lalu ketiga kali, begitu juga. Lamaran kedua dan ketiga ini lucu sekali. Beberapa saat mereka menjauh, lalu mendekat lagi. Terakhir kali akhirnya saya berpikir untuk melupakan perasaan saya kepada keduanya, tentu ini saya amati dari bagaimana mereka bersikap.

Seperti yang sudah saya tuliskan, niat baik saja tidak cukup. Yang saya takutkan bukanlah saya tidak dapat membahagiakan pasangan saya kelak. Dalam cerita pendek berjudul “Pernikahan yang Hampa”, kegetiran itu justru muncul dari satu sisi: masa lalu pasangan. Saya terus berusaha mengubur dalam-dalam kenangan, termasuk kenangan bersama ke-73 mantan pacar saya itu. Memang tidak mudah. Tapi mungkin memang tidak baik membahas masa lalu, apalagi jika pasanganmu mudah meragukan perasaannya sendiri.

Saat ini saya sedang dekat dengan seorang perempuan. Ia mau jadi pembaca pertama cerpen-cerpen saya yang tak kunjung dimuat di beberapa media. Ia juga tahu bahwa misal dalam beberapa bulan ia bisa sayang sama saya, kami tidak akan pacaran. Kami akan menikah. Tapi seseorang bisa berbeda sikap seketika. Dua menit lalu ia mungkin menganggap kamu seorang yang layak dicintai. Dua menit berikutnya bisa saja mantan pacarnya membuat ia berpikir bahwa hubungan kalian ya tidak ke mana-mana. Ia menginginkan kalian tetap berteman, dan ia kembali menjalin hubungan dengan seseorang di masa lalunya. Mungkin saja, to? Hehehe…. Yang sudah tunangan saja bisa batal nikah, gimana yang baru kepengin? Hehehe….

Baca juga:  Agar Nonton Film Bareng Pasangan Bisa Lebih Berarti

Menurut Cik Prim dan Gus Mul, saran apa yang cocok buat saya, selain kerja yang rajin, tetap sayang keluarga, peduli terhadap teman, atau sekadar jadi seorang yang menyenangkan bagi orang lain?

Salam melow,

Tri Em di Jakarta

 

Jawab

Dear Tri

Sebagai orang yang hanya pernah pacaran lima kali, jujur saya gentar menjawab pertanyaan Anda. Dari segi pengalaman, 73-5 itu bukan angka yang kecil. Tidak banyak olahraga yang bisa menyandingkan skor dengan perbandingan demikian. Jika skor seperti itu terjadi di sebuah pertandingan sepakbola, saya yakin semua anggota tim yang kalah pasti langsung pensiun dan memilih jadi polisi saja.

Tapi, kemudian saya teringat pada seorang kawan yang pernah diterima cintanya pada pukul 12 siang dan kemudian diputus pada pukul 3 dini hari keesokan harinya. Mengingat itu, rasa minder saya terobati. Setidaknya saya manusia yang pernah pacaran selama dua tahun, bukan ayam.

Tri yang baik,

Semangat Anda mencari cinta sungguh saya apresiasi, menjurus pada dedikasi Arjuna. Namun, yang saya khawatirkan adalah meskipun kamu masih terbayang-bayang masa lalu, kamu tidak belajar darinya. Saya pikir hal paling lumrah setelah 73 kali kandas dalam percintaan adalah memutuskan bahwa “cinta tu bullshit” atau “semua cewek itu munafik”, mengutip seorang kawan yang kisah cintanya naas. Namun, effort-mu yang bahkan menaikkan tingkat kesulitan dengan mengubah target dari “cari pacar” ke “cari istri” sungguh luar biasa. Orang Jawa Timur akan bilang, kapokmu kapan?

Baca juga:  Maafkan Kami yang Terlalu Lebay dan Manja saat Puasa

Walaupun demikian, saya kira tidak sehat meringkus takdir percintaan dalam target-target. Cinta yang demikian menjadi cinta yang terukur dan melelahkan, kuantitasnya tinggi tapi kualitasnya rendah. Saya pikir, hari ini masyarakat sudah lebih terbuka untuk menerima bahwa pernikahan bukan lagi suatu kewajiban. Santai saja. Florentino Ariza dalam Love in the Time of Cholera toh butuh seumur hidupnya untuk mendapatkan cinta sejatinya. Dan ia bahagia.

Bukankah lebih indah jika cinta datang di waktu tak terduga, tak disangka-sangka. Kita menyebut momen demikian: kejutan.

Salam sabar

Cik Prim

N.B.: Gus Mul akan menjawab pertanyaan yang masuk Sabtu depan. Dan mohon pembaca berhenti mengatakan Gus Mul jomblo. Itu sudah masa lalu.

Disclaimer: #CurhatMojok menerima kiriman curhat asmara pembaca yang akan dijawab oleh dua redaktur Mojok, Gus Mul dan Cik Prim. Tayang tiap malam Minggu pukul 19.00, setiap curhat yang dimuat akan mendapat bingkisan menarik. Kirimkan curhatmu ke [email protected] dengan subject “Curhat Mojok”.

 

Komentar
Add Friend
No more articles