• 225
    Shares

MOJOK.CO – Lulusan Jurusan Sastra Jawa sebenarnya menyimpan pesona bak berlian berkilau dan sangat worth it untuk dijadikan pacar. Nggak percaya? Sama!

+ Seberapa greget kamu merancang masa depanmu?

– Aku memilih kuliah Jurusan Sastra Jawa. Agar masa depanku tak jelas.

Kalau banyak orang, apalagi calon mertua, nyinyirin anak sastra Jawa lulus susah cari kerja, madesu (masa depan super suram), klenik (pol mentok jadi dukun), STOOOOOP, JANGAN NGOMONG GITU LAGI, GAESSSSS!

Itu semua benar gaesss, plis hentikan, Gaesss, anak sastra Jawa udah paham betul hal itu. Nggak usah diperjelas lagi.

Di balik semua tuduhan yang to be honest benar itu, anak Jurusan Sastra Jawa sebenarnya menyimpan pesona bak berlian berkilau dan sangat worth it untuk dijadikan pacar. Sayang aja berlian itu terpendam (agak) dalam di tanah, di bawah batuan cadas, nglewatin sungai bawah tanah, terus sampai di dekat magma inti bumi. Jadi pada males buat menggali.

Tapi begitu kamu berhasil menggali dan menyadari pesona tersembunyi anak Jurusan Sastra Jawa, dijamin pasti kamu kewer-kewer ngemis pingin dijadiin pacar. Atas nama Ronggowarsito saya berani bertaruh.

Jadi ini keuntungan yang bakal kamu peroleh kalau kamu milih Jurusan Sastra Jawa atau punya pasangan dari jurusan tersebut. Cekidot.

Romantis

Gimana nggak romantis? Anak Sastra Jawa hapal banget trik dan modus Arjuna. Modus-modus yang sudah terbukti secara klinis bikin bidadari tercantik di khayangan klepek-klepek sama si “lelananging jagad” itu.

Kitab Mahabharata yang memuat Pedoman Rayuan Asmara ala Arjuna jadi bacaan sehari-hari anak Sastra Jawa. Mau bimbingan skripsi baca ini biar di-acc, mau daftar UKM baca ini biar diterima, bahkan mau makan di angkringan depan kampus pun baca ini biar bisa ngutang.

Bahkan kami anak Sastra Jawa kalau memegang kitab ini saja harus dalam keadaan suci karena begitu sakral isinya untuk masa depan kami.

Belum lagi kitab Ramayana yang isinya kisah cinta segitiga mahasuci Rama-Sinta yang diganggu Rahwana si pebinor, yang inspiratif sampai ajal menjemputmu aja, Mylov.

Hanya anak sastra Jawa yang baca isinya komplit mulai dari yang versi Sansekerta, Jawa Kuna, Jawa Pertengahan, sampai Jawa Baru bakal dilahap semua. Adiluhung kan referensi asmara anak Sastra Jawa?

Baca juga:  Paribasan Amburu Uceng Kelangan Deleg, Piwulang Jawa sing Ngajari Kacukupan

Pinter nawar belanjaan

Suami mana yang nggak bangga punya istri yang pinter ngelola duit bulanan?

Anak Sastra Jawa itu kalau belanja di pasar tradisional pasti bakal irit mendekati pelit. Alasannya sederhana saja, ya karena mereka pinter banget nawar. Kuncinya, nawar harga pakai Bahasa Jawa Krama Inggil dong. Dijamin penjual seantero pasar bakal terbius oleh kehalusan tutur anak Sastra Jawa.

Apalagi orang tua zaman sekarang mudah terpukau sama anak muda yang bisa menggunakan Bahasa Jawa yang fasih dan benar. Salah-salah dikit juga pasti dimaklumi kok. Nah, keterpukauan itulah yang bisa kita manfaatkan. Lagian ada sebuah pepatah “orang Jawa itu dipangku mati”.

Nah, jurus Krama Inggil itulah yang dipakai buat mematikan keteguhan si mbok bakul pasar yang kadang lebih perkasa daripada Wonder Woman.

Pelan-pelan dihalusin aja itu cara bicaranya, ujung-ujungnya diskon deh. Syukur-syukur anak Sastra Jawa pakai teknik sesorah yang banyak kembang ukara atau nyandra, bisa-bisa diangkat cucu segala, terus dagangannya diberi cuma-cuma deh.

Tentu untuk urusan satu ini syarat dan ketentuan masih berlaku; kalau nawarnya di pasar daerah Jawa Tengah dan sekitarnya saja. Jangan praktikkan hal tersebut di Pulau Roti atau Pulau Natuna ya?

Jagonya urusan adat

Anak Sastra Jawa buku-buku kuliahnya banyak berisi tentang tata cara ritual adat manten. Jadi ndak perlu sewa WO mahal atau dukun manten. Kerjain aja sendiri pasang bleketepe sampe bikin sajen manten. Kalau perlu yang jadi MC atau pranatacara biar temen sejurusan aja. Udah, tinggal kasih rokok tiga bungkus, beres.

Terus kalau udah nikah dan punya anak, anak Sastra Jawa itu juara umum kalau urusan cari nama anak pakai Bahasa Jawa yang aneh-aneh dan filosofis kaya tren bayi milenial sekarang. Kamusnya lengkap, Gaes.

Belum lagi kalau si bayi udah sekolah dan saat kartinian harus pakai baju tradisional. Anak Sastra Jawa dong yang paling tahu mana itu, surjan, peranakan, kebaya, encim, sanggul gelungan, wiru jarik batik, mau yang gagrag Jogja atau Solo dijamin nggak perlu bingung. Kecuali kalau anakmu maunya pakai baju tentara, polisi, atau PNS. Ya itu pengecualian sih.

Baca juga:  Kata Siapa Panggilan Mbak Bermakna Rendahan?

FYI lagi nih, anak sastra Jawa juga kalau mau bangun rumah sudah tahu bab primbon-primbon. Kapan tanggal baik pasang bata, naikin genteng, gali sumur, urusan hoki-hokian rumah mah ilmu titen anak Sastra Jawa nggak kalah sama feng shui.

Menguasai banyak bahasa

Jurusan-jurusan lain sekarang banyak yang buka kelas IUP, yang mahasiswanya merasa kastanya lebih tinggi daripada mahasiswa reguler. Ngomongnya casciscus internesyenel. Anaknya bilingual.

Cih, Jangan songong dulu.

Cuman “bi” aja bangga. Sarjana kok hanya menguasai dua bahasa? Lihat dong anak Sastra Jawa. Syarat utama lulusnya minimal harus bisa 4 bahasa. Bahasa Indonesia, Jawa Ngoko, Krama Madya, Krama Inggil.

Belum lagi kalau yang ambil konsentrasi filologi, bisa bahasa Jawa Kuna, Jawa Pertengahan, Sansekerta, plus Inggris. Udah gitu aksaranya nggak cuma huruf latin lagi, tapi Arab Jawa (pegon), sampai aksara Hanacaraka. Buset dah, Poliglot abis!

Cintanya buta tulus

Kalau kata sang nabi asmara milenial Tere Liye: “Cinta selalu saja misterius.” Dan orang-orang pun rela jatuh bangun dan menghamba demi sesuatu yang misterius itu. Ternyata ada yang lebih misterius lagi daripada cinta, yaitu masa depan anak sastra Jawa.

Eit, tapi jangan salah, anak Sastra Jawa itu sangat tulus (dan buta) mencintai jurusan ini (karena tak bisa pindah ke lain hati, telat mau daftar tes masuk jurusan lain). Maka mau ndak mau segenap jiwa raga dicurahkan untuk bidang ini.

Jika kamu ketemu orang yang mencintai Sastra Jawa, nikahilah! Karena orang itu terbukti berani menanggung resiko menyayangi sesuatu yang lebih misterius daripada cintamu. Uopoooooo.

Tapi yang paling jelas, jika kamu udah naksir anak Sastra Jawa, niscaya kamu nggak akan lepas dari jeratan cintanya. Mereka ahli mantra dan guna-guna. Kalau sampai kamu nolak cinta dan nyakitin hati anak Sastra Jawa? SANTET!

Terakhir: Jadi penulis Mojok

Thanks God Mojok punya rubrik RERASAN. Jatah anak Sastra Jawa banget tuh!

 

Btw, ini kenapa saya kemringris ya? Ya maklum namanya juga poliglot.