Istri Saya Nggak Jago Main Mobile Legends, Dikata-katain, tapi Nggak Pernah Kena Mental

Istri Saya Nggak Jago Main Mobile Legends, Dikata-katain, tapi Nggak Pernah Kena Mental MOJOK.CO

Istri Saya Nggak Jago Main Mobile Legends, Dikata-katain, tapi Nggak Pernah Kena Mental MOJOK.CO

MOJOK.COIstri saya nggak jago main Mobile Legends. Sering dimaki-maki, tapi dia tetap bisa menikmati hobi barunya ini. Sabar betul dia.

Kalau nggak salah ingat, mulai akhir Januari 2021, istri saya mulai lebih intens main Mobile Legends. Hero yang bisa dia mainkan cuma 2, yaitu Nana dan Chang’e. Pakai Chang’e itu pun karena lihat saya yang push rank dari rank Master bintang 3 sampai Legends. Dan dia jauh dari kata jago.

via GIPHY

Yah, seperti yang kamu sekalian ketahui, mereka yang nggak jago, kerjaanya cuma nge-feed, pasti jadi sasaran makian. Dikata-katain. Jahat banget pokoknya. Mulai dari alat kelamin manusia, nama-nama hewan, sampai kata-kata kasar lainnya yang sangat keterlaluan dilemparkan ke perempuan.

Namun, istri saya bisa dengan tenang bilang: “Udah, cuekin aja. Yang penting main, deh.” Saya, sebagai suaminya, malah yang mencak-mencak. Anjing betul, istri saya dikata-katain seperti itu. Tapi ya, pada titik tertentu, saya malah kayak diajari untuk lebih bersabar sama istri sendiri.

via GIPHY

Dia menikmati setiap menit yang berlalu di dalam game Mobile Legends. Meski hampir selalu jadi sasaran makian, nggak terlalu ambil pusing soal skin terbaru, atau bikin ribet diri sendiri dengan belajar teknik makro dan mikro ketika perang di Mobile Legends. Pokoknya udah bisa main aja udah senang.

Selama kurang lebih 6 bulan main Mobile Legends, saya belum menemukan player yang kayak istri saya: nggak jago, sering dikata-katain, tapi tetap santai aja main. Misalnya 2 teman satu kantor di Mojok: Azka dan Janu. Keduanya nggak terima cuma sampai di tahap “bisa”. Setidaknya, keduanya harus bisa “jago” memainkan hero power-nya.

Beberapa teman online yang sering mabar Mobile Legends juga seperti itu. Nggak terima tuh kalau sampai dikata-katain. Apalagi ketika sebetulnya sudah main bagus, jadi MVP, eh kalah karena rekan satu tim noob semua. Udah noob, malah ngata-ngatain orang lain. Habis itu malah mereka yang report kamu. Sungguh sering terjadi. Dasar bocil bau ikan.

via GIPHY

Main game, buat beberapa orang, memang bukan sekadar “cuma main” aja. Main game bisa jadi wahana bagi mereka mencari lahan kompetitif demi memuaskan arus adrenalin. Ada juga yang terus-terusan main demi mencapai level top global. Ada juga yang pengin masuk skena profesional demi mengubah nasib.

Jangan salah, Mobile Legends menawarkan solusi bagi kamu yang jago main untuk mengubah nasib. Bagi mereka yang jago dan bisa juara, terbuka jalan yang lebar untuk jadi streamer atau Youtuber. Duitnya nggak main-main. Meski gaji pro player memang nggak besar-besar amat, tapi kesempatan yang terbuka itu yang mahal harganya.

Saya rasa, bukan lagi harga diri yang dipertaruhkan, tapi nasib seseorang. Nah, kalau sudah begitu, keinginan besar untuk menang mendorong player untuk semakin jago. Nggak terima kalau cuma sebatas untuk mengisi waktu luang. Yah, setidaknya nggak sampai dikatain noob aja.

Oleh sebab itu, saya jadi susah menemukan player Mobile Legends yang seperti istri saya. Santai, nggak memaksa dirinya untuk jadi jago, dan menikmati setiap menitnya. Rasa penat karena seharian menjadi guru yang work from home, kayaknya bisa dia obati lewat double kill ketika pakai Chang’e.

Istri saya bisa menjadikan game seperti hakikatnya sendiri, yaitu permainan. Meski saya tahu bakal banyak yang akan menyanggah pendapat ini. Bagi banyak orang, game adalah soal pertaruhan. Dan yah, anggapan itu nggak salah juga. Meski sering membuat banyak orang menjadi terlalu larut dan melupakan tanggung jawabnya di kehidupan nyata.

Inti dari tulisan pendek ini sebetulnya sederhana saja. Terkadang, kita nggak jujur dengan sebuah aktivitas yang kita sebut sebagai hobi. Kita menghabiskan ratusan menit di Mobile Legends atau game online apa saja demi rasa bahagia. Namun, sebetulnya kita sudah diikat oleh ketidakjujuran: kita sebetulnya tidak menikmatinya.

via GIPHY

Login sehari-hari hanya demi mengubah makian dan cacian menjadi pujian. Sebuah keputusan yang malah buang-buang waktu. Menikmati hobi tidak selalu harus merugikan diri sendiri dan orang lain. Nggak tahu, sih, kalau buat kamu yang hobi naik road bike dan ngebut di tengah jalan, hehehe….

BACA JUGA Curhatan Istri Saya yang Jago Main Call of Duty Mobile: Dikira Ngecheat dan Akun Hode dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Exit mobile version