Harus atau Tidak Harus Pacaran dengan Orang Kaya?

MOJOK.CO Banyak orang bilang, kita semua berhak memilih, termasuk memilih pacaran dengan orang kaya. Tapi, benarkah ini pilihan yang tepat?

Namanya Fira, usianya 23 tahun. Sebagian besar teman-temannya sudah menikah, beberapa bahkan telah memiliki anak.

Fira bukannya tidak banyak dilirik orang. Nyatanya, seorang pria pernah menghubunginya dan mengutarakan niatnya untuk berkunjung ke rumah dan melamar. Tapi, apakah Fira bersedia?

Tidak.

Loh, kenapa? Apakah Fira—seperti alasan-alasan di film romantis—tidak mencintai si pria ini?

Tidak, tidak. Jawaban Fira cuma satu: dia bukan pria kaya dan sepertinya tidak bakal bisa menjamin hidup yang nyaman untuknya.

“Aku nggak mau munafik. Mas-mas itu kerjanya cuma pegawai swasta biasa, seperti ayahku. Keluarga kami hidupnya begini-begini saja, aku nggak mau anakku merasakan apa yang aku rasa. Kurasa, aku akan berjuang untuk dapat pria kaya. Aku mau pacaran dengan orang kaya.”

Saya terbengong-bengong mendengarnya. Wah, sebuah tekad yang bulat, batin saya. Terlepas dari hal itu benar atau salah, wajar atau tidak wajar, saya rasa tidak masalah kalau saya mengapresiasi kegigihan hati Fira.

Hingga hari ini, Fira belum menikah—belum pula mulai pacaran dengan orang kaya, sebagaimana yang ia harapkan. Sebaliknya, si pria-pegawai-swasta-biasa itu kini malah sudah menikah dan istrinya tengah mengandung anak pertama mereka.

Pacaran dengan Orang Kaya: Dinanti, tapi Juga Dihindari

Hal berbeda saya temui dari Dian, laki-laki berusia 25 tahun yang bekerja sebagai pegawai swasta biasa, tapi tidak berniat melamar Fira—ha kenal aja nggak!

Di usianya yang sudah terbilang dewasa, Dian berniat segera menikah, meski belum punya pacar. Yah, namanya juga niat—niat aja dulu yang penting, kan?

Beruntung, beberapa perempuan agaknya kemakan rayuan gombalnya tertarik pada kebaikan hatinya. Tak sedikit perempuan yang dengan senang hati membalas pesan singkatnya, lalu mengajak nonton film bersama. Tapi, saya sempat heran ketika seorang perempuan ditolak ajakan nontonnya oleh Dian.

“Kenapa?” tanya saya, kepo. Maklum, namanya juga tukang cari bahan tulisan. Hehe.

“Dia terlalu… wah.

Saya kebingungan, “Apa maksudnya? Mewah?”

“Ya gitu,” jawab Dian, “kamu lihat saja, dia kan pakai make-up setiap hari. Nah, pasti semua make-up-nya mahal, deh, kulitnya aja kinclong, gitu—beda sama kulitmu. Males, ah, sama perempuan kaya. Takut kebanting.”

Saya nggak langsung menjawab karena masih shock tiba-tiba dikatain bahwa kulit saya nggak kinclong. Padahal, hari itu, saya sudah mengikuti serangkaian penggunaan skincare sejak pagi. Hadeh!

“Baru ‘kayaknya’, kan? Belum pasti, kok, kamu udah takut?” jawab saya akhirnya, setelah menguasai diri.

“Bapaknya kerja di BUMN ternama. Lah, keluargaku kan cuma pedagang warung biasa. Beda.”

“Karena beda, kamu nggak mau?”

“Ya mana mau dia sama aku?” jawab Dian sambil meringis, meski saya tahu hatinya menangis~

Dua sikap berbeda dari kedua teman saya tadi akhirnya membuat saya yakin bahwa kasta ekonomi memang berpengaruh besar dalam sebuah relationship.

Dan ini tidak terelakkan.

Memahami Hubungan antara si-Kaya dan si-Biasa-Saja

Dalam kasus Fira, ia jelas menginginkan partner yang lebih tinggi pekerjaannya daripada apa yang ayahnya lakukan saat membesarkan keluarga mereka.

Kamu boleh ngatain Fira matre, tapi nyatanya tipe orang seperti ini nggak sedikit ditemui dalam dunia yang kejam. Teman saya yang lahir di keluarga kaya, misalnya, pernah selingkuh berkali-kali, tapi tetap tidak berniat memutuskan kekasihnya yang juga dikenal sebagai rich man karena bekerja di perusahaan besar dengan gaji tinggi, dan kawan saya mendapat jatah uang saku setiap bulan karenanya.

Sementara itu, pada kasus Dian, ia justru dengan sengaja menjauhi kemungkinan pacaran dengan orang kaya. Alasannya satu: ia merasa tidak pantas dan tidak bakal mampu mengimbangi gaya hidupnya.

Hmmm. Jadi, sebenarnya, wajar atau nggak, sih, menargetkan diri pacaran dengan orang kaya?

Cinta dengan perbedaan kelas ekonomi, alias cinta beda kasta, adalah hal yang tidak mudah-mudah amat, mylov, dan ini serius. Kamu mungkin merasa hubunganmu dengan si pacar yang merupakan orang kaya itu baik-baik saja, tapi mungkin tidak demikian dengan keluarga pacarmu atau keluargamu sendiri.

Ingat, pernikahan itu menyatukan dua keluarga, bukan cuma soal kamu sama yang-mu, doang~

Pacaran dengan orang kaya bakal menjadi sedikit ribet saat akhirnya kamu menyadari bahwa kamu dan dia benar-benar berbeda, terlebih karena gaya hidup dan mindset yang tak sejalan.

“Aku pengin nanti kalau kita udah nikah, kita tinggal bareng di rumah sederhana yang bersih di pinggir sawah. Seru kali, ya?” katamu suatu hari.

Kekasihmu yang kaya raya mungkin bakal menggeleng mendengar ini, lalu berkata,

“Nggak, Baby. Nanti kita bangun rumah di tanah keluargaku aja. Luas, kok. Nanti rumahnya kita bikin dua lantai, ya. Kamar kita di lantai pertama, soalnya lantai kedua mau aku bangun jadi kolam renang sama lapangan golf.”

Beda, kan, Gaes, beda kaaannn???

Yah, tapi kalau dipikir-pikir, pacaran dengan orang kaya itu memang melahirkan dua sisi yang bertolak belakang: obsesi dan tahu diri. Bahkan, pembelaan semacam “ini-tuh-realistis-bukannya-materialistis”, kini juga berkembang menjadi “ini-tuh-realistis-bukannya-pesimistis”, yang menggambarkan upaya pembelaan seseorang yang pacaran dengan orang kaya demi mendapat keuntungan finansial, tapi tetap bersikeras bahwa ini bukan bentuk pesimistis, melainkan cinta yang realistis.

Hmmm, kalau kamu, gimana? Tertarik juga pacaran dengan orang kaya hanya dengan alasan agar lebih (((realistis))), dan bukannya alasan-alasan yang lebih romantis?

Exit mobile version