Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Namanya Wendi. Rambutnya gondrong sebahu. Orangnya sangat mudah sekali tersenyum. Hobinya nonton. Apa saja. Mulai dari FTV pukul 10 pagi sampai siaran ulang drag race pukul 2 dini hari. Namun, tontonan yang paling membuatnya “bergairah” adalah film semi Jepang.

Bukan. Bukan karena dia cabul atau kecanduan film porno. Film semi Jepang, yang kadang terasa seperti sinetron kacangan, berjasa besar atas keberhasilan Wendi di kuliahnya. Dan, minimal, dia tidak menjadi beban keluarganya. Film semi Jepang punya jasa besar.

Jadi begini. Saya tidak tahu istilahnya secara pasti. Namun, film semi Jepang menjadi semacam drive tersendiri bagi Wendi. Mohon koreksi kalau saya salah. Jadi, film bokep yang nggak bokep banget ini membantu Wendi untuk “melakukan sesuatu secara lebih”. Misalnya, dia jadi giat belajar sewaktu kuliah dan skripsian. Dia juga jadi lebih bersemangat mengejar karier.

Motivasi dan film semi Jepang

Wendi ini bukan mahasiswa yang malas, tapi ya nggak rajin juga. Dia termasuk mahasiswa yang bakal dapat nilai bagus kalau mau usaha dikit aja. Masalahnya, dia selalu punya ratusan alasan untuk tidak belajar, apalagi mengerjakan tugas. Oya, kami beda kampus, jadi saya tidak bisa memberinya contekan ketika ada tugas.

Teman-temannya, yang juga brengsek dan pemalas, sering sok menasehati Wendi. Mereka melakukannya bukan karena sangat peduli dengan kuliah Wendi. Ini semata karena orang tua Wendi sering datang ke kos membawa banyak makanan, bahkan memberi uang saku. Pesan orang tua Wendi cuma satu, ”Tolong bantu ingatkan anak saya untuk rajin kuliah dan biar cepat selesai.”

Wendi adalah anak tunggal. Kedua orang tuanya merintis usaha katering yang agak lumayan di Jawa Tengah. Sebetulnya, Wendi anak baik dan “lurus”. Namun, lingkungan di rumah, plus di kampus, apalagi kosan, sungguh brengsek. Berkat lingkungan ini, Wendi mengenal film semi Jepang.

Semasa SMA, Wendi sudah terpapar bokep. Yah, sebatas tahu, selayaknya anak SMA. Dia “mendalami” film porno semasa kuliah awal. Dan tidak butuh waktu lama dia sudah membenci film porno produk Amerika yang terlalu artifisial. Dia jatuh cinta dengan film semi Jepang. 

Katanya, dia mendapat “motivasi” dengan menonton film semi Jepang. Sungguh janggal. Tapi itu yang terjadi. Dia bukan tipe yang setiap hari harus nonton film semi Jepang. Yang saya tahu, dia cuma nonton sekali seminggu. Bahkan kadang sebulan cuma sekali. Bagi dia, itu sudah cukup untuk mengisi baterai motivasi.

Baca juga 10 Film Semi Terbaik di Netflix yang Nggak Cuma Jual Adegan Seks

Pesona film semi Jepang

Mari kita sepakat untuk tidak munafik. Akui saja, minimal, kita pernah menonton film atau video pendek porno di media sosial. Nah, preferensi orang pasti beda. Ada yang suka produk Amerika, ada juga yang jejepangan nan berisik itu. Lalu, ada yang suka bokep hardcore, ada juga yang suka “cerita” yang mengiringi. Film semi Jepang masuk dalam kategori kedua.

Lantas, kenapa ada orang yang suka “film semi”? Ternyata, ada penjelasannya secara ilmiah.

Sebagai sistem reward

Otak manusia memiliki jalur imbalan (reward system) yang sangat sensitif terhadap rangsangan visual. Saat seseorang menonton film yang mengandung unsur romansa atau erotisme, otak melepaskan dopamin.

Dopamin, adalah hormon “kesenangan”, tetapi sebenarnya ia lebih berperan dalam antisipasi dan motivasi. Film semi Jepang menggunakan alur cerita slow burn dan penuh “ketegangan emosional”. Ketegangan inilah yang memicu lonjakan dopamin lebih tinggi karena otak terus menunggu “apa yang akan terjadi selanjutnya”.

Imajinasi

Secara psikologis, otak manusia bisa merasa lebih bergairah terhadap sesuatu yang bersifat implisit daripada eksplisit (terang-terangan). Nah, ketika sebuah film tidak menunjukkan segalanya secara gamblang, otak penonton secara otomatis bekerja untuk “mengisi celah” tersebut menggunakan imajinasi.

Proses berimajinasi ini membuat pengalaman menonton menjadi lebih personal dan intens secara mental. Wendi sendiri pernah bilang kalau imajinasi menjadi sesuatu yang menyenangkan ketika menonton film semi Jepang.

Baca juga 7 Rekomendasi Film Semi Korea Paling Keren

Menegaskan taboo appeal

Kata orang, secara sosiologis, banyak yang mempersepsikan Jepang sebagai masyarakat yang sopan dan tertutup. Adanya kontras antara budaya yang sangat disiplin dengan konten yang bersifat intim menciptakan efek forbidden fruit 

Nah, secara psikologis, manusia cenderung lebih penasaran dan tertarik pada hal-hal yang dianggap tabu atau kontras dengan realita kehidupan sehari-hari. Dan menurut saya pribadi, film semi Jepang berhasil melakukannya.

Banyak orang suka cerita

Nah, kalau analisis saya pribadi, banyak yang suka dengan film semi Jepang karena faktor cerita. Semua “film semi” memang membawa satu faktor ini. Cerita membuat orang terhanyut ke dalam visual yang tertampilkan. Ada semacam kepuasan dari mendengarkan (dalam hal ini menonton) sebuah produk audio-visual.

Beda jauh dengan menonton bokep yang hardcore dan main “langsung hajar”. Saya setuju dengan istilah slow burn. Bagi banyak orang, efek yang mereka dapatkan lebih awet dan memberi kesan mendalam.

Pada akhirnya, yang mereka saksikan bukan sekadar film porno. Di sana ada kehidupan nyata yang bisa terjadi kepada siapa saja. Dan adegan seks, adalah aktivitas manusiawi yang mengiringi. Bukan sesuatu yang tabu, tapi justru memberi sesuatu yang baru.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 7 Rekomendasi Film Semi Jepang yang Wajib Ditonton Minimal Sekali Seumur Hidup dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Exit mobile version