Betapa Realisnya Prabowo dan Liberalisnya Jokowi

realis prabowo liberalis jokowi

MOJOK.CORealisme dan liberalisme adalah dua perspektif besar dalam Ilmu Hubungan Internasional yang ndilalah kok bisa-bisanya pandangannya secara sempurna direpresentasikan oleh Prabowo dan Jokowi.

Gara-gara nonton debat capres sabtu lalu, saya tiba-tiba de javu kayak lagi kuliah Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Kuliah 3 SKS yang saya selesaikan dengan susah payah itu, ternyata jadi kelihatan sangat gampang ketika apa yang saya pelajari kok ndilalah dipraktekan sama Prabowo dan Jokowi dalam debat kemarin.

Saya lihat pandangannya Prabowo dan Jokowi kok sangat merepresentasikan dua perspektif dasar dalam HI yaitu realisme dan liberalisme.

Buat kalian yang bukan anak HI, sini sini saya jelaskan apa itu realisme dan liberalisme.

Kalau disederhanakan, realisme ini adalah perspektif yang selalu curigaan. Orang realis ini selalu melihat kalau dunia ini penuh konflik dan persaingan.

Karena suka curigaan ini, realis berpikir bahwa nggak ada jaminan kalau kita akan selalu damai. Jadi harus jaga-jaga terjadinya kemungkinan terburuk yaitu perang. Makanya orang realis sangat menjunjung tinggi kemanan nasional, dan pertahanan negara.

Buat Realis, orang lain bisa saja terlihat baik dan tersenyum di depan kita, tapi di belakang kita? Siapa yang menjamin mereka nggak menertawakan kita hah???

Gimana?? Mirip kan kayak pernyataan-pernyataan Prabowo di debat kemarin!11!

Sementara perspektif liberalisme, berpandangan sebaliknya. Orang liberal itu melihat dunia penuh dengan optimisme (dan sedikit naif).

Seorang Liberalis berpikiran bahwa semua orang punya tujuan yang sama (ingin bahagia. Ea), oleh karenanya harus saling menghargai dan mau dengan sukarela bekerjasama untuk mewujudkan kebahagiaan itu bersama-sama. Romantis bgt bsgt.

Bagi mereka perang itu nggak masuk akal. Selain buang-buang duit, ngapain coba perang kalau sejak awal kita sudah saling mencintai membutuhkan dan bekerjasama.

Makanya liberalis lebih suka kerja sama ekonomi, perdagangan bebas, investasi, dan ekspor-impor antar negara.

Kan kan kan!1! Kayak pernyataan Jokowi di debat kemarin!!1!

Seketika saya takjub kok bisa mirip gitu…

Ternyata eh ternyata, perbedaan yang sangat kontras ini saya pikir disebabkan oleh latar belakang mereka yang sangat jauh berbeda.

Prabowo yang tentara tentu lebih banyak lihat konflik daripada Jokowi yang pengusaha. Pun, sebaliknya. Jokowi lebih percaya kerjasama dibandingkan dengan rasa saling curiga karena kalau bisnis saling curiga ya nggak akan laku, Buossss.

Yang menurut saya lebih menarik adalah, bagaimana pandangan-pandangan realis sangat melekat di dalam diri Prabowo, juga pandangan liberalis dalam diri Jokowi. Jadinya, pantes aja kalau selama ini kita sering dengar prabowo dikit-dikit perang-perangan terosss, dan Jokowi dikit-dikit dagang-investasi-dagang-investasi teross.

Dari debat kemarin misalnya, kita jadi memahami kenapa bagi Prabowo, keamanan dan keselamatan negara dari dunia yang penuh konflik adalah kepentingan nasional nomor 1. Mutlak!11! Tidak bisa ditawar-tawar.

Sebagai seorang Realis, Prabowo pasti punya rasa curiga yang tinggi terhadap negara lain. Makanya, kalau ingin selamat, menurut Blio, kita hanya bisa mempercayakan keselamatan kita kepada diri sendiri.

Itulah kenapa Blio sering sekali menyebutkan bahwa kita harus jadi bangsa yang berdikari. Berdiri di kaki sendiri. Karena rasa curiga dan waspada itu, bagi Prabowo, menyerahkan asset penting ke orang lain adalah hal yang bodoh. Impar-impor dan membuat negara ketergantungan terhadap negara lain juga hal yang bodoh karena bikin negara lemah.

Terlalu banyak memberi ruang investasi kepada negara lain juga bikin keuntungan tidak dikuasai negara. Harusnya kita bisa mengelola itu sendiri. Kebodohan ini—yang menurut Prabs—bikin kita dimanfaatkan lalu bikin keuangan negara bocor, bocor, bocor. HEH JANGAN KETAWA KALIAN. Pak Prabs itu serius taukk.

Selain masalah berdikari, rasa curiga yang dimiliki seorang realis juga menjastifikasi alasan kenapa Prabowo merasa insecure meskipun dalam keadaan yang relatif aman.

Lha wong ketika muda dulu dia diyakinkan nggak akan ada perang, eh jebul ternyata malah ada perang beneran kok. Prabowo menyebutkan perang dengan Timor Leste sebagai contohnya. (Lhaa ini sih bukan kita yang diperangi, tapi kita yang pengin perang sendiri pak hadehh).

Makanya, karena nggak ada jaminan bakal damai terus, negara perlu memperkuat kapasitas militer dan pertahanan. Pantas saja Pak Prabs sangat perhatian dengan anggaran pertahanan negara, dan betapa lemahnya kita karena jumlah peluru kita—kalau dipakai berperang, katanya hanya akan bertahan tiga hari.

Kalau kalian bertanya-tanya kenapa sichh Pak Prabs ini fokus mikirin kemungkinan perang perang mulu di tengah fokus dunia internasional yang pengin mewujudkan perdamaian, itu bukan karena Prabowo terlalu pesimis taukkk. Tapi karena seorang realis seperti Prabowo itu bijaksana.

Kok mikirin perang dianggap bijaksana???

Ya karena dengan selalu bersikap curiga, mengasumsikan bahwa negara lain itu tidak kooperatif dan egois, membuat kita selalu bersikap realistis bahwa kemungkinan perang itu selalu ada. Kalau pemimpun cuman mikir yang ideal-ideal dan damai-damai saja, itu artinya bodoh karena tidak melihat realita.

Kalau Prabowo melihat dunia yang penuh konflik, Jokowi lebih melihat dunia yang kooperatif. Makanya sangat optimis dengan kerjasama. Dikit-dikit investasi, perdagangan internasional, PTA, FTA, SEPA, SEPIA, SHEILA ON 7, ya mbuh lah nama-nama kerjasama ekonomi yang njelimet lainnya.

Bagi seorang liberalis, selama kita dagang dan saling membutuhkan, nggak akan ada tuh perang yang dikhawatirkan oleh Prabowo. Makanya, dalam sesi debat kemarin, Jokowi berkali-kali mengatakan “Saya melihat Pak Prabowo ini terlalu khawatir” ketika membicarakan banyaknya investor asing yang ada di Indonesia.

Kenapa Jokowi nggak takut perang dan investor asing kayak Prabowo?

Bagi seorang liberalis, semakin banyak kerjasama dan investasi, itu malah hal yang bagus karena negara akan semakin aman. Kenapa aman?? Ya kalau diperangin, nanti duit-duit para investornya nggak akan balik lagi ke mereka lahhh. Justru kalau ada perang, negara lain (yang punya kepentingan ekonomi dengan negara kita) pasti bakal bantu kita soalnya…. mereka nggak mau rugi dan kehilangan duit mereka yang ada di Indonesia ha ha ha ha.

Karena perspektifnya dagang dan kerjasama teross, makanya dalam debat kemarin, Jokowi bilang kalau milliter dianggap bukan prioritas. Militer penting.  Tapi Infrastruktur dulu, lalu pembangunan manusia, baru militer.

Nah, kalau udah tahu kalau Prabowo realis dan Jokowi liberalis, kira-kira mana dong yang punya pandangan lebih baik? Yang suka waspada atau yang suka kerjasama? Ya masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri kok. Tergantung kamu cocoknya sama yang mana. Yang ngejamin keamanan negara atau yang ngejamin ekonomi negara?

Eh, bentar, bentar, kenapa ini saya jadi ngasih kuliah 3 SKS?

 

Exit mobile version