Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Podium

Banalitas Kekerasan di Mata Rieke Diah Pitaloka: Bagaimana Negara Memfasilitasi Kejahatan?

Situasi di mana kejahatan tidak lagi dirasa sebagai kejahatan, tetapi sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
14 Januari 2023
A A
banalitas kekerasan mojok.co

Ilustrasi rezim Orde Baru (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Politikus perempuan sekaligus mantan aktris, Rieke Diah Pitaloka, memandang ada kesamaan antara rezim otoritarian Nazi dengan Orde Baru. Pandangan ini ia paparkan dalam salah satu bukunya, Banalitas Kekerasan: Telaah Pemikiran Hannah Arendt tentang Kekerasan Negara (2010), yang mengulas bagaimana negara memfasilitasi kejahatan.

“Banalitas kekerasan” merupakan sebuah pemikiran yang pertama kali dipopulerkan filsuf Hannah Arendt dalam bukunya Eichman in Jerussalem. Buku ini merekam bagaimana Eichman, seorang penjahat perang Nazi yang membantai banyak orang Yahudi, menghadapi peradilan di Israel.

Dalam pandangan Arendt, banalitas kekerasan disebut sebagai situasi di mana kejahatan tidak lagi dirasa sebagai kejahatan, tetapi sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, alias sesuatu yang wajar atau banal.

Melalui kesimpulannya, yang ia lihat dari Eichman, Arendt memandang bahwa tindakan kekerasan berawal dari ketidakmampuan berpikir secara kritis. Ketidakberpikiran, pada akhirnya bakal membawa seseorang ke dalam kenihilan imajinasi, sehingga membuatnya bias dalam memandang atau memosisikan kejahatan.

Sebagaimana diamati Arendt, Eichmann bukanlah orang bodoh. Yang menjadi “penyakit” utamanya adalah ketidakberpikiran.

“Ketidakberpikiran membuat suatu tindakan menjadi terasa wajar, termasuk tindakan yang mengerikan sekalipun,” kata Arendt, dalam bukunya.

Menurutnya, orang-orang biasa seperti Eichmann bukanlah orang jahat. Ia hanya melakukan tindakan-tindakan brutal karena nihilnya imajinasi soal kekerasan. Sementara banalitas tersebut bukanlah sesuatu yang otonom atau muncul secara tiba-tiba (spontan). Ia lahir karena adanya dogma yang berulang dan masif dari aktor kekuasaan. Dalam kasus Eichman, tentunya doktrin rasial Nazi.

Fenomena inilah yang ingin Rieke bawa ke dalam konteks Indonesia. Seperti halnya Eichman, kekerasan dengan aktor negara, seperti pembantaian 1965-1966, lahir karena adanya banalitas kekerasan itu sendiri.

Banalitas kekerasan rezim Orde Baru

Melalui tesisnya yang akhirnya dibukukan, Banalitas Kekerasan: Telaah Pemikiran Hannah Arendt tentang Kekerasan Negara, Rieke mencoba membaca ulang problem kekerasan Orde Baru, dengan menelaah gagasan Hannah Arendt terkait hubungan antara kekuasaan dan kekerasan.

Dalam kacamata ini, negara—sebagai aktor kekuasaan—ia anggap turut punya andil besar dalam berbagai kekerasan yang dilakukan masyarakat pada masa Orde Baru. Hal ini mengingat kedangkalan berpikir bukanlah sesuatu yang otonom. Ia punya keterikatan dengan kekuasaan.

Menurut Rieke, prakondisi masyarakat dalam melakukan kekerasan antara yang terjadi di Jerman (Nazi) dengan Indonesia (Orde Baru), punya karakteristik yang sama.

Pertama, sebagaimana Nazi dengan karakter totalitarianisme, rezim Orde Baru juga menggunakan mekanisme totaliter dalam menjalankan negara. Ini, misalnya, terlihat dari adanya satu orang sebagai pemimpin tertinggi (absolut), sistem satu partai, polisi rahasia, dan pembersihan berulang-ulang dengan alasan “musuh bersama” (musuh imajiner).

Kedua, sebagaimana di Jerman, kejahatan yang dilakukan negara sepanjang rezim Orde Baru sangat lumrah terjadi. Misalnya, penggusuran paksa dengan melibatkan ormas untuk bentrok, penembak misterius (petrus), dan kekerasan aparat kepada demonstran. Lama kelamaan, kata Rieke, macam-macam kekerasan ini menjadi hal biasa bagi masyarakat.

“Doktrin, propaganda dan teror dari rezim totaliter mengikis kesadaran dan kemampuan berpikir kritis masyarakat sehingga kebaikan dan kejahatan menjadi rancu. Dengan demikian, sangat dimungkinkanlah masyarakat terlibat dalam kekerasan,” jelas Rieke.

Iklan

Aktor negara dan agama

Sebagaimana Eichman, yang mengalami fenomena ketidakberpikiran akibat dogma militeristik, di Indonesia pada masa Orde Baru pun demikian. Membunuh sebagai sebuah perintah komando, pada akhirnya bikin seseorang merasa benar meski telah melakukan kejahatan.

Di Jerman, jutaan orang dibantai karena perintah pemimpin tertinggi, Adolf Hitler. Orang-orang seperti Eichman, merasa apa yang telah mereka lakukan sudah benar karena menjalankan perintah pimpinan.

Hal serupa juga Rieke temukan di Indonesia. Aktor-aktor militer yang secara proaktif membantai (dalam perkiraan Rieke) hingga 2 juta manusia selama 1965-1966, menculik dan menyiksa aktivis, serta menghilangkannya, merasa posisi mereka benar. Kebenaran ini semata-mata mereka rasakan karena adanya perintah, yang menjadi legitimasi dari kekerasan tersebut.

Lebih lanjut, hal lain yang identik antara kasus Nazi dan Orde Baru adalah tentang dogma ideologi dan agama. Di Jerman, jutaan nyawa orang-orang Yahudi dibunuh dalam peristiwa Holocaust. Pandangan rasial Hitler menganggap “Yahudi tidak diperhitungkan”, yang pada akhirnya mewajarkan pembantaian atas dasar agama.

Di Indonesia pun demikian. Sepanjang 1965-1966, orang-orang akan dibunuh hanya karena ia dianggap komunis atau beretnis Tionghoa. Yang lebih menyesakkan lagi, sebagaimana ditunjukkan banyak penelitian, aktor agama melalui ormasnya punya andil besar dalam “pembersihan” besar-besaran ini.

Namun, yang Rieke garisbawahi, sebenarnya problem utama bukan terletak pada agama itu sendiri, melainkan pada masyarakat yang terkondisikan untuk melakukan kekerasan. Menurutnya, individu yang melakukan kekerasan dalam ormas berlandaskan agama, secara tak sadar sesungguhnya bukan karena agama secara an sich, melainkan kondisi kesepian (loneliness).

Manusia yang kesepian ini akan kehilangan kepercayaan diri, dan kehilangan kepercayaan terhadap nuraninya pada tahap berikutnya. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis menghilang. Kejahatan dan kebaikan bertumpang tindih tanpa perbedaan yang jelas.

Maka, tulis Rieke, dalam kondisi demikian, “manusia kesepian” akan sangat mudah termakan propaganda dan percaya pada ideologi yang sifatnya mendikte kepala yang tak kritis. Termasuk dogma kekerasan ala Orde Baru sekalipun.

“Oleh karena itu, kekerasan yang dilakukan warga negara tidak muncul secara sendirinya, tapi sebagai akibat atau produk kekerasan yang dilakukan negara,” tulis Rieke.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Amanatia Junda

BACA JUGA Jerat Warisan Bahasa Orde Baru

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2023 oleh

Tags: kekerasan negaraOrde BaruPemilu 2024rieke diah pitaloka
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Suara Marsinah dari Dalam Kubur: 'Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku'.MOJOK.CO
Ragam

Suara Marsinah dari Dalam Kubur: ‘Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku’

10 November 2025
Alasan Soeharto tak layak dapat gelar pahlawan, referensi dari buku Mereka Hilang Tak Kembali. MOJOK.CO
Aktual

Buku “Mereka Hilang Tak Kembali”, Menyegarkan Ingatan bahwa Soeharto Tak Pantas Dapat Gelar Pahlawan, tapi Harus Diadili

1 November 2025
Rahasia di Balik “Chindo Pelit” Sebagai Kecerdasan Finansial MOJOK.CO
Esai

Membongkar Stigma “Chindo Pelit” yang Sebetulnya Berbahaya dan Menimbulkan Prasangka

29 Oktober 2025
Sejarah Indonesia Berisi Kekerasan dan Negara Paksa Kita Lupa MOJOK.CO
Esai

Sejarah Indonesia Berisi Luka yang Diwariskan dan Negara Memaksa Kita untuk Melupakan Jejak kekerasan itu

30 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya! MOJOK.CO

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya!

23 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
5 makanan khas Jawa Timur (Jatim). Beri kesempatan kaum pas-pasan cicipi kuliner terbaik/terenak dunia MOJOK.CO

5 Makanan Khas Jawa Timur yang Beri Kesempatan Orang Pas-pasan Nikmati Kuliner Terenak Dunia, Di Harga Murah Pula

1 Maret 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO

Rela Melepas Status WNI karena “Technical Stuff” di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.