Melepas Toyota Avanza 2010, Mencintai Toyota All New Rush: Sekali RWD, tetap RWD!

Toyota Avanza 2010 ini sudah seperti anggota keluarga yang nggak pernah nyusahin.

Melepas Toyota Avanza 2010, Mencintai Toyota All new Rush MOJOK.CO

Ilustrasi Avanza 2010. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COMeski cuma Toyota Avanza 2010, sejak saya boyong dari dealer, mobil ini nggak pernah nenggak sekali saja bensin Premium! Sesayang itu.

Datang akan pergi

Lewat kan berlalu

Ada ‘kan tiada

Bertemu akan berpisah

Hei, sampai jumpa di lain hari….

Toyota Avanza 2010 G Manual kami boyong dari dealer Nasmoco Slamet Riyadi Solo. Mobil penuh kenangan ini sudah menemami keluarga kami selama 11 tahun, lebih tua satu tahun dari usia pernikahan saya dan istri. Waktu yang terasa singkat untuk sebuah cinta. Kepada Toyoya Avanza 2010, kepada RWD. Pokokke ora RWD, ya ora!

Saking cintanya, foto pra-nikah kami pun pakai Toyota Avanza 2010. Memang, ini cuma “gerobak sejuta umat”. Namun, jangan salah. Harga second Avanza 2010 malah bisa lebih mahal ketimbang harga barunya. Sombong dikit.

Nggak cuma untuk foto-foto pra-nikah, Toyota Avanza 2010 ini juga sangat berjasa di proses kelahiran anak pertama kami, Jess. Istri saya berangkat dan pulang dari rumah sakit mengendarai mobil ini, Toyota Avanza 2010 yang kami beri nama Upik Abu. Semata karena warnanya abu-abu.

Intinya, Toyota Avanza 2010 ini sudah seperti anggota keluarga yang nggak pernah nyusahin. Kan banyak tuh, katanya keluarga, tapi bikin ovethinking tiap malam.

Disepelein? Sering banget, mengingat Toyota Avanza 2010 adalah Avanza lawas. Manual lagi. Paling sering terjadi di hotel atau mall.

Alkisah, waktu itu, saya lagi ngantre isi bensin di SPBU LaPiaza Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saya masuk antre di pompa Pertamax Plus (dulu belum ada Pertamax Turbo). Ndilalah kok ya saya antre barengan super car yang lagi sunmori. Maklum, weekend orang kaya Kelapa Gading.

Saya bersama Toyota Avanza 2010 antre di depan Porsche 911. Belakang saya ada Lamborghini Aventador, Gallardo, dan Ferrari 458. Saya udah ngerasa kayak safety car di acara balapan.

Belum sempet maju, petugas SPBU nyamperin saya. Dia bilang, “Maaf Mas, pompa Premium atau Pertalite di ujung sebelah kiri. Ini Khusus Pertamax Plus.”

Bajilak!

Meski cuma Toyota Avanza lawas, sejak saya boyong dari dealer, nggak pernah nenggak bensin Premium! Mulai agak emosi, saya jawab gini: “Mas, SPBU ini dijual nggak? Bilang sama bosmu sana! Kalau dijual, saya langsung beli sekarang juga!”

Tahu saya sentak, petugas SPBU itu minta maaf. Apakah saya bisa beli SPBU saat itu juga? Ya jelas nggak mungkin!

Dan tibalah waktu untuk melepas Toyota Avanza 2010. Rasanya sedih sekali.

Sebenarnya, saya belum ada niat melepas kesayangan. Namun, diam-diam, ada yang naksir. Katanya, dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia datang secara gentle. Nanya harga. Nggak pakai nawar.

Dengar kayak gitu, hati saya luluh. Udah kayak nerima lamaran orang dan melepas anak gadis sendiri.

Upik Abu saya relakan dipinang tepat di kilometer 80 ribu. Segala fasilitas di dalamnya sekalian diboyong. Ada Power Johnson HD, Subwofer 12 inci, speaker vocal dan Tweeter kaki Tarantula, Head Unit Pioneer dan CrossOver. Termasuk juga empat ban dan velg Ring 15 OEM Toyota. Semuanya masih baru.

Bahkan di hari H, sebelum pemilik baru datang, Toyota Avanza 2010, saya masih sempat bawa ke Nasmoco untuk perawatan. Ada perasaan haru setelah Upik Abu selesai perawatan.

Gimana, ya. Ada yang bilang ini “cuma” mobil, tapi rasanya tetap sedih. Yah, setidaknya, ia ada di tangan orang yang tepat dan dibeli dengan tujuan yang mulia. Yang beli mobil pengin menjadikan Toyota Avanza 2010 sebagai kado pernikahan. Manis banget.

Atas alasan itulah, akhirnya saya mau melepas Upik Abu. Istri saya juga bisa memahami keputusan saya.

Untuk gantinya, saya dapat Toyota All New Rush TRD Sportivo warna putih. Sebuah SUV yang agak bongsor. Mobil matik yang seketika bikin saya kangen sama tranmisi manual Toyota Avanza 2010. Kami memberinya nama Kebo Putih.

Jujur, saya masih bisa menikmati All New Rush ini. Apalagi saya nggak terlalu rewel sama fitur kendaraan. Namun, yang nggak bisa ditawar adalah mobil itu harus RWD!

Saya nggak butuh amat sama yang namanya Immobilizer, Smart Entry Keyless, Cruise Control, Hill Assist Start, Auto Headlamp, Vehicle Stability Control, Traction Control, Parking Sensor, Safety Sense, ABS, EBD, CVT, Quick Shifter, dan apalah-apalah yg serba auto itu.

Butuhnya, ketika buka pintu, bisa atur jok di posisi nyaman, nyalain mesin, atur-atur tombol AC dengan mudah, ada sound system sederhana, dan spionnya aman. Udah. Cukup.

Makanya, setelah melepas Toyota Avanza 2010, saya nggak terlalu tertarik sama All New Avanza atau Veloz 2021 yang sudah naik kelas, tapi FWD itu. Rasanya aneh.

Sejak dulu saya udah begitu. Belajar mobil pakai Toyota Land Cruiser FJ40. Tahu dong, Hardtop besi tua! Terus lanjut Isuzu Panther, APV, Kijang, Genio, Timor, BMW 318i, sampai Xenia. Paling “futuristik” cuma BMW E36 M40 318i 1997.

Mobil-mobil di atas tidak lama saya miliki. Beberapa cuma pinjam, beberapa dagangan. Maklum, makelar. Paling lama tetap Toyota Avanza 2010 yang 11 tahun menemani keluarga kami.

Kini, Kebo Putih menjadi penghuni garasi kami. Semoga anak satu ini nggak nakal, ya, kayak Upik Abu Toyota Avanza 2010

Selamat jalan, Avanza lawas. Sampai berjumpa kembali, dari kami yang mencintaimu….

BACA JUGA Toyota Avanza Itu Ya Avanza RWD, Titik! Avanza Baru Cuma Buat Melayani Orang-orang Kota dan ulasan kendaraan lain di rubrik OTOMOJOK.

Penulis: Mahesa Citra Nusantara

Editor: Yamadipati Seno

Exit mobile version