Renungan tentang Klakson dan Tiga Macam Klakson di Mobil Saya

klakson-mojok

klakson-mojok

[MOJOK.CO] “Sebelum membunyikan klakson, renungkan untuk apa Anda melakukannya: untuk cari perhatian, menyapa, marah, dst.”

Klakson adalah kompartemen mobil yang, mmm… dibilang penting kok, nggak, dibilang nggak, kok bikin sebel kalau ditekan tapi nggak bunyi. Jelas, kebutuhan yang melebihi klakson itu banyak, salah satunya kebutuhan membeli pertalite atau solar. Namun, tanpanya, ada yang bahkan tidak jadi beli bahan bakar karena mobilnya tetap di garasi, takut mau keluar.

Klakson merupakan mulut mobil/motor. Dengan itu mereka ngomong, satu sama lain. Pasalnya, yang berkeliaran di jalanan itu bukanlah Blaze and the Monster Machine. Begitu pun Tayo, tidak berjalan di atas aspal, tapi hilir-mudik dalam imajinasi anak-anak. Klakson (atau “tuter”, kata orang dulu) adalah contoh morse yang paling sederhana meskipun yang disampaikannya tidaklah bermakna huruf. Makanya, jangan sampai kamu pencet dengan bunyi tin-tiiin / tin-tin-tin / tin-tin-tiiin ( .- / … / ..-). Bahaya itu, bisa berarti sebuah makian.

Saya pernah naik bis Sandy Putra (30 Juni 2011) dari Bungurasih menuju Besuki dan ikut bis Sri Lestari (2 Maret 2012) dari Tulungagung menuju Surabaya. Emang kenapa dengan kedua bis tersebut? Pak sopir kedua-duanya suka membunyikan klakson setiap interval 10—20 detik. Rasanya saya sedang berada di dalam kelas yang berjalan dan semua penumpangnya berseragam pramuka. Pak Sopir jadi kakak pembina dan kami ini dianggapnya adik-adik siaga. Saya merasa sedang menerima materi morse paling mencekam yang pernah saya tahu. Soalnya, contohnya tidak pakai peluit, tapi pake klakson electric pneumatic.

Baik, izin curhat sedikit. Saya punya mobil tua, Colt T tahun 1980, bukan koleksi, bukan klangenan, tapi memang cuma itu adanya, kendaraan dinas saya. AS Laksana pernah naik Colt ini dan dia berkomentar, “Mobil kawak itu apa-apanya bunyi semua: pintu, kaca, baut, dasbor. Semuanya bikin berisik. Yang nggak bunyi cuma klaksonnya.” Oh, tapi tidak begitu dengan saya. Milik saya ini malah saya pasangi tiga macam klakson sekaligus di balik bumper depan (dan rencana satu lagi di balik bumper belakang; belum sempat masang, tapi perangkat sudah ada). Sudah sebel saya sama perilaku orang-orang itu. Saya mau jadi antitesisnya.

Klakson pertama: klakson tin-tin, klakson lempengan, perangkat bawaan kayak sepeda motor, 12 volt. Ini dibunyikan kalau jalan pelan saja, itu pun bersyarat: jika sangat terdesak.

Yang kedua, klakson angin, kayak punya truk. Ini dibunyikan untuk situasi yang lebih darurat, baik semisal adanya pemotongan jalur secara mendadak oleh objek bergerak nun jauh di depan atau karena “darurat telolet”.

Yang terakhir adalah toa. Nah, inilah yang paling manusiawi di antara yang lainnya. Jika kamu bertemu Muntasir di tepi jalan dan hendak menyapanya, pasti sapaan kamu itu berupa “trin-trin”. Begitu pula bertemu Samsul, papasan sama Agus, mergoki Moko, tetap saja kamu menyapanya dengan “trin-trin”. Beda dengan klakson toa, saya mengklakson Muntasir dengan bunyi “Sir…!” dan mengklakson Samsul dengan langsung bilang “Sul…! di mulut toa atau “Gus!” untuk Agus, langsung main sebut nama.

Suatu hari gerimis saat saya parkir di pasar ikan, ada gerobak bakso melintas. Saya klakson saja, “Bakso! Satu! Cabenya banyak!” sembari saya mengeluarkan tangan dari balik kaca jendela untuk menggubit karena Mas Bakso tolah-toleh kebingungan mencari-cari sumber suara. Asyik benar klakson seperti ini.

Sebetulnya begini, fungsi klakson itu adalah alat pemberi isyarat untuk kendaraan bermotor. Gerobak sampah tidak perlu klakson, pedati juga. Karena berjalan lebih cepat, kendaraan bermotor butuh perhatian/diperhatikan yang lebih tinggi ketimbang gerobak atau pedati. Andai semua pengguna jalan raya memiliki perhatian dan daya konsentrasi tinggi dalam mengemudi dan berlalu lintas, ia pasti jadi pengangguran, tidak punya pekerjaan lagi. Bukti untuk ini sangatlah nyata. Coba kamu lihat di lintasan balap, pernahkah kamu mendengar Marc Marquez mengklakson Rossi saat akan menyalipnya karena terlalu ke tengah dan menghalangi jalan? Nggak pernah, kan? Ya itu buktinya. Ia tidak diperlukan lagi bagi mereka yang sama-sama sepakat bahwa mengemudi harus konsentrasi tingkat tinggi.

Memang benar juga kalau dikatakan bawah klakson pun mengalami perubahan orientasi dari awal mula ia diciptakan, setidaknya itu tampak di sini, di Indonesia. Bahkan, bunyi tuter kadang digunakan untuk mengekspresikan rasa marah, biasanya nadanya panjang-panjang dan lama. Ia juga digunakan untuk menarik perhatian calon penumpang; kadang berfungsi semata sapaan atau untuk menarik perhatian khalayak, dll. Tapi, intinya, menyapa atau tidak, berisik pula akhirnya.

Jadi, mari kawan-kawanku yang baik, kurangilah ke-micin-an pada klaksonmu di jalanan. Sudah terlalu berisik dunia ini dengan deru mesin, gosip politik, kasak-kusuk selebritis, berita-berita palsu, juga cerobong knalpot. Polusi suara sudah surplus. Mari, jangan tambah lagi margin keberisikannya dengan kelakuan suka membuang klakson ke sembarang telinga.

Apakah pernyataan seperti di atas lantas akan membuat kamu berpikir bahwa saya melarang kamu membunyikan klakson? Oh, tidak, sama sekali tidak. Saya hanya ingin agar kalau mau membunyikannya, coba kamu mikir dulu, diskusikan dulu dengan dirimu yang lain, camkan baik-baik, lalu ajukan pertanyaan eksistensial pada saat jempolmu sudah nempel di tombol tuter kendaraanmu, “Pentingkah aku membunyikan klakson pada saat ini? Apa tujuanku membunyikannya? Jika aku harus membunyikannya, adakah manfaat yang ditimbulkannya bagi kemajuan umat manusia?”

Apa-apa itu harus dipikir. Masa bunyikan klakson itu nggak mikir? Malu dong, jadi manusia kok enggan berpikir. Mending jadi pohon pisang saja, sudah dingin, anyep, tidak berisik.

Atau belajarlah pada ketaatan sepur. Mau membunyikan klakson saja harus nunggu perintah “semboyan 35”.

Serius, saya pernah mengemudi sejauh 384 kilometer sekali jalan. Dalam perjalanan itu, saya mencoba, setiap kali akan memencet klakson, lebih dulu bertanya: demi fungsi yang mana saya akan membunyikan klakson? a) minta perhatian, b) iseng, c) menyapa orang, d) marah, e) cari perhatian, dan f) khawatir. Terkadang bahkan disusulkan dengan beberapa pertanyaan tingkat lanjut sebagai “proposal, preposisi, atau protokol untuk membunyikan klakson” sebelum mengekskusinya. Berikut contoh-contohnya:

  1. untuk siapa bunyi ini dipersembahkan?
  2. apa alasan saya membunyikannya?
  3. apa manfaat bunyi ini bagi kemaslahatan umat manusia?

Karena terlalu ribet oleh aturan yang dibikin sendiri, akhirnya saya nggak jadi-jadi mencet klakson sepanjang perjalanan pergi pulang. Lah, kok ternyata bisa? Jarak 800 kilometer itu lumayan jauh lho kalau tanpa membunyikan klakson sama sekali, tapi ternyata bisa.

Akan tetapi, saya maklum saja, mengubah kebiasaan itu memang susah, tapi saya punya tipsnya. Gunakan klakson dobel dan pisahkan yang satu dengan lainnya. Pasang yang satu di luar, pasang yang satunya di dalam kabin. Begitu kamu membunyikan klakson, maka kamu juga akan mendengar sendiri bunyinya dengan sama kerasnya, atau malah lebih nyaring karena ia berada di dekatmu. Cara ini akan bikin kamu bakal merasa apa yang dirasakan orang lain saat mendengar bunyi klaksonmu.

Dan jika ternyata kamu masih kesulitan, ganti dengan speaker toa lalu gunakan pemutar audio sebagai gantinya. Pasang suara Raisa atau Leigh Nash sebagai tuter. Setidaknya, dengan cara itu orang-orang yang kamu hadiahi klakson akan bahagia karena mereka dapat mendengarkan “klakson bersuara manja”.

Exit mobile version