Baca cerita sebelumnya di sini.

Mengapa Tuhan menciptakan orang miskin yang bodoh dan sama sekali tidak punya ide memperbaiki hidupnya? Aneh sekali rasanya. Seolah-olah Tuhan memang sengaja menciptakan mereka untuk sekadar menjadi alat peraga bagi manusia lainnya. Sengaja diciptakan untuk menderita sepanjang hidupnya.

Kata para pemuka agama, mereka diciptakan untuk memberi kesempatan bagi si kaya berbuat baik dan ikut merasakan sensasi rasa bahagia yang diperoleh setelah memberi. Tapi, kan, nyatanya tidak begitu. Kalaupun ada yang begitu, kebanyakan tetap tidak begitu. Orang lebih bahagia ketika membelanjakan uang daripada memberikannya pada orang lain.

Dan, yang jelas, orang miskin tetap merajalela jumlahnya.

Tapi, kan, banyak orang miskin yang sukses!—begitu pembelaan mereka. Iya, tapi kelompok anomali ini biasanya memiliki kekayaan lain yang bisa menjadi senjata mereka naik kelas. Meskipun miskin materi, mereka memiliki budaya tidak miskin. Mereka memiliki etos kerja dan keyakinan yang cukup pada diri mereka sendiri atas kemampuannya melakukan sesuatu. Dan di luar itu semua, mereka memperoleh cinta yang cukup selama masa perkembangan kejiwaannya.

Anak miskin mempunyai orang tua miskin, paklik, bulek, bude, dan pakde yang juga miskin. Karena miskin, mereka tak mampu mengakses pendidikan yang menyediakan kesempatan mengakses pekerjaan formal yang menjanjikan upah lebih baik. Karena miskin, mereka tak punya jaminan yang membuat mereka mampu mengakses modal usaha. Karena miskin, mereka terbiasa mencukupkan diri dengan apa yang ada dan yakin bahwa itulah jalan hidup mereka. Karena miskin, tiap kali punya uang, mereka salah menghabiskan.

Karena miskin, mereka miskin selamanya.

Gayatri adalah gambar hidup dari kisah kemiskinan itu—bagian dari kelompok yang miskin harta sekaligus berbudaya miskin. Seluruh hidupnya adalah tentang kemiskinan yang membelit. Miskin harta, miskin pengalaman, miskin pengetahuan, miskin kebijaksanaan, miskin kepercayaan diri, dan miskin cinta. Ibunya mati ketika melahirkannya. Bapaknya pergi entah ke mana. Tinggallah ia dengan neneknya yang miskin dan selalu mengeluh tentang kehidupan. Maka, hal pertama yang ia pelajari dalam hidupnya adalah kiat sukses menjadi orang miskin, lalu yang kedua adalah kiat praktis menghancurkan kepercayaan dan harga diri.

“Diam, Tri! Jangan menangis terus!” teriak neneknya.

“Tapi mereka meminta bonekaku… Huhuhuu…”

“Mereka anak orang kaya. Bisa melakukan apa saja. Kita ini orang miskin. Kalau kita melawan, nanti mereka adukan kita pada orang tuanya. Nanti kita masuk penjara dibikinnya. Kamu mau tinggal di penjara seperti Lik Warto yang dituduh mencuri anak kambing Pak Lurah?”

Baca juga:  Curahan Hati Juwita Selepas Hujan Pentol

Begitu jawaban yang selalu diberikan oleh nenek Gayatri ketika ia diganggu oleh teman-temannya, ketika boneka jagung yang ia dapat dari neneknya direbut oleh mereka. Padahal, tak setiap hari ia bisa memeluk dan bermain dengan boneka seperti itu. Hanya ketika musim panen jagung dan neneknya dipanggil untuk membantu panen Pak Yai Mulyono-lah ia bisa mendapat mainan boneka jagung yang bisa dikepang-kepang rambutnya.

Nenek selalu mengajarinya mengalah ketika ia diganggu teman-temannya dalam aneka rupa bentuk gangguan. Takut betul ia kalau sampai harus berurusan ganti rugi dengan orang kaya. Apa yang mau dipakai untuk mengganti, coba? Harta yang mereka punya hanya rumah bambu reot dan baju yang menempel di badan. Gayatri belajar tentang perbedaan kuasa antarkelas bahkan sejak ia belum memahami makna kemiskinan yang sesungguhnya.

Gayatri ingin sekolah, tapi neneknya bilang tidak. Tak ada uang untuk beli seragam. Tak ada uang untuk beli buku. Tak ada uang untuk membayar uang gedung. Tak ada kartu-kartu yang diterbitkan penguasa untuk golongan mereka di masa itu.

Di umur 9 tahun, ia dititipkan pada Mbok Tum untuk membantu mencuci piring di warung makannya, sementara neneknya bekerja apa saja kepada siapa saja yang masih mau menggunakan tenaganya yang sudah menjelang renta. Gayatri tidak diupah untuk pekerjaannya, tapi Mbok Tum bersedia memberinya makan dua kali sehari. Begitu tahun demi tahun ia jalani.

Suatu ketika, pelayan Mbok Tum mengundurkan diri karena diajak merantau suaminya. Maka, berakhirlah karier Gayatri sebagai tukang cuci piring dengan upah makan dua kali sehari. Pangkatnya naik jadi pelayan warung. Selain mendapat dua kali makan, ia juga mendapat gaji dalam bentuk uang. Saat itu, usianya sudah belasan; sudah mendapatkan haid pertamanya, sudah bermetamorfosis dari kempompong menjadi seorang gadis remaja.

Untuk memudahkan pekerjaan Gayatri, Mbok Tum mendaftarkannya pada kelas Kejar Paket A di balai desa setiap sore. Tujuannya, agar Gayatri bisa menghitung sendiri berapa total yang harus dibayar pembeli ketika sesekali Mbok Tum harus meninggalkan warung tiba-tiba. Nantinya, apa yang dilakukan Mbok Tum padanya itu menjadi bekal satu-satunya untuk bertahan hidup.

***

“Menikahlah denganku. Nanti kamu tak perlu lagi bekerja menjadi pelayan Mbok Tum. Aku yang akan menghidupimu,” begitu laki-laki dekil itu selalu merayunya tiap kali mampir di warung Mbok Tum.

Gayatri sebenarnya tidak jelek, tapi tidak juga cantik. Kulitnya coklat gelap. Hidungnya hampir pesek. Tapi laki-laki itu jauh lebih jelek daripada laki-laki kebanyakan. Tak ada gadis yang mau dipacarinya. Darman namanya.

Baca juga:  Das Kapital: Buku yang Harus Anda Baca Berapa Pun Usia Anda

“Memangnya apa pekerjaanmu bisa mengidupiku?”

“Lhooo, kamu ini ndak tau, ya? Aku ini tangan kanannya Juragan Haryo. Kamu tau siapa Juragan Haryo? Haa, ndak tau? Walaaa, kamu ini taunya cuma sego ndok saja.

“Juragan Haryo itu pemilik peternakan babi terbesar di kota ini. Dia menyuplai daging babi untuk restoran-restoran besar di kota ini. Hanya restoran orang kaya yang pakai daging babi. Bukan warung makan kayak punya Mbok Tummu ini.”

Gayatri senang kalau Darman datang. Ia senang mendengarkan cerita-cerita Darman tentang kehidupan orang-orang kaya. Baginya, yang kesehariannya tak jauh-jauh dari rumah reot, warung dan pasar desa ketika disuruh Mbok Tum belanja untuk warung, Darman adalah jendela melihat ke dunia luar yang luas.

Alaaah jangan didengerin omongannya Darman itu, Tri. Sejak zaman buaya cuma makan kancil sampai buaya makan gadis muda, dia sudah ikut juragan anu, juragan ono, juragan inu, tapi mana buktinya? Sepeda motor aja ndak gablek. Umbrus aja dia itu bisanya. Jangan termakan bujuk rayunya. Saking ndak ada yang mau sama dia saja itu dia merayu kamu.”

Begitu Mbok Tum sering menyela rayuan Darman yang “sundul langit” tiap kali datang ke warung. Tapi selalu juga Gayatri hanya diam dan tersenyum menanggapinya. Gadis muda lugu yang merindukan cinta itu terlanjur mobat mabit hatinya tiap kali dirayu Darman.

Yah, apa lagi, sih, yang lebih indah dari janji kehidupan yang lebih baik bersama laki-laki yang mencintai kita?

Gayatri hanya masih takut keluar dari sarangnya. Ia boleh miskin, tapi sejak membantu Mbok Tum, ia tak pernah kekurangan makan. Rumahnya boleh berdinding bambu jelek di ujung desa yang tak berlistrik dan dikelilingi tegalan bambu milik warga, tapi ia bisa tidur nyenyak di atas dipan reotnya. Ia dan neneknya memang miskin, tapi mereka tak punya hutang. Sejauh itu, hidupnya cukup nyaman. Ia hanya berdoa semoga mereka mati dengan mudah tanpa sakit lama yang membutuhkan banyak uang.

Dan, doanya terkabul. Suatu sore, neneknya tiba-tiba ambruk ketika sedang menyiapkan makan malam mereka. Gayatri menemukannya tergeletak di lantai dapur ketika ia keluar dari kamar mandi. Ia berusaha membangunkannya, tapi neneknya tak pernah bangun lagi.

Neneknya pergi, meninggalkan Gayatri sendiri menjalani takdirnya.

Baca cerita berikutnya di sini.



Loading...



No more articles