MOJOK.CO – Andai kita umat Islam meyakini bahwa bumi ini adalah masjid, tempat kita beribadah dan sujud kepada Allah maka 70% masjid kita ini adalah air.

Islam mengajarkan bahwa kita bukanlah pemilik apa pun yang ada di alam semesta ini.

Segala sesuatu yang ada di sisi dan sekitar kita sesungguhnya bukanlah milik kita, termasuk molekul yang tersusun dari dua atom hydrogen dan satu atom oksigen, yakni air. Bahkan seyogyanya, kita bukanlah pemilik air walaupun sebagian besar elemen penyusun bumi (70%) adalah air.

Amanat yang diberikan Allah Swt. kepada kita menjadi penjaga (khalifah) bumi menuntut kita untuk bertanggung jawab atas segala tindakan yang kita lakukan, termasuk segala tindakan berkelindan dengan air.

Andai kita meyakini bahwa bumi ini adalah masjid, tempat kita beribadah dan sujud kepada Allah maka 70% masjid kita adalah air. Masjid kita adalah lautan, sungai-sungai kecil maupun yang besar, danau, mata air, dan sumur.

Tentu saja sebagai khalifah Allah di muka bumi, kita berhak memanfaatkan air. Bahkan, kita memerlukan air untuk sekadar bertahan hidup. Akan tetapi, kita mengingkari hak itu jika kita mengotori, meracuni, atau enggan memberi air kepada tanaman, hewan, dan sesama manusia—semua yang juga membutuhkan air untuk bertahan hidup.

Ibrahim Abdul-Matin dalam karyanya, Greendeen: Inspirasi Islam dalam Menjaga dan Mengelola Alam (2012: 181-185) meneroka dengan cerkas, bahwa prinsip-prinsip Islam sebagai “Agama Hijau” menuntut kita untuk mengelola dan mendisribusikan air secara adil dan merata.

Sebab, kita semua terhubung dengan air sebagai salah satu ciptaan Tuhan. Semua manusia memiliki hak yang sama atas air. Ini makna tauhid: Kesatuan Tuhan dan ciptaan-Nya.

Keadilan dalam pengelolaan air merupakan jalan utama dan mendasar untuk mewujudkan tauhid, keadilan (‘adl), dan keseimbangan (mizan) di jagat ini. Kita semua berasal dari air. Kita semua membutuhkan air untuk bertahan hidup, dan kita semua bertanggung jawab menjaga air tersedia dan aman bagi siapa pun.

Baca juga:  Cerita Tiga Orang Tuli dan Seorang Sufi Bisu

Tatkala potensi air dikelola dan diatur secara galat, air justru menjadi saluran yang menghubungkan manusia dengan kematian. Akibat ketidakadilan dalam sistem pengelolaan, air menjadi sumber kematiaan, bukan kehidupan.

Perhatikan data statistik yang diwartakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tahun 2008, WHO merilis bahwa 3,6 juta orang mati setiap tahun akibat penyakit-penyakit yang berkelindan dengan air, dan bahwa 84% dari mereka yang meninggal dunia itu adalah anak-anak dari usia nol hingga empat belas tahun.

Kekurangan ait tidak hanya berkelindan dengan kurangnya volume air yang dibutuhkan tubuh untuk bertahan hidup, tetapi juga berkelindan dengan sistem sanitasi yang buruk, atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh kurangnya akses kepada air bersih.

Ekstraksi air di negara-negara berkembang juga sangat memberatkan kaum perempuan yang di banyak negara harus berjalan rata-rata 3,7 mil hanya untuk mendapatkan air. Data-data statistik ini menorehkan lukisan yang usam berkelindan dengan akses dan distribusi air.

Tidak ada solusi seketika atau pil ajaib yang dapat menuntaskan persoalan selit belit berkelindan dengan air. Namun, sebagai manusia beriman, selaiknya kita menjadikan keimanan sebagai kompas sikap dan perilaku kita sehari-hari, termasuk sikap kita berkenaan dengan air.

Sejak awal kemunculannya di dunia Arab kurang lebih empat belas abad yang lampau, Islam telah mengajarkan dan memerintahkan umatnya untuk menjaga kesucian. Tidak hanya itu, Al-Quran dan hadis secara khusus memberi panduan berkelindan dengan penggunaan air.

Dalam ayat-ayat Al-Quran, Allah menegaskan kesaling-hubungan seluruh makhluk sehingga dikatakan bahwa mencederai seorang manusia sama dengan mencederai seluruh manusia.

Baca juga:  Iman dan Pilihan Sayang

Dikaitkan dengan penegasan Al-Quran itu, berarti kita membatasi atau menahan seseorang  untuk mengambil haknya atas air, berarti kita telah mengusik dan merusak kemanusiaan.

Jika kita membatasi akses kepada air, berarti kita telah melakukan kerusakan dan keburukan. Tindakan semacam itu akan menimbulkan konsekuensi berkanjang: kematian dan penyakit.

Rasulullah saw. memperingatkan para pengikutnya mengenai akibat buruk yang akan menimpa orang yang menolak memberikan air.

Dia bersabda, “Ada jenis tiga manusia yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kebangkitan, tidak pula dibersihkan oleh-Nya, dan mereka itu akan ditimpa siksa yang berat. Salah satu dari mereka adalah orang yang memiliki air berlimpah tetapi enggan memberikannya kepada para musafir” (H.R. Bukhari, [10] 10).

Oleh sebab itu, untuk menjadi orang yang diridha Sang Pencipta, kita harus berupaya keras untuk menciptakan akses terhadap air bagi setiap orang. Air seharusnya dimiliki secara kooperatif.

Agama Islam mengajarkan bahwa sumber-sumber air seperti mata air, sumur, sungai, danau, dan sejenisnya—yang semuanya merupakan tanda-tanda (ayat) Allah—adalah milik kita semata dan diperuntukkan bagi semua manusia.

Allah berfirman, Dan kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kalian dengan (air) itu dan bukanlah kalian yang menyimpannya (Q.S. al-Hijr [15]: 22).

Tuhanlah yang memiliki air dan Dia pulalah yang mengendalikannya. Sebagaimana segala sesuatu yang liyan, kita telah diberi tanggung jawab untuk menjaga air dan memanfaatkannya secara adil dan ugahari.

Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur? (Q.S. al-Waqi’ah [56]: 69-70).


Sepanjang Ramadan MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus soal hikayat dan sejarah peradaban Islam dari sejarahwan Muhammad Iqbal.