MOJOK.CO – Sebagai influencer kelas berat, cara Raffi Ahmad mengkritik Pemerintah itu memang beda kelas dengan kita. Warbiyasa emang.

Kalau bukan karena rutin ngapel ke beranda IG Kak Anya Geraldine yang hobi jatuh saat sepedaan itu, kita mungkin akan terus berdebat sampai botak soal kenapa Raffi Ahmad yang mewakili anak muda? Kenapa bukan Habib Bahar bin Smith—misalnya?

Toh, kalau diuji perkara militansi jamaah dan usia, keduanya hampir berimbang.

Beruntunglah, Kak Anya bikin story di IG bareng para seleb kesohor ibukota, yang lagi nongkrong-nongkrong asyik tanpa patuh pada protokol kesehatan. Di sana ada Gading Marten, Nagita Slavina, Sean Gelael, juga Raffi Ahmad—yang mungkin berangkat dari rumah dengan niat menjajal ilmu kanuragan.

Dan akhirnya, seluruh teka-teki, uneg-uneg, dan iri dengki kita berbalik sudah. Kini, yang menjadi pertanyaan bukan lagi…

“Kenapa pemerintah mau mengajak Raffi Ahmad untuk divaksin awal?”

Tapi, menjadi…

“Kenapa Rafi Ahmad memilih mau diajak pemerintah untuk divaksin awal?”

Raffi Ahmad jelas bisa bersabar, toh dengan harta yang melimpah-ruah itu dia bisa divaksin kapan pun, sekarang atau lima puluh tahun lagi~, tanpa harus takut nggak kebagian jatah.

Bayangkan, di tengah keraguan orang-orang terhadap kemanjuran vaksin, Raffi Ahmad rela disuntik, datang pagi-pagi, pakai batik rapi, bikin vlog bareng Presiden pula.

Lewat acara nongkrong-nongkrong cantique jajaran seleb itu, saya kini meyakini bajwa tujuan Raffi Ahmad mau divaksin duluan adalah bentuk kritik kepada rezim influencer, yang matanya langsung berubah jadi ijo hanya karena melihat jutaan followers di IG atau Subscribers di kanal YouTube, tanpa mau paham bahwa ada kelompok—meminjam istilah Mbak Nia Lavinia—bad Influencer. Mereka yang mencontohkan, atau memberi, pengaruh buruk pada pengikutnya.

Baca juga:  Fadli Zon Gubah Lirik Potong Bebek Angsa Jadi “Maksa Dua Kali, Takut Diganti Prabowo-Sandi”

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kini Influencer adalah humas tak resmi dari Pemerintah. Bahkan Pak Menteri Johny G. Plate mengakui itu dengan sangat percaya diri.

Karena menurutnya, “Pemerintah memakai influencer bukan sesuatu yang salah karena mereka terpercaya dan teridentifikasi.”

Saking percayanya sama influencer dan merasa udah sohib banget, menurut Indonesian Coruption Watch (ICW), Pemerintah bahkan rela menggelontorkan dana tak kurang dari 90,45 Miliar sepanjang 2104-2019 hanya untuk menyewa jasa para selebriti-jutaan-pengikut dalam urusan mengampanyekan kebijakannya.

Bisa dibayangkan pas Covid-19 seperti ini, di mana informasi lalar-liwat tak tentu arah, konspirasi nyebar lewat warung kopi, jasa dan peran mereka jelas sangat laku di pasaran.

Pada momen seperti inilah Raffi Ahmad muncul di tengah kegelapan dengan membawa lentera yang super terang. Raffi Ahmad pasrah menjadikan dirinya sendiri sebagai objek evaluasi pemerintah, bahwa jasa influencer ini nggak efektif-efektif amat dan sangat perlu ditinjau ulang.

Raffi bukannya tidak paham bahwa setelah vaksinasi dia harus tetap taat pada protokol kesehatan, 3M + 3T, alih-alih keluyuran di tengah kerumunan ketika Ibu Kota sedang dalam PSBB Ketat.

Yang bersangkutan juga pasti mengerti, 14 hari setelah vaksin tahap pertama dia akan kembali menerima suntikan kedua, seperti yang diunggah oleh Pak Jokowi di Twitter.

Tapi Raffi Ahmad tetap teguh pada pendiriannya, untuk mengkritik Pemerintah dan melakukan kegiatan seperti biasa. Lha wong sebelum disuntik vaksin saja dia bukan tipikal orang yang nggak ketat-ketat amat menerapkan protokol kesehatan, apalagi sekarang.

Baca juga:  Reformasi Kebijakan Pangan: Gimmick Apa Lagi? 

Coba saja cek postingan Instagramnya, banyak kok konten bapaknya Rafatar ini nggak pakai masker, ogah menjaga jarak, dan masih hobi vakansi sana-sini buat keperluan konten.

Atau coba lihat acara-acara yang dia bawakan di tipi, Raffi Ahmad bisa lenggak-lenggok di depan kamera hanya modal Face Shield tanpa masker, lho. Padahal kata Pak Jubir Ahmad Yurianto itu sama saja seperti pakai payung tanpa jas hujan, sudah begitu payungnya Payung Teduh pula.

Kalau dipikir-pikir ini sama saja kayak minta bantuan Tsubasa buat lawan Saitama, atau memohon agar Deddy Corbuzier mempromosikan Pomade, alias sia-sia gak guna, bosqueee~.

Pemerintah kecele untuk kesekian kalinya, Raffi Ahmad makin cerdas dalam menunjukkan tajinya. Naik ini mah brand-brand yang mau nyewa jasa Pak Raffi.

Mungkin maksud Raffi Ahmad dalam acara nongkrong-nongkrong itu adalah memberi pesan pada pemangku jabatan, coba gitu seandainya mau kerja sama dengan influencer dibikin riset dulu yang mendalam.

Bila perlu sewa admin Fadli Zon untuk stalking-stalking sampai akar. Dilihat secara saksama, bukan sekadar berapa jumlah pengikutnya.

Sebab, kalau cuma perkara banyak-banyakan pengaruh dan pengikut, ya jelas bukan Raffi Ahmad yang seharusnya dipilih.

Lah terus siapa?

Jelas HRS dong ya. Kok ya masih pake nanya.

BACA JUGA Jokowi Disuntik Vaksin, Politisi PDIP Ribka Tjiptning Malah Tolak Divaksin dan tulisan Muhammad Nanda Fauzan lainnya.