Rambat agaknya masih berhasrat untuk menjadi seorang pria sejati, pagi ini dia duduk duduk di depan televisi menyaksikan acara yang tidak biasanya ada. Ditemani dengan tiga cangkir kopi hitam manis kesukaannya dan sepiring gorengan. Angan-angannya menerawang, ia pun mulai senyam-senyum sendiri.

***

Rambat akhirnya diizinkan pulang dari pondok pesantren setelah nyantri selama sepuluh tahun, orang tuanya membutuhkan bantuan tenaganya, praktis setelah ini dia harus bekerja setelah sebelumnya selama di pesantren dia hanya tinggal pesan minta dikirimi uang dan beras.

Di usianya yang sudah mendekati kepala tiga, Rambat sudah tentu sangat ingin menikah, ibarat orang yang sudah seharian berpuasa kemudian menjumpai waktu maghrib, seperti itulah jiwa Rambat saat ini. Nafsu ingin bercinta dengan seorang gadis adalah godaan paling dahsyat dalam hidupnya.

Walaupun alumni pesantren, nyantri bertahun-tahun di pondok salaf, tapi rupanya Rambat tidak berbakat untuk jadi seorang ulama atau kyai, maklum saja, untuk urusan memahami pelajaran di pesantren, dia sangat lemah, kalang kabut. Beruntung, untuk hal-hal di luar pelajaran, ia terbilang ampuh dan bahkan cerdik dan terampil.

Keterampilannya itu ia buktikan dengan menjadi seorang pekerja yang serba bisa. Tangannya benar-benar hidup. Berkarya membuat apapun, hasilnya hampir selalu bagus dan rapih.

Hal tersebut kemudian mengantar Rambat menjadi seorang pengrajin mebel kenamaan di kotanya. Banyak mebel-mebel besar yang selalu memesan meja, kursi, dan almari di tempat Rambat. Hal yang kemudian membuat Rambat menjadi seorang juragan kecil-kecilan hanya dalam waktu yang singkat.

Baca juga:  Ulang Tahun Rambat dan Sekretarisnya

Kesuksesan Rambat pun kemudian berbuah manis. Ia sekarang menjalin hubungan dengan Wati, gadis manis anak salah satu manajer mebel yang biasa memesan meja dan kursi di tempat Rambat.

Mereka menjalin hubungan selama enam bulan sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah.

Wati sangat beruntung mendapatkan suami sehebat Rambat. Sebab, tak hanya terampil di tempat kerja, Rambat pun terampil di tempat tidur. Rambat adalah lelaki yang benar-benar mampu memuaskan Wati lahir batin.

Wati hampir selalu dibuat kelojotan oleh aksi Rambat di atas ranjang. Tak pernah terbayangkan bahwa menjadi istri Rambat bakal senikmat ini.

Kenikmatan yang didapatkan oleh Wati sungguh telah membuatnya ketagihan. Hampir setiap kali Wati dan Rambat berhubungan, Watilah yang meminta terlebih dahulu, bukannya Rambat.

***

Hari ini tidak seperti biasanya, ada tayangan televisi yang membuat Rambat begitu bergairah, seorang yang konon sangat sakti sedang live di suatu acara.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu juga pemirsa sekalian, Tuhan Maha Kuasa, Tuhan Maha Sempurna, Tuhan Maha Segalanya, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, tadi kita sudah saksikan bersama-sama, Tuhan telah menyembuhkan gadis buta ini menjadi bisa melihat kkembali melalui tangan saya, tadi juga sudah Anda saksikan sendiri, bagaimana pemuda lumpuh itu dengan kuasa Tuhan sekarang bisa berjalan, maka jangan ragu akan kuasa Tuhan, jangan ragu akan keajaiban Tuhan”

Baca juga:  Emprit Kaji, Si Burung Haji yang Belum Tentu Islam

Rambat semakin bergairah saat orang sakti di televisi itu mengajak berinteraksi tidak hanya dengan orang yang yang kebetulan hadir di tempat acara itu tayang saja, tapi juga yang sedang menonton acara tersebut.

“Mari bapak-bapak ibu-ibu dan pemirsa yang sedang menyaksikan acara ini, tempelkanlah satu tangan Anda ke layar monitor televisi Anda, lalu sentuh bagian tubuh Anda yang sakit dengan tangan satunya, mari kita buktikan sama-sama kuasa Tuhan, saya bantu dari sini, yakinlah dengan kuasa Tuhan, saat ini juga”

Rambat pun dengan tertatih tatih mendekatkan posisi duduknya ke tempat televisi, dengan bergetar tangan kanan Rambat menyentuh layar monitor televisi, sementara tangan kiri Rambat dimasukkan ke dalam sarung, hendak merogoh burung miliknya yang sudah mengeriput seperti kulit di tubuhnya.

“Nek! Kakek itu lagi ngapain sih?” seorang bocah tujuh tahun tiba-tiba menuding Rambat

Wati segera berkomentar sambil menggandeng dan mengelus elus rambut bocah tujuh tahun di sampingnya.

“Mas, itu tu, untuk menyembuhkan yang sakit, bukan menghidupakan yang sudah mati”

Rambat buru-buru menarik tangan kirinya dari dalam sarung, kecewa!

Komentar
Kirim Artikel
No more articles