Misteri Tulang-belulang di Gunung Selendang dan Kloning Alam Gaib

Misteri Tulang-belulang di Gunung Selendang dan Kloning Alam Gaib MOJOK.CO

Misteri Tulang-belulang di Gunung Selendang dan Kloning Alam Gaib MOJOK.CO

MOJOK.COKalau tetua kampung sudah memberi peringatan, sebaiknya kamu dengarkan dan patuhi. Jangan sampai keangkeran Gunung Selendang menimpa dirimu.

Sewaktu masih SMP, sekitar akhir 1970, keluarga saya pindah rumah ke Kecamatan Sangasanga, Samarinda. Rumah baru kami berhadapan langsung dengan Gunung Selendang.

Jumlah rumah yang ada di sepanjang jalan kampung saya bisa dihitung dengan jari. Rata-rata terbuat dari papan dan balok ulin sebagai tiang pancang, bentuknya memanjang ke belakang, membelakangi Sungai Mahakam.

Setelah menetap beberapa bulan, dengan rasa penasaran, saya bertanya kepada Ibu alasan kami pindah ke sini.

“Kenapa Ayah memilih rumah yang posisinya berhadapan dengan Gunung Selendang?”

“Ayahmu mengontrak rumah ini karena murah. Sepanjang kampung hanya rumah ini yang kosong, jadi nggak ada pilihan lain,” jawab Ibu.

Pertanyaan tersebut terlontar karena saya kurang setuju dengan pilihan Ayah. Bagaimana tidak, setiap cerita yang menyinggung Gunung Selendang selalu lekat dengan perkara gaib.

Tetua kampung pernah berujar, “Jangan keluar malam hari, apalagi jalan seorang diri dekat gunung itu, kecuali ada keperluan mendesak.”

“Memang ada apa julak? Ada begal?” Julak adalah istilah untuk paman.

“Bukan begal, tapi sering ada sesuatu yang mengikuti dari belakang, gerak-gerik dan fisiknya sama persis dengan apa yang diikutinya.”

Baru sekali ini saya mendengar ada cerita horor beginian. Semacam kloning dalam dunia gaib. Semua masyarakat di kampung ini sudah maklum dengan keangkeran Gunung Selendang. Tidak untuk saya yang baru beberapa bulan tinggal di sini.

Mari, sedikit saya kasih gambaran sekitar Gunung Selendang kala malam menjelang….

Ketika mulai kurup-kurup (memasuki senja) sepanjang jalan area di sisi Gunung Selendang ini mulai berubah drastis. Jalan ini persis di depan rumah saya.

Melintas saat malam di jalan aspal tua peninggalan Belanda ini tak ubahnya seperti menggiring pejalan kaki memasuki lorong gelap. Lampu penerangan jalan hanya ada dua di sepanjang 500 meter. Lampu jalan itu sangat tua. Bahkan cahayanya kalah dengan cahaya sekumpulan kunang-kunang.

Di sisi barat jalan, pandangan saya tertuju ke Sungai Mahakam. Keadaan begitu gelap ketika malam semakin tua. Sinar bulan sedikit membantu lampu jalan yang muram itu. Pantulan sinar bulan sedikit membantu arah pandangan. Kadang, di atas sungai terlihat beberapa titik sinar kecil. Seperti mata buaya sedang mengambang.

Bunyi gemericik air sungai terkena terpaan angin malam terasa dingin dan basah, membuat bulu kuduk bergetar halus. Di sebelah timur jalan, tatapan mata langsung ke Gunung Selendang.

Pepohonan berusia ratusan tahun yang dikitari rumput ilalang setinggi pinggul orang dewasa seolah menari-nari karena embusan angin gunung. Sesekali terdengar suara burung hantu. Alunannya seperti memanggil-manggil siapa saja yang sedang melewati jalan aspal tua ini untuk merapat ke gunung.

“Huuh!”

Saya mencoba mengusir bayangan-bayangan menyeramkan yang mulai muncul di dalam kepala. Saya membatin. Ada benarnya juga kata tetua kampung.

Suatu hari Ibu menyuruh saya ke tempat kakek tukang solder panci. “Nang, coba bawa panci bocor ini ke kai’ (kakek) tukang solder itu.”

Tempat kai’ tukang solder tidak jauh dari rumahku, kira-kira 50 meter jaraknya.

Posisinya di seberang jalan tepat di bawah kaki Gunung Selendang. Karena dekat, tidak butuh waktu lama saya sampai di rumah ‘kai.

“Kai’… kai’,” Beberapa kali saya mencoba memanggil beliau. Rumah panggung itu sunyi senyap. Di teras rumah, peralatan solder dan kaleng bekas berserakan.

Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu terbuka perlahan. Ternyata beliau. Kai’ berjalan pelan ketika keluar dari rumah. Dia melirik ke arah saya sebelum duduk di atas kursi kayu sambil memegang alat solder.

Beliau tidak banyak cakap. Jika diajak bicara, respons cuma tipis, anggukan seperlunya. Kalau bekerja selalu memakai seraung, topi khas Dayak Kalimantan, mirip caping.

Kepulan asap rokok siong berbau menyan yang selalu menempel di bibirnya menyatu dengan asap solder dan menjadi tabir. Saya sulit mengenali wajahnya karena teralingi oleh seraung yang selalu dikenakan. Mungkin usianya 80 tahun. Mungkin malah lebih tua lagi.

Sambil menunggu kai’ menyolder panci ibu, saya beringsut perlahan, mencoba mengamati semua sudut rumah kecil ini. Sekelebatan, saya merasa kai’ memperhatikan gelagat saya dari balik seraungnya.

Suasana desa dan gelagat kai’ membuat saya makin merinding. Cerita-cerita horor soal Gunung Selendang kembali terbayang. Bayangan-bayangan menyeramkan itu menemani seiring perjalanan singkat kembali ke rumah setelah kai’ selesai memperbaiki panci ibu.

Di desa ini, satu-satunya hiburan adalah nonton film. Sore itu, ada Datsun pickup melintas di depan rumah dengan gambar film yang akan main di bioskop besok malam. Memakai pengeras suara, film tersebut disiarkan ke pelosok kampung. Tolong jangan bayangkan bioskop di sini seperti bioskop di kota.

Kebetulan, Ayah punya satu tiket gratisan. Ayah tidak mau pergi nonton karena tidak begitu suka dengan film silat Mandarin. Celakanya, tiket gratisan itu hanya bisa digunakan untuk nonton tayangan kedua, berarti keluar dari bioskop sekitar pukul 23! Kala itu, film hanya tayang dua kali, pukul 19.00 dan 21.30.

“Jangan keluar malam… jangan keluar malam….” Kalimat peringatan tetua terngiang di dalam kepala. Namun, tekat saya sudah bulat.

Saya agak berani berangkat untuk nonton karena beberapa kawan juga ikut berangkat. Bioskop itu terlihat lengang. Maklum, sudah tayangan kedua. Singkat cerita, film bubar pukul 23 tepat.

Selepas nonton film, kawan-kawan sempat bercanda membahas aksi laga film tadi. Saya cuma membatin. “Boro-boro mau asyik membahas film tadi, bisa sampai ke rumah dengan selamat sudah syukur.”

Awalnya, saya bersyukur ada banyak kawan yang ikut nonton. Namun, sekarang saya menyesalinya. Badil, salah satu kawan saya, bilang begini, “Nanti, kalau sampai di jembatan kecil, ancang-ancang ya!”

“Ancang-ancang apa?”

“Ya lari sekencangnya,” jawab Badil sambil tertawa. Brengsek, batin saya.

Sekali lagi, peringatan tetua tentang Gunung Selendang muncul di dalam kepala. Sial, sepertinya saya sudah mengambil keputusan yang salah. Yah, apa boleh buat. Sudah terlanjur.

Sambil menahan rasa kantuk, kami berlima pulang jalan kaki menuju rumah masing-masing. Kawanku Bandil dan Bembot pamit duluan karena rumahnya tidak jauh dari bioskop. Tersisa aku dan dua kawanku kakak beradik, Jahar dan Ibran.

Hari semakin larut….

Lampu penerangan jalan hanya seadanya terpasang di sudut perempatan dan pertigaan. Untung masih ada sinar bulan menerangi jalan aspal penuh lubang itu.

Kami bertiga berjalan dalam diam. Perasaan saya sudah sangat tidak nyaman. Rasa kantuk berubah jadi tegang ketika kami harus melewati kawasan pekuburan yang letaknya di atas bukit.

 Sesekali, Ibran menengok ke belakang dengan pandangan pucat. Seperti ingin mengambil ancang-ancang. Sementara itu, Jahar sedikit lebih tenang, tapi langkahnya tidak beraturan, mungkin sedang mempersiapkan tenaga untuk lari sipat kuping.

Untungnya, Ibran dan Jahar tidak berlari begitu saja. Kalau keduanya memutuskan lari, saya pasti tertinggal. Luka di telapak kakiku bekas kena pecahan beling belum sembuh benar. Jalan saja masih sedikit terseok.

Sesampainya di kampung Strat Nanas, Jahar dan Ibran pamit dan langsung bergegas menaiki tangga rumahnya.

HA! Sepertinya Jahar melihat sesuatu! Mukanya pucat pasi ketika bergegas menaiki tangga rumah sambil berpamitan. Sikapnya grasah-grusuh, padahal saya tahu Jahar bukan orang seperti itu. Jangan-jangan, di bawah bukit kuburan, dekat Gunung Selendang tadi kami sudah dikuntit “tiga anak-anak tanggung” yang… yang sama persis seperti kami bertiga!

Imajinasi negatif itu sudah tidak bisa saya usir.

Dari tangga rumah, Jahar melambaikan tangan dan menengoku sekejap.

Sedangkan Ibran dengan sigap membuka pintu dan langsung masuk tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Apa maksud lambaian tangan Jahar tadi? Apa dia memanggilku untuk nginap saja atau memberi isyarat apa yang dilihatnya tadi?

Jangan berlama-lama di sini, saya membatin. Saya mantapkan diri supaya tidak cemen banget. Saya harus sampai rumah secepat mungkin.

Setelah meliwati jembatan kecil, saya mulai ancang-ancang sesuai nasihat Bandil. Tapi… tapi kaki saya seperti lengket di jalan aspal tua ini.

Sebenarnya, jarak rumah tinggal 200 meter. Sudah dekat. Saya sempat menengok ke arah sungai. Ada pantulan bayangan sekelebat. Ini pertanda buruk. Saya merasa sudah berjalan secepat mungkin. Tapi, rasanya lambat sekali.

Tiba-tiba, dari arah kaki bukit di sebelah Gunung Selendang itu, saya lihat ada anak sebaya saya memanggil-manggil dengan lambaian tangan. Persis seperti Jahar. Jaraknya kira-kira selemparan batu dari tempat saya berdiri.

“Dia” terus melambai-lambaikan tangannya, dari kejauhan wajahnya terlihat dingin, seperti nggak ada darahnya.

“Gila ini!”

Saat itu, sinar bulan membantu saya melihat sosok “dia” lebih jelas lagi. Dia yang beringsut mendekati pohon besar.

Jantung berdebar, dengkul mulai lemas.

“Apakah itu Jahar? Ahh pasti bukan dia!” Saya mengeluh dengan suara keras.

Tapi, ada bisikan gaib di telinga yang terus bergaung, “Benar Nang, dia Jahar, kawan sekolahmu, cepat ke bukit!”

Sekuat tenaga suara itu saya tepis. Sekuat tenaga pula saya alihkan pandangan ke jalan. Saya paksakan kaki untuk terus melangkah. Perut mulai mual. Keringat dingin bikin punggung saya kuyup. “Tidak mungkin, mustahil, Jahar sudah masuk rumahnya.” Saya berusaha menepis kenyataan yang baru saya lihat.

Suara burung hantu terus mengalun tak henti-hentinya seperti menyuruh kaki ini melangkah secepatnya merapat ke bukit. Saya berusaha tidak memedulikan suara itu. Tapi tidak berhasil.

Saya melangkah terus, walaupun agak terseok karena bekas luka di telapak kaki mulai mengeluarkan darah. Setibanya didepan rumah kai’ tukang solder, saya tersentak untuk ke sekian kali.

Di teras rumah yang berantakan itu, saya melihat kai’ sedang bekerja, menyolder sesuatu. Tidak biasanya kai’ bekerja di tengah malam begini. Sambil menyolder, saya melihat matanya melirik ke arah saya. Lirikan mata itu membuat saya tercekat. 

Belum sempat berfikir, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara dengan nada datar.

“Nang… Nanang….” Suaranya berulang-ulang. Setelah sedetik mendengarkan suara itu dengan seksama, jantung saya berdegup makin kenceng. Itu suara saya!

Nekat dan sambil gemetar hebat, saya menengok ke belakang. Di jarak lima meter dari tempat saya berdiri, berdiri seorang anak yang perawakannya sama persis seperti saya.

“Dia” memakai kaos putih lusuh, telapak kaki kiri tergulung perban berdarah dan menempel ke sandal jepit. Sialan, itu saya!

Saya tidak bisa melihat wajahnya karena “Nanang” yang ini juga menengok ke belakang, meniru gerakan saya sama persis.

Maka, saya hanya bisa berteriak sejadinya. Saya memanggil kai’ untuk minta tolong. Bukan pertolongan yang saya dapat. Saya kembali dibuat kaget. Saya sudah tidak ingat sudah kaget berapa kali.

Di teras rumah itu, kai’ berdiri bukan untuk menolongku. Dia malah berjalan dengan sangat tenang ke arah bukit lalu menghilang di kegelapan diikuti asap rokok menyannya.

Yang ada di dalam pikiran saya hanya keinginan untuk sampai rumah secepatnya. Dengan terseok-seok, saya lari menuju rumah.

Saya gedor pintu rumah sekuat-kuatnya. Dengan tergopoh-gopoh, Ibu membukakan pintu, “Kenapa Nang… kenapa Nang?” Pertanyaan Ibu tak saya jawab. Saya langsung masuk kamar dan berusaha tidur.

Esok hari, saya baru bisa bercerita. Setengah tidak percaya, Ibu berkata ternyata kai’ sudah pindah ke kampung lain satu minggu yang lalu. Duh, jadi, siapa yang menyolder panci ibu.

Saya masih ingin bertanya, tetapi tiba-tiba badan ini jadi sangat lemas. Setelah itu, selama satu minggu penuh saya demam tinggi. Apakah sakit ini disebabkan kloningan alam gaib? Saya tidak pernah menemukan jawabannya.

Yang kemudian saya tahu adalah secara tidak sengaja, di Gunung Selendang, pada 2009, ditemukan 52 buah tajau (tempayan) berisi tulang-belulang. Sekarang, tempat itu disebut Kuburan Tajau. Menurut Arkeolog, tajau tersebut berusia lebih dari 450 tahun. Sebab ini, sebagian Gunung Selendang menjadi Situs Cagar Budaya di Sangasanga.

Cerita kloning alam gaib yang mengikuti pejalan kaki di kaki Gunung Selendang masih jauh dari usai….

BACA JUGA Mendaki Gunung Guntur, Ditampaki Babi Mata Merah dan Suara Sayup Perempuan Penunggu Gunung dan tulisan menyeramkan lainnya di rubrik MALAM JUMAT.

Exit mobile version