Melacak Istilah Band Mitos dan Jejaknya yang Kabur di Jogja

band mitos di cherrypop festival mojok.co

Ilustrasi band mitos (Ega Fanshuri/Mojok.co)

Sejak Cherrypop Festival pertama kali hadir tahun lalu, tepatnya 2022, istilah band mitos kembali santer terdengar. Penyematan kata mitos pada beberapa band bukan tanpa alasan. Dua band yang tampil di Cherrypop kala itu, sebut saja Teenage Death Star dan Melancholic Bitch, memang punya label sebagai mitos. Tapi apa, sih, band mitos sebenarnya?

***

Saya menemui Kiki PEA, salah satu promotor Cherrypop Festival, di salah satu ruangan kantor iKonser pada Senin (3/4/2023) siang. Wajahnya terpacak di layar monitor, sedang mata saya menyapu ruangan.

Di meja panjang tempat monitornya berdiri terdapat beberapa buku dan kaset pita yang tertata rapi. Ada banyak susunan kaset pita yang lebih banyak di meja lain, di belakang Kiki.

Tak lama kemudian, perkataan Kiki memecah perhatian saya. Ia mempersilakan saya duduk dan mewawancarainya.

Ada banyak pertanyaan yang seketika muncul di benak saya perihal Cherrypop. Sesederhana: apa konsep Cherrypop tahun ini?  Usai menjual habis tiket untuk menonton band-band keramat setahun lalu—katakanlah Sangkakala, Teenage Death Star, dan Melancholic Bitch—bagaimana mereka melakukan hal yang sama di festival tahun ini? Kenapa mereka ngotot menampilkan band-band dengan ceruk segmented seperti itu?

“Sebenarnya latar belakang Cherrypop ini, kita pengin nampilin musik tertentu yang kita suka dan kebetulan juga nggak main di acara-acara yang pernah kita gelar,” ujar Kiki.

Seperti yang ada dalam artikel Mojok sebelumnya, beberapa promotor Cherrypop juga menggawangi pertunjukan musik yang tak kalah populer di Jogja. Semisal, Prambanan Jazz dan Jogjarockarta.

“Secara nggak sengaja, tahun lalu, kita menampilkan Teenage Death Star dan Melancholic Bitch—kini Majelis Lidah Berduri (Melbi)—yang ternyata di lapangan punya sebutan mitos. Terutama Melbi semua udah ngomong. Teenage Death Star malah bilang sendiri terakhir main sebelum Cherrypop itu sebelas tahun lalu,” imbuh Kiki.

Di tahun ini, Cherrypop kembali membawa nama-nama band yang tak kalah jarang tersorot lampu panggung besar. Beberapa nama itu ialah Melbi, Jenny, Seek Six Sick, Southern Beach Terror, dan lain sebagainya.

Menurut Kiki, beberapa nama band tersebut ‘gampang-gampang susah’ untuk manggung. Ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Kebanyakan personil dari band-band tersebut tak hanya mencari penghidupannya lewat musik. Tak hanya itu, beberapa dari mereka juga punya proyek musik lain di luar band tersebut. Semisal Om Robo, personal Southern Beach Terror, yang juga bermain di Sundancer.

Southern Beach Terror, berdasarkan penuturan Kiki, bahkan pernah membuat pernyataan: mereka hanya mau manggung lima tahun sekali.

Setelah terakhir tampil di Synchronize Festival tahun 2018 lalu, pionir band surf rock Tanah Air itu bakal tampil lagi di Cherrypop Festival pada Agustus mendatang.

Asal-usul istilah band mitos

Istilah band mitos barangkali sudah kadung populer di skena musik dan tongkrongan sekitarnya. Namun, dari mana istilah itu berasal?

Berdasarkan pelacakan Desta Wasesa, founder akun Instagram @musikjogja, istilah band mitos  sendiri pertama kali populer pada tahun tahun 1970-an. Ia menjadi populer ketika Lester Bangs, penulis musik kenamaan dari Majalah Rolling Stone, merilis musiknya sendiri.

“Waktu itu tahun 70-80-an kayak gimana, nih, kalau jurnalis musik nulis lirik? Meskipun nggak banyak tercover, tapi dia (Lester) meletakkan sesuatu yang penting. Sesuatu yang tidak hanya bisa diterima secara populer, tapi juga mengendap terus-menerus,” terang Desta ketika saya temui pada Senin (3/4/2023) malam. “Dari situlah muncul istilah band mitos. Bandnya ada, tapi tidak tercover.”

Selain Lester Bangs, Desta juga memberikan beberapa contoh band yang menurutnya kerap dianggap mitos pada masanya. Salah satunya, Portishead. Band kelahiran Bristol itu, meski jarang terliput media massa dan dapat sorotan lampu panggung, menjadi salah satu pionir musik trip hop. Ia bahkan meninggalkan jejak trip hop di daerah lain.

Ketika saya bertanya apa band yang patut dapat sebutan mitos di Jogja, Desta tercenung. Pria tersebut lantas mengiyakan bahwa Melbi adalah salah satu band yang kerap dapat sebutan mitos.

Namun selain itu, Desta juga berpendapat ada beberapa grup musik Jogja yang bisa disebut sebagai band mitos pula. Di antaranya adalah Risky Summerbee & The Honeythief (RSTH) dan LastElise.

“Sempat ada siklus RSTH itu cuman ada di Artjog. Dia juga menurutku memberi pengaruh ke skena, entah dari suara gitarnya, entah dari tema yang tersaji,” tutur Desta.

Demikian juga LastElise. Menurut Desta, LastElise bisa dibilang pionir dalam penggunaan delay reverb di kalangan skena Jogja.

Jika disimpulkan, Desta menyematkan istilah band mitos kepada band-band itu dengan beberapa alasan. Alasannya ialah band tersebut memang jarang manggung. Tapi yang tak kalah penting ialah pengaruhnya.

Kendati demikian, Desta mengakui bahwa definisi dan kriteria tersebut merupakan penyederhanaan belaka. “Jadi istilah itu semacam bahasa tongkrongan atau simplifikasi dari definisi mitos yang sebenarnya: (bandnya) ada tapi nggak ada,” terang Desta.

Anggapan band mitos dan pandemi sebagai titik balik

Meski dulu kerap dianggap mitos karena jarang manggung, Melbi kembali muncul di permukaan. Kehadiran kembali Melbi semakin tampak setelah pandemi. Setelah hiatus 2-3 tahun, Melbi kembali manggung di Cherrypop Festival 2022. Setelah itu intensitasnya semakin tinggi.

Bassist Melbi Richardus Arditta, ketika saya temui di salah satu kafe di Jogja, menyatakan bahwa intensitas manggung yang meninggi itu tak lain karena waktu luang belaka. Sebelum pandemi merebak, Ugoran Prasad, vokalis Melbi, baru saja memulai studi doktoralnya. Alhasil, mereka kerap tak mendapatkan waktu yang pas untuk latihan.

Selain itu, pandemi juga menjadi titik balik buat Melbi. Dalam wawancaranya bersama iKonser, Ugoran Prasad menyatakan Melbi ingin terlibat dalam menghidupkan dunia musik setelah pandemi.

“Kalau ada sedikit yang bisa kami lakukan, kami di garis pertama,” tegas Ugo. “Sebelum punya pandemi kami punya alasan untuk selektif, untuk gaya, untuk milih. Habis pandemi? Gila apa? Nggak! Nggak ada alasan. Hajar semua.”

Secara terpisah, saya juga mewawancarai Yennu Ariendra perihal anggapan band mitos yang melingkungi Melbi. Gitaris itu menyatakan tak ada alasan khusus yang membuat Melbi jarang manggung sebelum pandemi. Hanya saja, sejak awal kiprah bermusiknya, Melbi memang tak pernah mengejar standar komersial dan pajanan tertentu.

“Maksudku ini bandnya indie, Jogjakarta, nggak jelas. Kumpulnya setahun sekali, sulit kan kalau pengikatnya duit?” terang Yennu sambil tertawa. “Yang mengikat adalah kamu pengin apa sih? ‘Aku pengin gini loh’, ya sudah itu yang bisa mengikat.”

Lagipula, bagi Yennu, ceruk Melbi terhitung kecil. Kebanyakan pendengar Melbi adalah mereka yang memiliki ketertarikan dengan lirik dan narasi.

Yennu juga punya keraguan terkait format band. Menurut amatan Yennu, zaman telah banyak berubah sementara band yang membekas hingga lintas generasi tetaplah band di tahun 2000-an ke bawah. Akses teknologi dan informasi membuat setiap orang dapat menciptakan musik dan mengonsumsinya sesuai preferensi masing-masing.

Hemat Yennu, dewasa ini terlalu banyak sentrum musik, terlalu banyak pilihan. Istilah mitos yang disematkan kepada band tertentu pun menjadi lazim.

“Mungkin aku salah kalau menyebut band sekarang nggak ada inovasi. Tapi nggak sampai ke pendengarnya, karena terlalu banyak pilihan,” jelas Yennu.

Dalam waktu dekat Melbi akan hadir dengan album barunya, Hujan Orang Mati. Album tersebut kemungkinan berisi puisi yang dimusikalisasi dan dibawakan Melbi di beberapa panggung belakangan. Sebut saja, “Aku Berkisar Antara Mereka” dan “Derai-Derai Cemara” gubahan Chairil Anwar. Ada pula single “Pulang Kampung”, karya Gunawan Mariyanto, yang video klipnya baru saja rilis awal April lalu.

Masih belum ada kepastian mana lagu yang akan masuk ke album Hujan Orang Mati. Alhasil, menurut penuturan Yennu, puisi-puisi itu akan dirangkai serupa kolase yang membentuk cerita.

“Ceritanya apa? Belum tahu,” kata Yennu sambil tersenyum. Tapi sebagai pendengar Melbi, band mitos ini, Anda barangkali sudah tahu apa yang harus dilakukan: bersabar dan menunggu.

Penulis: Sidratul Muntaha
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Merekam Skena, Membaca Kota Lewat Musik

Exit mobile version