Rontak-rantek, Menu dari 15 Rumput Liar di Baturaden yang Membuat Bule Tinggalkan Roti

Olahan masakan otentik Banyumasan khas WM Putri Gunung yang menggoda selera. (Jarot SarwosambodoMojok.co)

Namanya Tekad, nggak lulus SD. Tapi dipercaya bule-bule Belanda menjalankan yayasan pendidikan di Indonesia. Ia juga berhasil ‘memaksa’ wisatawan asing untuk makan nasi dan rontak-rantek, rumput liar di Baturaden yang diolah jadi masakan khas Banyumas.

***

Mudik alias pulang kampung tahun ini membawa keberuntungan bagi saya. Momen bertemu dengan ibu yang tinggal di Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, baru bisa saya lakukan seminggu setelah Lebaran. Beruntungnya, kota ini agak sedikit sepi karena kebanyakan perantau yang pulang kampung ini, sudah kembali embret, mencari nafkah ke kota lain, khususnya ke Jakarta dan sekitarnya.

Memang ada banyak teman yang akhirnya tidak bisa ditemui, tapi di sisi lain, ternyata ada kawan lama, yang dia tidak ke mana-mana, embret-nya di kampung saja, dan saya bisa bertemu dia. Salah satunya, Tekad Santoso (52).

Embret adalah kosa kata dalam bahasa Banyumas, bahasa Ngapak. Dalam situs kamusngapak.ittelkom-pwt.ac.id, dalam kelompok kata berawalan huruf E, embret berarti cari nafkah atau bekerja.

Inyong embret disit,” atau “Bot-bote nguripi anak bojo, embret nguli tagog neng pasar ya tek lakoni,” dua contoh kalimat bahasa Ngapak ini, contoh penggunaan kata Embret. Terjemahkan sendiri ya!

Nah terkait embret ini, Tekad Santoso menjadi sosok yang ingin saya temui, bahkan sudah sejak lama ingin saya temui. Terakhir ketemu dengan dia, sekira tahun 2017, ketika saya pertama kali dolan ke tempat embretan-nya di Desa Kemutug Lor, Kecamatan Baturaden, Banyumas.

Tekad, juragan kuliner, pemilik Warung Makan Putri Gunung, sebuah rumah makan otentik di Desa Kemutug Lor. Salah satu desa yang masuk dalam kawasan pengembangan pariwisata Baturaden dan sekitarnya. Maka Warung Putri Gunung milik Tekad ini pun kecipratan manisnya madu geliat pariwisata Baturaden. 

Baturaden
Gunung Slamet berselimut awan, jadi pemandangan latar depan WM Putri Gunung. (Jarot Sarwosambodo/Mojok.co)

Saya mengenal Tekad sejak lama. Bahkan sebelum buka restoran. Saya mengenalnya sebagai sosok tour guide yang fasih berbahasa Ngapak, Indonesia, dan Belanda. 

Bersama istri, saya menuju Warung Putri Gunung yang jaraknya 15 kilometer dari kediaman ibu saya di Kelurahan Kober.  Sesampainya di sana, ada banyak yang berbeda, dibanding ketika saya ke sana tahun 2017. 

Warung Putri Gunung saat ini, sudah jauh, sangat jauh lebih mentereng dibandingkan ketika awal dulu berkunjung. Warung makan itu sekarang sudah muat  lebih dari 300 orang dan sudah dilengkapi lapangan fasilitas outbond.

Tekad Santoso tidak ada, saya pun tidak bertanya lebih jauh kepada karyawannya. Hanya duduk menunggu sambil memesan makanan. 

Ketika asyik sedang menikmati makanan. Suaranya yang khas mengagetkan kami. “Halo Bro!” sapa Tekad, rupanya dia baru pulang dari pasar. 

Berbisnis dengan sawah dan Gunung Slamet

Tekad Santoso awalnya tidak pernah berbisnis di bidang kuliner. Tapi sejak muda, ia sudah berkutat dengan dunia pariwisata di Baturaden yang letaknya di lereng selatan Gunung Slamet. Pada usia tujuh tahun, di mana anak seusianya lagi gemar-gemarnya main kelereng atau main petak umpet ia justru berinteraksi dengan wisatawan asing, khususnya asal Belanda.

Tekad Santoso memang putus sekolah sejak kelas 2 SD. Tekad bukan anak dari kalangan keluarga berada, jadi saat masih kecil ia hanya dihadapkan pada dua pilihan, sekolah atau perut. Tekad kecil memilih perut karena jangankan sekolah, untuk makan tiap hari saja, keluarganya sangat kesulitan.

Interaksi dengan gerak bahasa tubuh dan mulut “aa,” dan “uu,” mencoba menirukan bahasa Belanda, membuat Tekad bisa dekat dengan mereka. Interaksi itu, pelan-pelan membuat ia bisa berbahasa asing. Pelan memang, karena ia baru benar-benar fasih berbahasa Belanda pada usia 17 tahun.

Tekad semakin sering meng-guide turis Eropa yang berkunjung ke Baturaden. Kedekatan pun berhasil dibangun. Bahkan, saking gemati-nya para turis Belanda itu, Tekad sampai diberangkatkan belajar bahasa Belanda di negeri asalnya langsung.

Tekad mengikuti short course selama tiga bulan di sebuah lembaga bahasa bernama Tall Institute for Boute Landen di Kota Alkmaar. “Tapi, selama di Belanda, saya tinggal di Maastricht, jadi bolak balik naik kereta karena jaraknya jauh. Sekalian saja saya mendalami bahasa Belanda dengan interaksi langsung di kereta,” kata Tekad.

Tekad, manfaatkan rumput liar atau rontak-rantek jadi menu masakan. (Jarot Sarwosambodo/Mojok.co)

Tekad pun semakin tenar di kalangan turis Belanda. Hingga takdir mempertemukannya dengan Almarhum A.C Tonn Lange, seorang filantropis Negeri Kincir, tahun 1997. Mr Tonn Lange memiliki Yayasan Stichting Tileng yang bergerak di bidang pendidikan. Pria itu memberi kepercayaan kepada Tekad untuk ikut mengurus yayasan tersebut di Indonesia.

Jadi selain berbisnis dengan Gunung Slamet lewat pariwisata, Tekad juga menjalankan misi sosial filantropis yang mengumpulkan segenap dana dari Eropa sana. Sebanyak empat SD, empat TK, empat PAUD, dan satu taman bermain dibangun dengan menggunakan donasi Stichting Tileng.

Seiring Tekad yang semakin mapan hidupnya berkat embret di objek wisata, sang istri Mbak Suci Wahyuni (55) yang memang jago memasak, pun didorong untuk membuat usaha katering kecil-kecilan. Awalnya, katering itu untuk mendukung usahanya sebagai pemandu wisata bagi turis asing.

Tekad pun merintis sebuah warung makan di atas tanah kering dan sawah yang dia miliki di desanya. Jadilah Warung Makan Putri Gunung. Tempat makan yang saya kunjungi tahun 2017, dan kala itu, hanya terdiri dari satu bangunan utama saja  dan sebuah musala yang belum jadi.

Sekarang, Warung Putri Gunung terdiri atas beberapa bangunan yang semuanya dibuat dengan konstruksi kayu. Ada pondok khusus lesehan, ruang pertemuan, parkir luas, juga lapangan outbond. Konsep bangunannya semi terbuka, sehingga pengunjung bisa merasakan semilir angin pegunungan. 

Menu otentik rontak-rantek, berawal dari cerita kelam

Nah, menariknya dari Warung Putri Gunung tentu menunya. Tekad yang paham betul seluk beluk pariwisata, tidak mau warung makannya biasa-biasa saja. Ia mencoba mengemas konsep warung makan tradisional otentik khas Banyumasan.

Menunya lain daripada yang lain, dibandingkan rumah makan lainnya. Yakni olahan rontak-rantek. Apa itu rontak-rantek? Menurut Tekad, rontak-rantek adalah aneka jenis rerumputan yang tumbuh di sawah atau tegalan, yang bisa dikonsumsi manusia.

Tekad Santoso memperlihatkan aneka jenis rontak-rantek yang didapat di sekitar Baturaden yang diolah jadi masakan lezat. Foto do. 2017. (Jarot Sarwosambodo/Mojok.co)

Tekad bercerita, ada sejarah kelam dari kemunculan rontak-rantek di wilayah Banyumas ini. Jadi, pada zaman penjajahan Jepang, warga pribumi di Banyumas, khususnya Baturaden dan sekitarnya, kesulitan mencari bahan makanan yang layak. Yang biasa mereka konsumsi.

Lalu masyarakat yang kesehariannya memang bertani, mencoba mencari sesuatu selain tanaman pangan, sebagai sumber makanan lain. Mereka mencarinya di sawah dan tegalan sekitar desa. “Jadi rontak-rantek ini bagian dari trial and error penduduk pada masa penjajahan dulu, mereka saking prihatinnya mencoba mencari rumput liar yang bisa dimakan, yang tumbuh di sekitar mereka,” tuturnya.

Cerita itu, didapat Tekad dari para orang tua yang menjadi saksi kebengisan penjajah. Serta dari para orang tua yang setia, hingga usia lanjutnya, masih mencari, mengonsumsi, atau mereka menjual rumput liar itu di Pasar Desa Pamijen, Baturaden.

Usaha para leluhur itu berhasil, dan ditemukan setidaknya 15 jenis rumput liar yang bisa dimakan. Tanaman liar itu antara lain, krema, andul, mandelan, sawi gunung, slada lanang, genjoran, pentungan, krokot, dempek lanang atau dandelion, dempek wadon, kangkung darat, bayam liar, semanggi, ringgitan dan panegowang. Tekad belajar mengenali ciri 15 jenis rumput liar yang bisa dimakan ini.

Tekad dan istrinya mengolah rontak-rantek menjadi menu sederhana, tumis dan kluban atau urap. Olahan tersebut sangat populer, karena memang bisa dikatakan, tidak ada tempat makan lain yang menyediakan rontak-rantek dalam daftar menunya.

Rontak-rantek ini juga spesial, termasuk barang langka. Jika belasan tahun lalu masih banyak yang mengonsumsi, kini bisa dikatakan sudah jarang. Rontak-rantek biasanya hanya dikonsumsi oleh mereka yang lanjut usia, serta sebagian orang yang rindu dengan masa kecilnya. “Jadi agak susah mencari rontak-rantek di pasar, penjualnya tidak banyak,” ucapnya.

Pada saat awal buka Warung Putri Gunung, Tekad memiliki empat orang yang khusus menjadi pemasok rontak-rantek. Tapi sekarang, tiga orang diantaranya sudah meninggal dunia, dan hanya tersisa seorang pemasok, yang masih mau mencari rumput liar, sayangnya dia mulai sakit-sakitan.

Tekad membeli rontak-rantek dari pemasoknya Rp12.000 per kilogram, untuk aneka jenis rontak-rantek yang didapat. Setiap penyedia, biasanya mendapat 5-6 kilogram rumput, jadi sekali jual mereka memperoleh penghasilan Rp60.000 – Rp72.000. Hanya dari rumput liar, dan itu penghasilan kurang dari sehari, karena untuk mengumpulkan Rontak-rantek sebanyak itu, mereka hanya butuh 4-5 jam saja.

Tapi, Tekad juga sering turun sendiri mencari rontak-rantek di sawah, jika pesanannya sedang banyak dan supliernya berhalangan. Biasanya rumput liar itu mudah ditemukan saat kemarau, di sela-sela tanaman jagung atau cabai. “Musim hujan agak susah, karena hamparan sawah tergenang air untuk budidaya padi,” ujarnya.

Tekad, buat bule tak lagi keranjingan roti 

Olahan Rontak-rantek pun semakin jos pemasarannya, banyak sekali yang datang ke Warung Putri Gunung untuk mencobanya. Rontak-rantek seperti mengingatkan mereka kembali ke masa kecil, ketika zaman masih susah. Sampai akhirnya, Tekad pun kewalahan, permintaan lebih banyak dibanding penawaran, dan hukum ekonomi pun berlaku.

Tapi, Tekad tidak lantas menerapkan prinsip ekonomi, karena memang kondisi sekarang sudah berbeda, dengan berkurangnya orang yang mau mencari Rontak-rantek. “Kalau sekarang, misalnya mau makan rontak-rantek, harus pesan beberapa hari sebelumnya, biar saya carikan dulu barangnya,” katanya.

Dapur di Warung Putri Gunung, Baturaden, Banyumas. (Jarot Sarwosambodo/Mojok.co)

Olahan Rontak-rantek Warung Putri Gunung tidak hanya dikenal bagi warga lokal atau luar daerah saja, akan tetapi juga populer di kalangan warga asing. Tekad memanfaatkan dengan baik dan benar setiap peluang, lalu ia sambar dengan cepat setiap kesempatan yang ada.

Posisi Tekad Santoso sebagai perwakilan Stichting Tileng di Indonesia, membuatnya sering kedatangan tamu dari Belanda dan Belgia. “Mereka ini juga sasaran pemasaran saya, tapi strateginya beda, tidak seperti konsumen pada umumnya,” tuturnya.

Warga Eropa ini datang ke Baturaden untuk menjadi volunteer atau sukarelawan berbagai kegiatan sosial yayasan. Mereka yang sekali datang biasanya dalam jumlah belasan, menginap di rumah Tekad. Lalu setiap hari, bekerja di sekolah, TK, dan PAUD atau sarana lain yang sedang dibangun yayasan.

Pada lain waktu, Tekad mengenalkan soal kekhasan kuliner Indonesia dan Banyumasan kepada mereka. Tekad mengajak para bule yang biasanya adalah anak muda di bawah 16 tahun itu ke sawah, untuk dikenalkan dengan rontak-rantek.

Mereka pun mencarinya, lalu hasilnya diolah, untuk dikonsumsi lagi. Selain itu, mereka juga diajari memasak aneka kuliner tradisional Indonesia dan Banyumasan. “Nah, setelah itu, mereka yang awal  datang selalu mencari roti, jadi tidak lagi. Mereka makan nasi sebagai makanan utama, dengan lauk olahan rontak-rantek dan masakan lainnya,” terangnya.

Tekad memberi alasan logis yang tidak bisa mereka bantah, bahwa dalam kondisi Indonesia yang panas, dibutuhkan karbohidrat dalam jumlah cukup untuk bisa bekerja. “Dan sumber karbohidrat yang melimpah itu ada pada nasi, bukan roti. Kalau hanya sarapan sepotong roti, mereka akan lapar lagi sebelum jam makan siang tiba,” tambahnya.

Jadikan karyawan seperti keluarga

Bisnis Warung Putri Gunung terus menggeliat berkat aneka inovasi tanpa meninggalkan ciri khas Banyumasan. Tekad membuka kesempatan embret bagi warga desanya. Ada sekitar 15 orang yang mencari nafkah di warung itu.

Tekad mempercayakan semua hal di warung kepada anak buahnya, kecuali satu, yakni belanja bahan makanan. “Kalau belanja harus saya dan istri, sebab hanya kami yang punya rasa memiliki atas warung ini secara maksimal, sehingga kami cari betul bahan-bahan berkualitas super, tidak boleh ada kerusakan, meski kami harus bayar lebih mahal, dan  itu tidak masalah,” paparnya.

Warung Putri Gunung milik Tekad. (Jarot Sarwosambodo/Mojok.co)

Akan tetapi, tetap saja, Tekad bertekad membangun bisnisnya dengan dasar kasih sayang. Meski tidak memberi kepercayaan untuk hal belanja, seluruh karyawan tetaplah dianggap sebagai saudara, bukan sekadar karyawan biasa. Ketika Warung Putri Gunung tumbuh, karyawan juga harus sejahtera, dan ketika mereka sejahtera, tentu akan memberikan lebih untuk tempat embret-nya.

Tekad mengaku ada beberapa terobosan untuk menjaga silaturahmi dengan karyawannya, seperti outbond rutin, piknik tahunan ke luar daerah, dan prank ulang tahun. Penjualan beberapa produk limbah rumah makan, juga dikumpulkan untuk tabungan para karyawan.

“Berbisnis dengan kasih sayang, menurut saya itu kunci sukses menjalankan usaha. Membuka usaha itu mudah, merekrut tenaga lebih gampang lagi, tapi membangun kepercayaan dan persaudaraan itu yang butuh sentuhan dari hati ke hati,” tegas Tekad, berapi-api.

Dari hati ke hati? Ciee! Tapi memang benar apa kata Tekad, dan saya banyak belajar dari dia. Seperti kata bijak; Seribu kawan itu kurang, satu musuh kebanyakan. Tekad berhasil menerapkan prinsip itu dengan penuh kasih sayang dalam gurita bisnisnya.

Membuka peluang embret, tapi bukan embret biasa, ini embret yang penuh cinta. Embret maning yuh!  

Reporter: Jarot Sarwosambodo

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Mie Ayam Pak Pendek, Bernasib Baik Setelah Salah Tulis Nama dan liputan menarik lainnya di Susul.

Exit mobile version