Cerita Alumni UGM Kenapa Mereka Memilih Kuliah di UGM: Fasilitas Lengkap, Dosennya Hebat!

Cerita Alumni UGM Kenapa Mereka Memilih Kuliah di UGM: Fasilitas Lengkap, Dosennya Hebat!

Cerita Alumni UGM Kenapa Mereka Memilih Kuliah di UGM: Fasilitas Lengkap, Dosennya Hebat! (Ega Fansuri/mojok.co)

Jika Anda mendengar kelakar “universitas di Jogja ini ada dua, UGM dan bukan UGM”, jangan anggap itu sekadar kelakar saja. Faktanya, menurut situs resmi UGM, universitas ini jadi salah satu kampus dengan peminat terbanyak kedua pada SNBP 2023 dengan jumlah total pendaftar sebanyak 25.954. Kuliah di UGM, Kampus Kerakyatan, memang jadi idaman rakyat.

Dari 25 ribu lebih pendaftar, kuota yang diterima (untuk SNBP) 2.802 peserta saja. Makin-makinlah kuat aura eksklusif yang muncul dari kampus ini.

Lalu muncul pertanyaan dari fakta di atas tersebut, sebenarnya, seperti apa kuliah di UGM hingga bikin banyak orang memimpikan kuliah di kampus ini?

Egaliter

“Aku diminta oleh dosen untuk menjelaskan ke temen-temenku sekelas tentang bab ini. Hal ini nggak pernah aku dapat di kampus sebelumnya. Di UGM, hal kayak gini biasa.”

Ahmad, lulusan MM UGM angkatan 2021 ini langsung menyatakan seberapa hebat UGM di matanya. Semasa kuliah S2, dia mendapat sebenar-benarnya ilmu baru.

“Ada juga dosen yang siap diajak diskusi di luar kelas. Butuh apa, ayo diskusi, mau lewat apa. Juga, tugas dari dosen sesuai porsi. Tapi bukan tugasnya yang dicari, tapi apa yang kamu sudah dapat di kelas. Plus dosennya menerima argumentasi dan mengajak mahasiswa lain cari perspektif lain.”

Kalau dia mencoba merangkum semuanya, Ahmad merasa yang bikin kuliah di UGM itu benar-benar menyenangkan karena egaliter. Dosen, karyawan, saling support.

“Yang aku lihat, dosen tidak menyuruh-menyuruh karyawan, tapi minta tolong. Leadershipnya terasa, mungkin karena kampus leadership kali ya.”

“Gedunge wangun.”

“Kusambi momong anak, yo.”

Singgih (bukan nama sebenarnya) adalah alumni Pariwisata UGM 2010 dan meneruskan S2-nya di universitas yang sama pada 2016-2018. Kami melakukan percakapan via chat, sembari dia menjaga anaknya di kampungnya.

Dia mengaku, alasan awal dia kuliah di UGM adalah gedung kampusnya yang wangun alias keren. Gedung kampus yang paling wangun lah. Barulah ketika dia kuliah di UGM, dia menyadari kenapa kampusnya jadi kampus favorit.

“Perlu diketahui, ada 3 tahap kebanggaan kuliah di UGM. Pertama, saat memutuskan berjuang, dan keterima. Fase kedua, ini yang paling penting. Secara fasilitas dan infrastruktur, jelas UGM jauh lebih baik dibanding kampus lain di Jogja.”

Singgih juga mengulang apa yang Ahmad katakan tentang pengajar di UGM, bahwa pengajarnya, memang bukan kaleng-kaleng.

“Masalah pengajar, terlebih ketika aku lanjut S2, hampir semua profesor yang ada di UGM adalah orang yang kondang di bidangnya. Jadi merasa kuliah beneran, benar-benar ilmu sing urip.”

Untuk ini, bagi yang tidak kuliah di UGM pun, pastinya memahami statement Singgih di atas. Bagi kalian yang kemarin nonton Dirty Vote, tentu kalian tahu Zainil Arifin Mochtar, salah satu “aktor” di film dokumenter tersebut. Beliau adalah dosen di UGM. Beliau bisa jadi salah satu contoh sahih apa yang Singgih kemukakan, bahwa memang pengajar di UGM memang kompeten di bidangnya.

Baca halaman selanjutnya

Privilese yang didapat di UGM

Privilege kuliah di UGM

Singgih juga menekankan, bahwa kuliah di UGM itu penuh privilese. Sebagai contoh, dia bilang banyak kerja sama UGM dengan lembaga eksternal yang bikin mahasiswa mudah dalam banyak hal.

UGM memang banyak menjalin kerja sama dengan banyak lembaga eksternal atau perusahaan. Sebagai contoh, FEB UGM punya banyak kerja sama dengan perusahaan luar.

Lingkungan juga jadi privilese yang Singgih dapatkan selama kuliah di UGM. Ruang diskusi di setiap jengkal kampus adalah contoh yang dia beri. Ruang diskusi menunjukkan bahwa memang mahasiswanya peduli serta gemar mengulik bahasan yang ada.

Menutup pembicaraan kami berdua, SInggih memberikan statement penutup yang menarik.

“Kuliah di UGM itu kebanggaan untuk orang desa seperti aku. Terlebih aku adalah orang pertama di desaku, dalam sejarah, yang bisa masuk UGM. Meskipun begitu, hal yang paling menyenangkan bagiku, saat kuliah di UGM adalah iso entuk bojo anake profesor.”

Kenapa harus di UGM?

Tak bisa dimungkiri, memang banyak kampus hebat di Jogja. Tak hanya UGM, yang jelas. Tapi saya akan mengulang data di awal, bahwa ada 25 ribu lebih pendaftar SNBP UGM, padahal daya tampungnya hanya 2.802. artinya, memang banyak pemuda yang memimpikan untuk menempuh ilmu di UGM, dan itu jelas tanpa alasan.

Singgih dan Ahmad, setidaknya, memberi gambaran jelas bagaimana kuliah di UGM yang mereka rasakan. Gambaran positif tersebut, membuat kita paham kenapa kampus di Jogja ini menghasilkan orang-orang hebat macam Boediono, Mahfud MD, Retno Marsudi, Sultan HB X, dan, tentu saja, Jokowi.

Reporter: Rizky Prasetya
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Kisah Mahasiswa UNY Kena DO, Pindah Kampus Hampir DO Lagi, tapi Bisa Bangkit dan Berhasil Sarjana

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Exit mobile version