Kisah Pembuat Replika Robot Transformers dari Bantul, Pemesan Rela Antre Setahun

Ingin robotnya bisa bergerak

Robot macan dalam proses pengerjaan_tim Eri. (Eko Susanto/Mojok.co)

Eri Sudarmono (42) kini dikenal sebagai pembuat replika robot Transformers asal Bantul. Meski baru memulai usahanya di awal tahun 2021, karyanya sudah melanglangbuana ke berbagai negara. Yang mau pesan antre hingga setahun ke depan.

***

Saya tahu Eri Sudarmono sekitar seminggu yang lalu dari unggahan akun Instagram Komunitasdjogja. Unggahan itu bercerita tentang seorang seniman Bantul yang membuat replika robot seperti dalam film Transformers. Karyanya telah mendunia, tulis unggahan akun Instagram tersebut.

Pembuat robot Transformers itu bikin saya penasaran. Saya ingin tahu kisah hidupnya. Pasti melelahkan dan penuh tantangan.

Senin siang (17/1/2022) saya mengunjungi rumah Eri Sudarmono di Dusun Bantulan, Pedukuhan Kauman, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Pembuat replika robot dari motor bekas

Saya berdiri di pintu sebuah ruangan yang luasnya sekira 40 x 12 meter. Di dalamnya ada banyak orang sedang bekerja. Suasananya mirip bengkel otomotif. Gaduh karena suara besi yang beradu dengan palu. Juga suara las listrik dan suara gerindra yang  saling berebutan menembus telinga.

Sambil menyapa seseorang yang duduk di dekat pintu masuk, saya berjalan lamban melihat suasana ruangan ER Studio Art  yang mirip bengkel. .

Seperempat ruangannya pada bagian depan ternyata beratap langit. Sisanya beratap genteng tanpa plafon. Berkesan lega. Saya menghitung, dalam ruangan itu ada 14 orang yang sedang bekerja. Setiap orang asyik menghadapi pekerjaannya. Ada yang mengelas tiang besi di pojokan. Lalu di depannya, ada orang menggerinda moncong robot macan yang terlihat belum sempurna bentuknya. 

Eri, memakai topi, memberi petunjuk pekerjanya di bawah moncong robot macan yang belum kelar. (Eko Susanto/Mojok.co)

Sementara di ruangan yang beratap langit, beberapa pekerja  menyemprotkan cat ke sebatang besi. Bersebelahan dengan tadi, terlihat seorang pekerja sedang mengecat wajah robot samurai ala ninja. Pada ruang bagian belakang, dua orang terlihat memilih dan memilah berbagai macam jenis baut dan mur berbagai ukuran. Semua orang dalam ruangan itu bergerak mengikuti irama kerjanya sendiri.

Di sebelah ruang studio yang mirip bengkel itu, ada dua ruangan lagi. Dari pintu tempat saya berdiri, di dalamnya terlihat berjajar rapi puluhan sepeda motor yang telihat usang. Puluhan sepeda motor itu kebanyakan berjenis bebek seperti Yamaha 80, Yamaha V75, Honda 70, Suzuki Family, dan Suzuki RC. Pada dinding tiap ruangan itu tergantung puluhan lukisan berbagai ukuran.

Dari pintu masuk ruangan tempat ratusan motor itulah saya melihat seorang lelaki sedang duduk di atas balok kayu yang tergeletak di lantai, sambil mengisap sebatang rokok mild. Kepalanya memakai topi bertuliskan LGS, berkaos hitam lengan pendek. Bagian depan dada kiri kaosnya, ada gambar seorang lelaki memakai helm menunggang motor tua bertuliskan Jambore Maci XXV. Celananya jin berwarna biru dongker.

Saya bertanya pada orang bermasker hitam yang sedang menyemprotkan cat pada batangan besi, bahwa saya ingin bertemu dengan Eri. Orang itu memberi tanda dengan mengarahkan wajahnya pada lelaki yang sedang duduk di atas balok kayu. Oh, ternyata itu Eri, batin saya.

Saya melangkah menuju Eri yang duduk di depan replika robot bertopi petani yang terlihat seolah-olah sedang terjengkang.

Sambil mendekat, saya bertanya tentang robot petani yang sedang terjengkang itu.

“Robot ini nanti didudukkan di atas becak itu, Mas,” kata Eri, sambil tangannya menunjuk kerangka becak yang tengah disemprot cat putih oleh seorang pekerja.

“Oalah, pesanan dari mana, Mas?” tanya saya.

“Dari Jakarta. Monggo sini, Mas, duduk sini,” jawabnya sambil mempersilakan.

Gambar macan dari pemesan robot yang kemudian diwujudkan jadi robot macan oleh Eri. (Eko Susanto/Mojok.co)

Saya kemudian duduk di sebelah Eri. Rokok di jari Eri terlihat masih setengah batang. Agar suasananya lebih cair, sambil mengeluarkan kamera, saya mengambil sebatang rokok dari kantung samping daypack yang kemudian saya letakkan di sebelah Eri.

Sambil membakar rokok, mata saya memandangi lagi seluruh ruangan. Posisi duduk saya dan Eri ternyata sangat strategis. Karena dari tempat saya dan Eri duduk, replika robot macan yang tadi sempat saya lihat sedang digerindra moncongnya, terlihat utuh. Besar juga, batin saya.

“Itu tingginya 3 meter dan panjangnya 4 meter, Mas,” kata Eri.

“Menghabiskan berapa sepeda motor segitu gedenya, Mas?” tanya saya lagi.

“Sepuluh lebih.”

Pantas saja Eri memilih duduk di sini karena matanya fokus di dua titik di depannya: replika robot petani dan robot macan yang tengah dikerjakan anak buahnya.

Sambil ngobrol dengan saya, Eri kadang berdiri mendekati salah seorang pekerjanya. Mengoreksi. Memberi petunjuk. Sesekali saya memotret adegan ini.

Kuliah tak selesai, pernah jadi penambang pasir

“Semua bermula pada Januari 2021. Ketika seorang pelanggan dari Cina mengontak saya minta dibuatkan replika robot seperti dalam film Transformers,” kata Eri mulai bercerita.

 “Pelanggan apa, Mas?” kejar saya.

 “Lukisan. Panjang Mas kalo mau diceritakan perjalanan saya sebelum saya mengerjakan robot ini,” jawabnya sambil tertawa.

 Eri kemudian menyuruh seorang lelaki membuatkan teh manis. Lalu mengajak saya ke ruangan rumahnya. Kami ngobrol sambil duduk di bangku kayu berpelitur. Kini di antara kami ada dua gelas teh manis hangat, sebungkus rokok mild milik Eri, dan sebungkus Djarum 76 Madu Hitam milik saya. 

Kami sama-sama merokok. Di depan kami berjajar rapi sekitar 40-an motor bebek tua yang tadi sempat saya lihat dari depan pintu. Tembok ruangannya penuh dengan lukisan berbagai ukuran.

Ruangan dalam rumah Eri (Eko Susanto/Mojok.co)

“Itu lukisan njenengan semua, Mas?” tanya saya.

“Iya, Mas. Dulu saya melukis juga,” jawabnya.

Kreatifitas Eri dimulai sejak sekolah di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta. Bersama teman-temannya, Eri pernah membuat kertas daur ulang. Hasil karyanya itu dijual dan menghasilkan uang.

Usai lulus dari SMSR pada tahun 1999, Eri kemudian melanjutkan kuliah di ISI Yogyakarta Jurusan Kriya Logam. Namun, Eri hanya bertahan 2 tahun saja di kampus. Ia memutuskan berhenti dan tidak melanjutkan kuliahnya.

 Abot prakteke, Mas. Ora kuat le ngragati,” kata Eri, tertawa.

Saat berhenti kuliah, Eri kemudian meminjam mobil pick up milik bapaknya. Pick up itu dia gunakan bersama seorang temannya untuk mencari pasir di Kali Progo. Saat itu, harga 1 rit pasir masih Rp25 ribu. Sehari, Eri dan temannya hanya kuat mendapatkan 4 rit saja.

Pirang tahun golek pasir, Mas?” tanya saya. 

“Halah, gur rong sasi,” katanya sambil tertawa.

 Lelaki berusia 43 tahun ini kemudian mendapat jaringan kerja sebagai pembuat dekorasi di hotel-hotel dan mal di Yogya. Jika order membuat dekorasi sedang kosong, Eri mengasah diri melukis di rumah. Kadang membantu melukis di rumah seniman Timbul Rahardjo, di Kasongan. 

Di saat luang waktu lagi, Eri menyempatkan diri menuangkan gagasannya dalam lukisan untuk dirinya sendiri. Lukisan-lukisan karyanya ditawarkan pada kolektor dan pembeli baik dari dalam negeri maupun dari luar. Salah satu pembelinya berasal dari Cina.

Pada tahun 2004, teman-temannya semasa kuliah di Kriya Logam mengajaknya merantau ke Bandung. Di sana, Eri diajak teman-temannya bekerja di sebuah kantor advertising. Namun Eri tidak betah. Eri hanya bertahan 2 bulan kemudian balik lagi ke Yogya.

Kembali menekuni pekerjaan lamanya sebagai pembuat dekorasi di hotel dan mall. Sesekali masih melukis menuangkan gagasannya. Sering juga gagasannya digoreskan oleh tangan-tangan terampil artisan yang membantunya.

Motor bebek yang dikanibal sebagai bahan robot. (Eko Susanto:Mojok.co)

Eri juga pernah mendapatkan project membuat diorama di Museum Merapi. Project itu dia kerjakan bersama teman-temannya selama 3 bulan. Selesai dari Museum Merapi, Eri kemudian tinggal di Gunungkidul selama 7 bulan karena mendapatkan project yang sama, menggarap diorama di Museum Karst di Gunungkidul.

Usai membuat diorama di Gunungkidul, Eri mendapat pekerjaan dari seniman Timbul Rahardjo di Kasongan. Kerjanya membuat lukisan repro secara borongan.

“Banyak banget itu, Mas, borongannya. Tahun 2006 itu kerjaan saya hanya melukis repro,” kata Eri. 

Kerja borongan melukis selesai, Eri kembali bekerja menggarap dekorasi pada acara-acara di hotel dan mal. Di rumah, Eri tetap melukis.

“Saya bekerja sebagai dekorasi acara-acara di hotel dan mal itu ada 10 tahunan, Mas,” kata Eri.

“Ingat gak, kapan terakhir bekerja sebagai pembuat dekorasi di hotel atau mall?” tanya saya.

“Terakhir dari Gusti Bendara putrinya Sultan itu. Saya diminta bikin dekorasi space photo di Jogja City Mall,” jawabnya.

“Lalu Januari 2021 itu gimana ceritanya kok berani menerima tawaran membuat robot dan merasa yakin bisa mengerjakannya?” tanya saya lagi.

Nek aku turah-turah le isa, Mas. Ning karo nekat wae,” jawabnya tertawa. “Saya kan paham teori logam walaupun tidak lulus.” 

Ngewei panjer ora e, Mas?”

Ana DP ning ya kurang. Tak ewangi utang mrono mrene nggo ngrampungke, Mas,” jawabnya.

Pemesan banyak dari luar negeri, menolak diminta buka studio di Malaysia

Eri Sudarmono tidak menyangka jika replika robot Transformers hasil kreasinya telah mengubah banyak hal dalam hidupnya. Hasil kreasinya dipandang berhasil oleh pemesannya. Pelanggannya yang dari Cina itu kemudian memesan lagi. Selain Cina, robot Transformers bikinan Eri juga sudah dikirim ke Jerman. Sedangkan Amerika dan Australia menunggu giliran karena sedang dikirimkan contoh replikanya. 

Ruang ER Studio Art dari pintu depan. Di sini Eri mengerjakan replika robot Transformers. (Eko Susanto/Mojok.co)

“Saya juga ditawari orang dari Malaysia agar mau membuka studio di sana. Tapi saya nggak bisa. Kene wae gaweane turah-turah,” katanya. 

Kini Eri lebih mapan. Punya ruang kerja bernama ER Studio Art. Juga punya tim kerja yang hebat. Sekarang, orang yang pesan robot Transformers buatannya harus antri. Antriannya panjang. Karena pesanannya tidak hanya datang dari berbagai daerah di Indonesia, melainkan juga dari luar negeri. Sampai setahun ke depan pekerjaan Eri dan timnya tidak pernah putus.

Pengerjaan tiap replika memakan waktu antara 1 sampai 1,5 bulan. Sedangkan setiap replika robot masing-masing menghabiskan bahan baku antara 7 sampai 10 motor, tergantung ukurannya.

Nek motor rongsokane entek piye, Mas?” tanya saya.

 Gampang. Iseh akeh mobil rongsok. Apa wae nek saiki isa digawe robot.” 

Regane pira sih, Mas?

“Berkisar Rp30 juta sampai Rp100 juta. Tergantung ukuran dan permintaan pemesannya, Mas,” pungkasnya.

 Eri saat ini juga sedang merancang agar robot bikinannya bisa bergerak. Sejak Januari 2021 hingga saat ini, sudah 50-an replika robot Transformers yang telah dibuat.

Reporter : Eko Susanto
Editor     : Agung Purwandono

BACA JUGA Sepiring Nasi Rendang dan Tumpukan Kaset Tua di Rumah Makan Padang Jaya 1977 
dan 
liputan menarik lainnya di Susul.

Exit mobile version