Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Jeritan Hati Pedagang Pasar Klithikan Pakuncen yang Minta Pemerintah Turun Tangan

Mohamad Ichsanudin Adnan oleh Mohamad Ichsanudin Adnan
20 Agustus 2023
A A
Jeritan Pedagang Pasar Klithikan Pakuncen yang Minta Pemerintah Turun Tangan. MOJOK.CO

Ilustrasi Jeritan Pedagang Pasar Klithikan Pakuncen yang Minta Pemerintah Turun Tangan. MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kondisi Pasar Klithikan Pakuncen saat ini

Terdapat beberapa faktor yang turut membuat para pedagang klithikan pindah dari Pasar Pakuncen. Selain kondisi pasar dan ekonomi yang serba digital, beberapa dari mereka pindah ke lokasi lain yang dinilai lebih strategis.

“Sing adol klithikan podo pindah ning [Pasar] Senthir, terus lapake pada didol. Alasan pindah macem-macem mas, ada yang punya masalah bank dan ga kuat ngangsur [retribusi pasar],” ungkas Pendi yang pada saat itu sedang khidmat menyaksikan pertandingan voli di layar televisi. 

Meskipun demikian, Pasar Pakuncen sebagai sentra barang bekas tak selamanya kehilangan pelanggan konsistennya. Hal tersebut dikarenakan pasar tersebut masih menjajakan barang-barang bekas yang menurut beberapa pengunjung cukup antik dan susah untuk dicari di tempat lain.

Pasar Klithikan Pakuncen kini sedikit yang jual barang bekas. MOJOK.CO
Salah satu sudut Pasar Klithikan yang menjual helm-helm baru. (Iradat Ungkai/Mojok.co)

Karamnya skena “Cah Acara”, ternyata beriringan dengan karamnya popularitas Pasar Pakuncen akhir-akhir ini. Entah bagaimana hubungannya, namun kondisi ini saya dapati belum lama ini. Saat saya menyempatkan diri berkunjung ke pasar tersebut.

Alasan Pasar Klithikan Pakuncen mulai sepi

Pada saat itu, saya kaget dengan kondisi pasar yang sekarang menjadi susah mencari barang-barang bekas. Padahal dulu barang-barang klithikan sudah terlihat di depan halaman. Bahkan kondisinya pun sangat sepi dan cukup memprihatinkan, sebagaimana yang Humas Paguyuban di Pasar Pakuncen, Edi Santoso ungkapkan.

“Belakangan ini memang kondisi pasar [Pakuncen] seperti mati suri, setelah corona banyak orang lebih milih nyimpen duit ketimbang beli barang [disini]. Dulu semua ruko pada buka jadi terkesan ramai pasarnya, tapi sekarang sekitar 60 persen udah pada tutup,” kata Edi Santoso.

Pria kelahiran Solo yang kerap menggunakan pecis putih itu, menambahkan kesaksiannya mengenai kondisi Pasar Pakuncen yang dulunya sempat ramai pengunjung. Menurutnya, kondisi tersebut berlangsung sebelum masyarakat mulai beralih ke e-commerce. 

“Bagus-bagusnya pasar itu sekitar tahun 2009 sampai 2016 mas, mulai 2017 angka kunjungan semakin turun, semakin menurun lagi ketika ada Covid. Itu bagus karena waktu itu belum ada online, angka kunjungan tahun 2010 sampai 2015 bisa sampai 8-10 ribu sehari. Sekarang angka kunjungan malah ga sampai 500 mas.”

Hilangnya barang bekas di Pakuncen

Di luar itu, saya mendapati mudahnya mencari barang-barang baru dengan kualitas tiruan alias KW, berjamuran di sekitar Pasar Pakuncen. Para penjual tersebut rata-rata merupakan pemain baru yang menempati ruko-ruko kosong di Pasar Pakuncen.

“Beberapa bulan sebelum Covid, saya udah ada di sini mas [Pasar Pakuncen]. Kebetulan ruko yang saya tempati ini bekas dari teman saya yang udah pindah ke Pasar Senthir,” kata penjual yang minta namanya ditulis samaran. Sebut saja namanya Robi.

pasar klithikan pakuncen
Edi Santoso, Humas Pasar Klithikan Pakuncen. Berharap pemerintah turun tangan agar Pasar Klithikan Pakuncen kembali ramai. (M Ichsanudin Adnan/Mojok.co)

Para penjual barang baru tersebut rata-rata menjajakan barang-barang branded dengan kualitas tiruan. Mereka menempati ruko-ruko baju, sepatu, helm, hingga sparepart kendaraan. Alasan mereka menjual barang baru di Pasar Pakuncen pun beragam, mulai dari kebutuhan masyarakat akan barang branded hingga sulitnya kulakan barang bekas di Jogja.

“Saya sendiri ikut hypenya saja mas. trendnya apa, orang-orang pada butuh apa, saya tinggal menyesuaikan. Apalagi kalau jual barang-barang baru yang kulakan banyak, jadi lebih gampang kalau dibawa kesini,” kata Robi sembari yang menjaga rukonya dari siang hingga menjelang sore hari.

Berharap pemerintah turun tangan

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Rara, salah satu pengunjung di Pasar Pakuncen. “Bisa dibilang aku cukup sering datang ke sini [Pasar Pakuncen] cuma buat nyari barang-barang bekas. Karena basic ku seni instalasi, jadi aku dari dulu nyari barang-barang vintage dengan harga murah buat kebutuhan pameranku bulan depan”. Pungkas Rara, sembari mengantongi beberapa barang bekas di sebilah tangan kirinya.

Selaku Humas, Edi Santoso sendiri masihlah mengharapkan Pasar Pakuncen dapat kembali ramai dikunjungi oleh masyarakat. Melalui agenda rapat rutin yang ia dan kawan-kawan pedagang inisiasi, mereka berharap bahwa pemerintah dapat kembali memperdulikan kondisi Pasar Pakuncen hari ini. Harapannya pemerintah dapat mengadakan event khusus di Pasar Pakuncen, guna menarik kembali minat para pengunjung ke pasar tersebut. 

Iklan

“Ya harapannya semoga pemerintah lebih sering memperdulikan kondisi Pasar Pakuncen. Seperti sering mengadakan event di pasar ini, biar pasar ga keliatan mati suri dan masyarakat mau berkunjung ke sini,” katanya.

Penulis: Mohamad Ichsanudin Adnan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Mencari Jejak Lapangan Terbang Sekip UGM yang Eksis Sebelum Adisutjipto

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 20 Agustus 2023 oleh

Tags: barang bekasJogjaKlithikanPasar Pakuncen Klithikan
Mohamad Ichsanudin Adnan

Mohamad Ichsanudin Adnan

Menanggung gelar "Akademisi Menfess"

Artikel Terkait

Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO
Urban

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO
Esai

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Innova Reborn Terlahir Jadi Mobilnya Orang Bodoh dan Pemalas (Wikimedia Commons)

Bapak Rela Jual Tanah demi Membeli Innova Reborn Setelah Tahu Bahwa Reborn Bukan Sekadar Mobil Terbaik 2025, tapi Investasi yang Nggak Bisa Rugi

25 Februari 2026
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026
Lagu religi "Tuhan Itu Ada" jadi ajang promosi Klaten lewat musik MOJOK.CO

Adhit & Carlo Jikustik Gandeng Klaten Project Rilis Lagu Religi “Tuhan itu Ada”

25 Februari 2026
Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.