Makam Wotgaleh: Panglima Mataram dan Pesawat Terbang yang Jatuh Jika Melintas 

Burung pun akan jatuh jika terbang di atasnya.

Makam Utama Area Makam Wotgaleh

Makam Wotgaleh di Berbah, Kabupaten Sleman yang berada di sebelah selatan Bandara Adisutjipto terlarang untuk pesawat melintas di atasnya. Di makam ini, terbaring abadi panglima perang Mataram yang juga putra Panembahan Senopati.

***

Hari masih pagi kala saya menuju Berbah. Selepas hamparan tebu di sepanjang jalan, saya berbelok ke Masjid Sulthoni Wotgaleh di Dusun Mereden, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Lokasinya tersembunyi di antara perkebunan tebu dan membuatnya cenderung sepi dari keramaian. Tidak ada aktivitas berarti selain beberapa pekerja yang sedang mengecat pagar masjid.

Sekilas, masjid ini mirip dengan masjid lain milik keraton seperti di Kotagede dan Kauman. Nuansa lawas masih terjaga. Hanya saja, ukurannya lebih kecil dan tanpa kolam di bagian depan. Dari luar, masjid ini tampak biasa saja. Namun, saat didekati, tempat ini dikelilingi 3 komplek makam. 

Di samping masjid, ada satu bangunan dengan 3 lapis pintu di dalamnya. Itulah bangunan tempat para juru kunci makam Pangeran Purbaya berjaga. “Sedang pulang cari rumput, Mas, ditunggu saja,” terang seorang pekerja saat saya mencari keberadaan juru kunci.

Seorang pria mendekat. Ia tiba-tiba memberikan aneka nasehat tanpa diminta. “Diamkan saja, Mas, dia agak begini,” sahut pekerja lain sambil meletakkan jari telunjuk di dahi – artinya gila.

Mencari bapak, membunuh ibu

Dalam budaya Jawa yang masih mengutamakan garis keturunan, Raden Mas Damar atau Pangeran Purbaya bukanlah sosok sembarangan. Di dirinya mengalir darah 2 pendiri Wangsa Mataram. Dari pihak ayah, ia mewarisi darah Ki Ageng Pemanahan. Dari pihak ibu, ia mewarisi darah Ki Ageng Giring, sahabat Pemanahan yang disebut pertama kali mendapatkan bisikan gaib tentang kekuasaan di Jawa lewat buah kelapa.

Ibunya bernama Rara Lembayung atau Niken Purwasari, salah satu selir Panembahan Senopati. Semasa kecil ia tinggal di Sada, Gunungkidul dan diasuh oleh sang ibu beserta sang kakek, Ki Ageng Giring III. Di masa kecil, ia punya julukan Joko Umbaran karena di-umbar, dilepas secara bebas. Menjelang dewasa, Damar bersikukuh mencari tahu keberadaan ayahnya. 

Makam Panglima Mataram di Wotgaleh
Masjid Sulthoni Wotgaleh. (Syaeful Cahyadi/Mojok.co)

Selama ini, ibu dan kakeknya selalu merahasiakan hal tersebut. Ia lantas diberi petunjuk oleh Sang Kakek untuk berjalan menuju barat dan berhenti di lapangan dengan 2 pohon beringin. Duduklah ia di sana dan meminta bertemu raja. Kepada raja, ia mengaku sebagai cucu Ki Ageng Giring III.

Menurut M.B. Surakso Slamet (65), juru kunci Makam Wotgaleh, Joko Umbaran harus melakoni 2 syarat jika ingin diakui sebagai anak oleh Panembahan Senopati. Syarat pertama berupa perintah dan teka-teki mencari warangka (sarung) keris di kediaman ibunya. Sang ibu paham, ia berkorban demi pencarian identitas anaknya. Ia kemudian berlari menusukkan dirinya sendiri lalu meninggal. Kisahnya sejenak mengingatkan saya pada Roro Oyi.

Syarat kedua, Damar dikirim ke Madiun untuk turut membantu pasukan Mataram dalam misi penaklukan wilayah. Keberhasilannya selama perang membuatnya diakui sebagai anak sekaligus diangkat menjadi pangeran dengan gelar adipati. Ia kemudian menjadi sebagai salah satu panglima perang Mataram.

De Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram berpendapat bahwa pemberian nama Purbaya merupakan cara Senopati melegitimasi kekuasaan Mataram atas Madiun. Sebab, Purbaya adalah nama Madiun di masa lampau. Nama Pangeran Purbaya sebagai panglima perang turut disebut De Graaf dalam penyerangan ke Kediri pada 1591 dan 1593. 

Dalam Babad Tanah Jawi, nama ini disebut sebagai salah satu dari 9 anak Senopati. Sementara terkait perintah membunuh ibunya sendiri, Slamet menduga ini upaya agar Rara Lembayung kelak tidak meminta harta dan tahta dari suaminya.

Purbaya memang pangeran, namun sulit mencari kapan sosok ini lahir. Slamet pun tidak tahu pasti. Pada denah silsilah di bagian depan bangunan makam, hanya dituliskan bahwa Pangeran Purbaya diangkat menjadi adipati oleh Senopati. Lalu pada 1624 ia diberi gelar panembahan oleh Sultan Agung yang tak lain adalah kemenakannya sendiri. 

Namanya dalam berbagai denah di sekitar Makam Wotgaleh pun ditulis dengan Purubaya. Beberapa sumber mengatakan jika Pangeran Purbaya meninggal saat mempertahankan Keraton Plered dari serangan Karaeng Galesong dan Trunojoyo pada 1677.

Denah makam utama di komplek Makam Wotgaleh. (Syaeful Cahyadi/Mojok.co)

Menyoal wilayah yang kini menjadi masjid dan makam, Slamet mengatakan bahwa Purbaya mendapatkan jatah wilayah ini dari salah satu pamannya. Diperkirakan Masjid Wotgaleh dibangun berdekatan dengan pembangunan ibukota Mataram Islam di Kotagede. Bangunan makam sendiri pernah dipugar besar-besaran pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono VII.

Di kemudian hari, nama ‘Purbaya’ menjadi sebuah gelar yang diturunkan lintas generasi. Di makam ini, terdapat 4 nama Purbaya. Masing-masing adalah Raden Mas Damar (Purbaya I), Banteng Mataram (anak Raden Mas Damar, bergelar Purbaya II), Raden Mas Sahwawrat (Purbaya III), serta Raden Mas Haryo Timur (Purbaya IV). Dua nama terakhir adalah cucu dari Raden Mas Damar dan menjabat tumenggung.

Larangan pesawat terbang melintas di atas makam

Keterangan dari Slamet mengatakan, selain Makam Keluarga Pangeran Purbaya, di sekitar Masjid Wotgaleh juga terdapat 2 makam keluarga Hamengkubuwono II dan IV, pemakaman umum warga dusun, dan pemakaman abdi dalem Wotgaleh. 

Komplek makam utama Pangeran Purbaya di Makam Wotgaleh berada di tengah area selepas makam abdi dalem. Cungkupnya berbentuk joglo dan tampak seperti pendopo. Jumlah makam utama ada 11, termasuk 3 nama ‘purbaya’ lain, Rara Lembayung, dan istri Pangeran Purbaya I.  Penanda paling kentara adalah semua nisan di makam utama diselubungi kain putih.

Makam ini pun bukanlah makam bunder atau makam yang sudah tidak digunakan lagi. Area di bagian dalam masih digunakan sebagai tempat memakamkan para abdi dalem makam dan Masjid Wotgaleh yang berpulang. Selain itu, hingga masa sekarang, Makam Wotgaleh juga menjadi makam bagi beberapa keturunan Pangeran Purbaya.

Di makam yang juga situs cagar budaya ini, tidak ada ketentuan soal jam buka makam dan pakaian yang digunakan. Makam dibuka 24 jam dan dijaga 11 abdi dalem Keraton Yogyakarta secara bergantian. Hanya saja, di bagian depan pos jaga abdi dalem tertulis ketentuan supaya peziarah mengambil wudu terlebih dahulu. Selain itu, perempuan yang sedang haid juga dilarang masuk. Kata Slamet, beberapa pengunjung pernah kesurupan karena ternyata sedang haid dan memaksakan masuk.

Slamet, salah satu abdi dalem penjaga Makam Wotgaleh. (Syaeful Cahyadi/Mojok.co)

Dari sekian mitos tentang makam ini, kisah paling terkenal adalah tentang jatuhnya pesawat terbang jika melintasi langit di atas makam. Maklum saja, Makam Wotgaleh berada di sekitar komplek milik AURI. Perkebunan tebu di sekitar masjid dan makam pun milik instansi tersebut. Jika dilihat di Google Maps, makam ini berada di sebelah selatan bandara Adisucipto Yogyakarta.

“Jangankan pesawat,” kata Slamet, “Kepercayaan di tempat ini, burung pun bisa jatuh jika terbang di atasnya,” lanjutnya. Ia mengenang, sejak ia kecil, banyak sekali kejadian pesawat jatuh di sekitar makam dan terakhir terjadi pada 2015 silam. Menurut Slamet, saat kejadian, pesawat sempat 2 kali terbang rendah sebelum akhirnya jatuh setelah melintas untuk ketiga kalinya.

Menurut sang juru kunci, insiden jatuhnya pesawat konon lebih disebabkan karena tidak ada wujud “kula nuwun” antara pihak AURI dengan Makam Wotgaleh. Ia mengisahkan, sudah menjadi tradisi bahwa setiap pergantian Danlanud, maka sang komandan akan berziarah ke makam ini. “Kejadian di 2015, Danlanud baru tidak ziarah ke sini, mungkin tidak ada yang memberitahu,” terang Slamet.

Makam Wotgaleh juga cukup ‘sensitif’ dengan urusan kamera. Slamet berujar, beberapa waktu lalu ada peziarah ingin membuat konten YouTube tentang makam. Setelah dicek ulang di luar makam, semua video di area makam rusak dan tidak bisa diputar. Saat saya berziarah dan hendak mengambil foto, Slamet hanya berpesan agar berdoa dan meminta izin supaya hasil fotonya tidak rusak.

Sebagaimana makam kuno lain, Wotgaleh juga sering didatangi para peziarah dengan berbagai tujuan. Di masa lampau, tempat ini sering dipakai tempat menginap rombongan peziarah hingga berbulan-bulan lamanya. Namun kini, pihak pengelola hanya mengizinkan maksimal 3 hari lamanya. Di sisi lain, terang Slamet, makam ini sering didatangi orang-orang yang menginginkan jabatan dan kelancaran usaha

Menjelang pemilihan bupati misalnya, para calon akan datang ke sini. Jika sudah begitu, Slamet dan abdi dalem lain hanya bisa memberikan arahan ke para peziarah. “Jangan berdoa ke yang dimakamkan di sini. Berdoalah ke Tuhan, tempat ini hanya perantara panjenengan berdoa,” demikian tiru Slamet.

Kegiatan kebudayaan di Makam dan Masjid Wotgaleh pun masih terjaga dengan baik. Sadranan secara rutin diadakan dengan dana dari Dinas Kebudayaan dan pemerintah desa setempat. Beberapa tahun terakhir, acara tersebut diadakan di hari Minggu supaya lebih menarik minat warga untuk ikut serta. Ada pula tahlilan bersama tiap malam Kamis dan Senin Kliwon yang merupakan geblag sekaligus weton Pangeran Purbaya I yang diinisiasi oleh para abdi dalem. 

Saya iseng bertanya pada Slamet soal peziarah dari pihak Keraton Yogyakarta. Menurutnya, sangat jarang ada peziarah datang. Terakhir, katanya, ada beberapa adik raja datang ke makam ini. “Itu lho, Mas, pas ada gonjang-ganjing,” ujar Slamet setengah berbisik.

       ***

Sebagai sebuah makam kuno, Makam Wotgaleh termasuk bersih dan terawat. Suasananya pun jauh dari kata angker dan singup. Semua itu tercipta berkat suasana terang. Jalan menuju makam pun sudah disemen. Belum lagi area makam ini juga cukup padat, tidak seperti makam kuno.

Waktu menunjukkan pukul 11.00 saat saya pamit pada Slamet. Para pekerja masih sibuk mengecat pagar. Saya menyempatkan berbincang sejenak dengan mereka. Orang gila tadi kembali datang. Saat tahu saya hendak pergi, ia tiba-tiba mengambil posisi menyembah. “Nderekke, Prabu Yudha!” serunya. Saya tertawa, begitupun para pekerja yang tadi tampak sebal karena ulahnya.

 

Reporter : Syaeful Cahyadi

Editor     : Agung Purwandono

 

BACA JUGA Margo Redjo, Pabrik Kopi Tertua di Semarang yang Pernah Memasok Kopi Dunia dan liputan menarik lainnya di Susul.

Exit mobile version