Pak Jenggot dan Tunanetra yang Datang karena Jingle Susu Murni Nasional

Susu Nasional, karena jinglenya yang khas, orang mengenalnya dengan Susu Murni Nasional. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Susu Nasional punya jingle khas yang terngiang-ngiang di benak anak kelahiran akhir 1990-an hingga sekarang. Para penjualnya, berkeliling menelusuri gang-gang perumahan, mangkal di depan sekolah, dan tempat penuh bocah lain. 

Tet tet tet tet tet.. susu murni Nasional.” Jingle itu sangat khas. Bahkan karena saking terekamnya dalam ingatan, sampai-sampai banyak orang yang menganggap, merek susu tersebut adalah Susu Murni Nasional. Ada juga yang menyebutnya Susu Segar Nasional. Padahal, aslinya jenama yang melekat adalah Susu Nasional. 

Mojok berjumpa dengan penjual Susu Nasional yang menceritakan pengalaman mereka saat jualan.

***

Pak Jenggot dan Susu Nasional

Saat sedang tidak berniat membeli atau mencari, saya kerap menjumpai penjual Susu Nasional yang sedang keliling pakai gerobak sepeda khasnya. Selain penampakan yang mudah ditandai, tentu jingle yang disiarkan lewat pengeras suara sederhana bertenaga aki membuatnya mudah dicari.

Tet tet tet tet tet tet tet… susu murni Nasional,” begitulah kurang lebih bunyi yang melekat di ingatan banyak orang.

Namun, ketika sedang sengaja mencari, saya malah tidak menemukan penampakan mereka di berbagai area yang saya kelilingi. Beberapa waktu lalu saya mengitari daerah Seturan ke Gejayan lalu ke Maliboro, Wirobrajan, hingga Kasihan, Bantul hanya untuk mencari sosok mereka. Hasilnya nihil.

Saya melewati titik-titik di mana biasanya mereka mangkal. Tapi ndilalah-nya kok sedang tidak di sana juga. 

Tapi kalau sudah rezeki, perjumpaan itu bisa datang tiba-tiba. Selasa (2/8) sore menjelang pukul lima, saat saya sedang berhenti di APILL simpang empat Taman Sari, lamat-lamat tampak lelaki paruh baya berseragam Susu Nasional sedang mengayuh gerobaknya. 

Namanya, Pak Jenggot (60) ketika ia memperkenalkan diri. Sore itu ia mengaku sudah mau pulang mengembalikan gerobak jualannya ke depot. Sambil berharap ada satu dua pembeli yang nyantol di jalan.

“Ini sudah arah pulang. Tapi ya siapa tahu ada pembeli juga di jalan,” ujarnya. Sore itu saya membeli dua varian susu. Satu rasa strawberry dan satu yoghurt. 

Penjual susu murni nasional
Pak Jenggot saat ditemui di simpang empat Tamansari. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Saya lantas menanyakan beberapa hal pada Pak Jenggot. Tentang awal mula ia berjualan dan kisah-kisah menarik yang ia alami selama ini. Namun, sore itu ia tampak kelelahan. Lokasi kami berhenti juga persis di sisi persimpangan. Tidak ideal untuk berbincang.

“Besok saja Mas, lama ini kalau diceritakan. Besok di seberang SMP Muhammadiyah 3 Jogja. Siang saya di sana lagi nunggu anak-anak sekolah pulang,” usulnya.

Keesokan harinya saya menemui Pak Jenggot di emperan toko seberang SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Saat saya tiba, ia sedang asyik memainkan ponselnya.

“Mumpung ada WiFi gratis, Mas. Dari sekolahan depan situ,” celetuknya. Tampak jaringan yang tak begitu bagus karena terpaut jarak, hanya satu atau dua strip, namun Pak Jenggot tetap memanfaatkannya.

Cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga

Pak Jenggot mengaku sudah menjual Susu Nasional sejak tahun 2008. Hingga sekarang berarti sudah lima belas tahun ia menekuni profesi ini. Menurutnya, berjualan susu kesukaan anak-anak ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

“Lumayan lah untuk makan,” ujarnya singkat.

Pria asli Jogja ini dulunya merantau ke Jakarta, bekerja serabutan sejak tahun 1982. Saat gempa mengguncang Jogja tahun 2006, ia lalu pulang. Namun, tak langsung menjadi penjual Susu Nasional. Ia awalnya mencoba peruntungan berjualan donat lalu beralih ke cilok. Sebelum akhirnya pertemuan dengan seorang penjual susu membuatnya beralih.

“Dulu sering mangkal sama penjual susu. Terus dia bilang akan pulang kampung dan butuh pengganti,” kenangnya.

Sejak saat itulah ia mendaftar menjadi penjual Susu Nasional. Syaratnya sederhana, hanya butuh menyetorkan KTP dan Kartu Keluarga. Tentu ditambah niat dan komitmen berjualan.

Setelah itu ia berhak mendapatkan seragam kebanggaan yang kini selalu ia gunakan. Awalnya dua stel hingga sekarang ia mengaku sudah punya banyak sekali koleksi seragam Susu Nasional.

Untuk gerobak kayuh yang digunakan berkeliling, ia hanya dipinjami. Sehingga tak ada biaya yang perlu dikeluarkan sama sekali saat mendaftar menjadi pengasong Susu Nasional.

Bahkan, sejak awal bekerja ia mengaku juragannya tak memberikan target untuk menjual banyak-banyak. Jadi ia jual semampunya saja.

“Justru sama juragannya nggak boleh ditarget.  Nggak usah ditarget karena orang kerja itu sudah punya target masing-masing,” jelasnya.

Di Jogja, menurut Pak Jenggot ada tiga depot susu yang pabriknya berada di Salatiga, Jawa Tengah ini. Depot pertama di Timoho, Umbulharjo, Kota Yogyakarta tempat Pak Jenggot biasa mengambil stok. Kemudian dua depot lain terletak di Kentungan, Sleman dan Wirosaban, Bantul.

Ternyata setiap penjual Susu Nasional punya teritori sendiri-sendiri. Pak Jenggot misalnya, sejak dulu diamanahi untuk berkeliling di sekitar Ketanggungan, Kadipiro, hingga Sonosewu. Menurutnya, orang daerah sekitar situ sudah hafal dengannya.

“Masnya di gang-gang sekitar sini tanya aja, Pak Jenggot susu sudah lewat belum? Mereka pasti tau saya,” jelasnya yakin, sambil tertawa.

Ia berkeliling sejak pagi. Seringnya jam tujuh, namun kadang kala ia mengaku sudah mulai jalan sejak jam enam. Lalu nanti berjalan pulang sekitar jam empat sore.

Pak Jenggot dan gerobak Susu Nasional yang jadi tumpuan mencari nafkah. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Jualan dan perjuangan

Bertahun-tahun jualan membuat Pak Jenggot kenyang pengalaman di jalanan. Misalnya ia tetap berjualan saat erupsi Merapi 2010 yang membuat jalanan Jogja penuh abu.

“Itu dulu jarak pandangnya hanya sampai situ lho,” ujarnya sambil menunjuk pohon yang berada di seberang jalan.

Saat kejadian itu, menurutnya banyak penjual Susu Nasional yang tetap berkeliling. Meski ada beberapa ruas jalan yang ditutup.

“Dulu bukan cuman saya, teman-teman lain juga tetap jualan. Walaupun pas itu saya pulang bawa duit 20 ribu tok. Itu uang segitu yang saya dapat lho, bukan untungnya,” kenangnya.

Masa paceklik bukan hanya saat erupsi Merapi, belum lama ini saat pandemi sedang ganas-ganasnya, Pak Jenggot dan kawan-kawan juga mengaku cukup kepayahan. Sekolah-sekolah tempat biasanya anak berkumpul sepi.

“Dulu itu setiap  masuk gang-gang disemprot disinfektan. Berkali-kali sehari itu saya kena semprot,” ujarnya terkekeh.

Tapi ia mengaku sudah mendapat vaksin saat berkeliling. Bahkan, ia bilang kalau antre paling depan di puskesmas. Ia tak ingin membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.

“Saya ini sudah vaksin tiga kali lho. Dulu awal-awal itu saya minta didahulukan. Saya jualan kan masuk-masuk pemukiman warga, jadi minta yang pertama,” ucapnya tegas.

Hari libur para penjual Susu Nasional tak di akhir pekan. Perusahaan menerapkan sistem 24 hari kerja dalam sebulan. Sisanya libur.

“Kalau di Jogja seperti itu. Enak kan mas, liburnya malah lebih lama,” ucap Pak Jenggot.

Siang itu, anak-anak masih belum keluar dari kelasnya. Pak Jenggot bisa santai sambil merokok sebatang dua batang. Di sela itu, sesekali ada pengendara motor yang berhenti dan membeli beberapa bungkus susu.

Dulu, harga susu cup beragam rasa mulai dari coklat, strawberry, hingga moka yang harganya Rp1.500 kini sudah jadi Rp3.000. Ada juga varian lain seperti yoghurt, untuk cup harganya Rp4.000 sedangkan yang botol Rp7.000. Ada juga susu prepack, ukuran 180ml dijual seharga Rp3.000 dan yang 500ml dijual seharga Rp7.000.

Daftar harga Susu Nasional. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Seorang anak tunanetra yang datang karena jingle

Berjualan lama juga membuat Pak Jenggot sudah punya banyak pelanggan tetap. Salah satu yang ia ingat betul adalah seorang anak yang tinggal di daerah Kalibayem, Kasihan, Bantul. Anak itu tunanetra sejak lahir, tapi ketika suara jingle terdengar tanda Pak Jenggot sudah dekat, pasti ia akan lari ke luar rumah.

“Mau rasa apa? Pilih saja,” ucapnya sambil membuka boks wadah susu. Itulah percakapan yang dikenang Pak Jenggot saat bertemu bocah itu.

Namun, Pak Jenggot segera sadar bahwa anak yang ditemani pengasuh itu tidak bisa melihat warna-warni bungkus yang menjadi penanda varian rasa. Hal itu sontak membuat Pak Jenggot kaget dan merasa bersalah.

Setelahnya, ketika sudah mendekati rumah anak itu Pak Jenggot sengaja mematikan pengeras suara. Baru ketika benar-benar sudah di depan rumah, ia nyalakan lagi, ia perdengarkan lagi jingle khas itu.

Tet tet tet tet tet tet tet… susu murni Nasional.

  Hal itu ia lakukan, lantaran Pak Jenggot khawatir kalau anak itu lari mengejarnya.

“Kalau saya nyalain dari jauh itu takutnya dia ngejar. Depan rumahnya itu sudah jalan rahaya. Risiko kan,” ungkapnya.

Selain itu, beberapa pelanggan lain yang beberapa tahun lalu masih seumuran SD atau SMP juga sudah ada yang menikah. Mereka tetap membeli susu dari Pak Jenggot. Bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk buah hati yang sudah mereka miliki.

“Anak-anak bukan hafal lagi, wong ada yang sudah nikah juga, terus beli lagi buat anaknya. Sebab sudah percaya kan sama jajan ini, orang sudah dari dulu coba, ” kenangnya bahagia.

Rezeki yang datang karena terus bergerak

Ketika menceritakan kenangan-kenangan saat berjualan, Pak Jenggot nampak bungah. Dagangannya memang tak selalu ramai pembeli. Namun, ia percaya rezeki akan datang bagi mereka yang terus bergerak.

Suatu hari pernah dagangan Pak Jenggot begitu sepi dari pembeli. Sore ia sudah dalam perjalanan kembali ke depot Timoho dengan sisa susu di boks yang nilainya masih sekitar Rp300-Rp400 ribu. 

“Saking sepinya hari itu, saya mau mampir makan di warung aja ragu kalau duitnya cukup,” ujarnya.

Dalam perjalanan pulang yang penuh pasrah di sekitar GOR Amongrogo, tiba-tiba ada mobil yang menepi dadakan di depannya.

“Waktu itu saya udah mau jengkel, ini kok mobil dadakan banget beloknya,” kenangnya.

Namun, ketika seorang keluar dari mobil dan memesan sepuluh cup susu, rasa jengkel itu sirna. Tak berselang lama, muncul lagi seorang lain dari bangku belakang mobil. Orang itu bertanya masih sisa berapa cup susu yang dibawa Pak Jenggot dan hendak memborongnya semua.

“Saya bilang, beneran apa enggak. Terus mau bawa pakai apa soalnya plastik saya kecil juga,” ujarnya.

Ternyata orang itu hendak membayar semua susu yang tersisa, tapi  tak ingin membawanya. Pembeli itu meminta Pak Jenggot memberikannya secara gratis apabila ada orang yang hendak membeli.

“Sore itu akhirnya saya keliling lagi tapi kok nggak ada orang yang beli. Akhirnya saya berhenti di angkringan ramai terus membagikan ke mereka yang ada di sana,” ucapnya.

Hal itu membuat Pak Jenggot harus minta maaf kepada si penjual angkringan. Sebab bukannya membeli es teh yang jadi sumber keuntungan, para pengunjung angkringan jadi minum Susu Nasional.

Menjelang ashar, saya berpamitan dengan Pak Jenggot. Tentu saya penasaran dengan nama asli beliau, tapi ia tak mau memberikan namanya aslinya.

“Sudah, orang-orang malah tidak kenal nama asli saya. Kenalnya Jenggot,” ujarnya. Jenggot putihnya ini sudah ia rawat sejak awal jualan susu keliling.

Usia senja dengan semangat muda

Di waktu yang berbeda, saya juga menjumpai beberapa penjual Susu Nasional lain di Jogja. Ada Pak Samino (63) dan Supriyono. Keduanya saya temui secara tidak sengaja.

Samino sedang melayani pembeli. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Supriyono saya temui di Jalan Malioboro. Lelaki paruh baya ini mengaku sudah belasan tahun berjualan. Sayang waktu itu saya tak sempat berbincang banyak dengannya. Namun, ia menceritakan kalau area berjualannya ada di sekitar Malioboro.

Selanjutnya, Samino saya temui di sekitar Suronatan, jalan arah menuju Alun-alun Utara Yogyakarta. Lelaki ini mengaku baru dua tahun jualan Susu Nasional. Sebelumnya ia adalah tukang becak.

“Saya dari tahun 1977 sudah narik becak. Masnya pasti belum lahir,” katanya tertawa.

Beberapa tahun belakangan, duit yang Samino dapat dari hasil narik becak semakin menurun dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akhirnya ia mencoba peruntungan menjajakan susu keliling ini.

“Ya lumayan, ini sehari bisa dapat seratus ribu bersihnya,” ucapnya senang.

Samino mengaku heran, di usia enam puluh dirinya masih kuat mengayuh gerobak Susu Nasional berkeliling seharian. Dulu, becak yang ia gunakan adalah becak motor sehingga tak perlu banyak tenaga untuk mengayuhnya.

Pedagang Susu Nasional yang saya temui memang usianya sudah tidak lagi muda. Namun, mereka punya semangat untuk menyambung kehidupan. Berkeliling menyiarkan suara yang selalu terkenang di telinga kita, “tet tet tet tet tet.. Susu Murni Nasional.”

Reporter: Hammam Izzuddin
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Stigma Irasional Tunanetra: Orang Suci yang Bisa Nebak Nomor Togel

Exit mobile version