Cerita Mahasiswa Surabaya yang Rela Lapar Demi Beli Buku

Ilustrasi Cerita Mahasiswa Surabaya yang Rela Lapar Demi Beli Buku. MOJOK.CO

Bagi beberapa mahasiswa, buku menjadi kebutuhan yang tak kalah penting dari makan sehari-hari. Dalam kasus yang Mojok temui, bahkan ada mahasiswa Surabaya yang rela lapar demi bisa membeli buku. Salah satu di antara mereka malah sampai pada kegilaan tidak bisa berkata “tahan dulu” untuk urusan belanja buku.

***

Mata Fahim (22) tampak berbinar-binar saat menatap deretan buku berlabel “Novel/Sastra” di Togamas Margorejo, Surabaya, langganannya untuk berbelanja buku tiap bulan.

Dengan antusias ia lalu mondar-mandir dari satu rak ke rak lain. Kadang ia tercenung sejenak saat membaca judul demi judul buku yang tersaji di hadapannya. Sesekali tampak ia memungut satu buku yang membuatnya tertarik, membaca sinopsisnya di sampul belakang, dan akan menimang-nimangnya beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk meletakkannya kembali ke tempatnya semula.

Fahim mengaku, ia bisa membutuhkan waktu berjam-jam untuk sekadar melihat-lihat.

“Kalau sudah sungkan dilihatin mas-mas CA (customer advisor), baru akan cepat-cepat saya putuskan mau beli yang mana,” ujar mahasiswa Surabaya ini yang memastikan bahwa saya tak keberatan menunggunya “bertualang” di belantara buku Togamas Margorejo, Surabaya.

“Kayaknya yang satu ini sudah fiks aku beli. Tinggal mutusin beli yang mana lagi,” ucapnya tak lama berselang, sembari menunjukkan novel Kita Pergi Hari Ini-nya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.

Melihat buku seperti melihat wanita idaman

Awal bulan seperti ini memang menjadi hari yang paling dinanti-nati oleh Fahim. Karena artinya, ia akan menerima uang kiriman untuk dua hal; jajan selama satu bulan dan subsidi untuk membeli buku-buku incaran.

Jelas tak banyak mahasiswa Surabaya yang punya privilege seperti Fahim. Orang tuanya memang sangat mendukung dengan hobi membacanya. Alhasil, dalam kiriman bulanannya, orang tua Fahim pasti akan memberi jatah khusus untuk membeli buku—di luar untuk jatah makan—antara Rp200-Rp300 ribu.

“Kalau belanja di Togamas, uang segitu bisa dapat tiga sampai empat buku lah. Asumsinya buku yang saya beli di atas Rp50 ribu, tapi tidak lebih dari Rp100 ribu,” jelasnya.

Mengenai hobi membacanya, Fahim sendiri mengaku baru sangat gila dengan buku saat masuk kuliah. Pertama, melalui temannya, ia tercemplung ke sebuah komunitas baca. Didorong oleh rasa tak ingin tertinggal dari orang-orang di dalam komunitas tersebut, ia akhirnya memutuskan untuk berkenalan dengan banyak buku, terutama karya-karya fiksi.

Cerita Mahasiswa Surabaya yang Rela Lapar demi Beli Buku. MOJOK.CO
Salah satu toko di pusat buku bekas Jl. Semarang, Surabaya. (Muchamad Aly Reza/Mojok.c)

Ia lantas menjadi sangat gila pada membaca. Lalu kedua, hasratnya itu bisa tersalurkan dengan mudah di Surabaya. Sebab, ada banyak toko buku yang tersebar di banyak titik.

Mengutip kata-kata mutiara dari Arab, Fahim mengamini bahwa melihat buku, baginya, bak melihat wanita idaman.

“Getarannya besar sekali. Kalau lihat buku, ibaratnya, pokoknya harus jadi milikku,” ujar Fahim.

Tak tahan dengan godaan di akhir bulan

Meski sudah mendapat jatah khusus untuk membeli buku, tapi nyatanya tak serta merta membuat Fahim puas. Sering kali ketika memasuki pertengahan atau akhir bulan, Fahim tak bisa menahan diri untuk tidak ke toko buku

Ada beberapa faktor. Satu, jika bacaan sudah habis. Dua, jika ia mendapat rekomendasi judul buku yang belum pernah ia baca. Dan tiga, saat kegabutan melanda, saat benat-benar tak ada agenda, maka Fahim biasanya akan menikmati kesendiriannya ke toko buku. Bisa ke Togamas, bisa ke Gramedia di Surabaya.

“Kalau sudah masuk (toko buku), sudah jaminan khilaf. Dua biji harga Rp50 ribuan otomatis kebeli,” akunya dengan pandangan ke bawah.

Sebelum ke toko buku di akhir bulan itu, Fahim sebenarnya sudah bertekad untuk hanya melihat-lihat saja. Tapi praktiknya, yang terjadi selalu di luar rencana.

“Rasanya nggak tahan saja. Walaupun kadang kalau sudah kebeli langsung dilema. Antara seneng punya bacaan baru, atau susah karena setelah itu harus ekstra-ekstra ngepres uang makan,” tuturnya.

Alhasil, jika sudah begitu, maka di sisa hari di akhir bulan itu ia akan lebih sering merasa lapar. Kalau biasanya ia bisa makan di warung dengan nominal paling banyak Rp15ribu sekali makan (seringnya ia bisa makan tiga kali sehari, belum ngopinya), maka di akhir bulan itu ia akan menanak nasi sendiri. Lalu akan membeli sayur, gorengan, dan kerupuk setotal Rp10 ribu yang ia gunakan untuk makan dua kali dalam sehari.

Yang mungkin jadi keheranan teman-teman pembaca, kenapa jika kehabisan bacaan Fahim tak memilih meminjam buku saja untuk sementara? Entah pinjam buku teman atau pinjam dari perpustakaan. Jawaban Fahim kurang lebih sama dengan penjelasan mahasiswa Surabaya lainnya, Royyan (23).

Tak bergairah dengan buku pinjaman

Untuk urusan buku, antara Fahim dan Royyan punya kesamaan; sama-sama tak nyaman meminjam. Entah dari teman atau dari pepustakaan.

Kalau mau meminjam, sungguh sangat mudah bagi Royyan. Ia punya beberapa teman yang punya banyak koleksi buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Di Surabaya pun banyak perpustakaan umum dengan koleksi buku yang, menurut saya, cukup oke.

Bahkan, kata Royyan sendiri, di perpustakaan kampusnya ada satu rak buku yang menyediakan koleksi novel-novel klasik yang di matanya sangat menggoda.

“Ada rasa nggak puas, kurang marem kalau nggak baca buku milik sendiri. Pernah pinjam teman, tapi nggak tahu ya, kurang sreg saja rasanya,” ungkapnya.

Pun kalau beli sendiri, jika sudah rampung dibaca, maka nantinya bisa jadi tambah-tambahan koleksi pribadi.

“Mungkin akunya juga yang nggak enakan. Jadi kalau sudah kupinjam lama tapi kok nggak khatam-khatam, akhirnya aku balikin karena takut orangnya mbatin,” lanjutnya.

Berburu buku di pusat buku bekas, Jl. Semarang, Surabaya. (Muchammad Aly Reza/Mojok.co)

Apalagi, sepengalaman Royyan meminjam buku dari salah seorang temannya, ia menjadi kurang leluasa karena tidak diperkenankan meminjam dalam waktu lama. Alias diberi tenggat waktu kapan kiranya buku yang ia pinjam harus dikembalikan.

Tak mau beli buku bajakan

Kalau nasi adalah makanan untuk perut, maka buku adalah makanan untuk otak. Kira-kira kalimat populer tentang literasi itu lah yang juga dipegang oleh Royyan. Baginya, buku tak kalah penting dari makanan yang masuk ke perut.

Oleh karena itu, ia biasanya mengambil Rp100-Rp200 ribu dari uang sakunya yang tak banyak untuk belanja buku.

“Kalau mau beli buku murah sebenarnya bisa ke Jl. Semarang (pusat buku bekas dan bajakan di Surabaya). Tapi aku lebih sering ke Togamas. Pasti ada diskon, kan. Aku nggak mau beli bajakan,” katanya.

Tak hanya gandrung membaca, Royyan memang suka menulis dan masih memupuk cita-cita menjadi penulis. Untuk itu, ia menanamkan dalam dirinya sendiri agar tak sekali-kali membeli buku bajakan. Karena itu sama dengan membunuh seorang penulis; memutus rezekinya.

Sebab, suatu saat, jika ia benar-benar jadi penulis, hatinya pasti teriris kalau tahu buku-buku yang ia tulis dengan proses yang panjang dibajak begitu saja.

Tak menyesal uang makan jadi kurang

“Tapi sediskon-diskonnya Togamas, ya tetap harus sedia uang nggak kurang dari Rp100 ribuan. Jadi kerasanya tetap keluar banyak,” ucap Royyan.

Tak jarang di akhir bulan Royyan harus empet-empetan soal makan. Karena kadang kala, karena telah melolosi Rp100-Rp200 ribu untuk anggaran buku di awal bulan, akhirnya uang makannya jadi terpangkas. Biasanya ia akan menyiasatinya sebagaimana cara yang digunakan Fahim.

Atau kalau benar-benar kepepet, pilihannya tinggal satu; minta kiriman lagi dari orang tua. Mengingat, Royyan sendiri masih belum kerja sendiri, hanya fokus kuliah.

Momen saat harus meminta tambahan kiriman dari orang tua menjadi momen yang sebenarnya isykal bagi Royyan. Ia merasa tak enak. Tapi, perasaan itu cepat-cepat berlalu setelah ia mencoba meyakinkan diri bahwa kelak ia pasti akan memetik manfaat dari kegemarannya membeli dan membaca buku.

Dimana salah satu manfaatnya itu ia harapkan semoga memberi dampak pula pada orang tuanya.

“Jadi nggak nyesel-nyesel banget lah. Toh aku pasti jujur. Misal terpaksa minta tambahan, ya aku bilang sebelumnya ada yang buat beli buku. Orang tua bilang nggak masalah. Yang penting uang habis bukan buat beli macem-macem. Termasuk rokok,” beber Royyan.

Oleh orang tuanya, Royyan memang masih dilarang untuk merokok, sampai nanti ia bisa beli pakai uang sendiri. Sepanjang masih minta orang tua, maka uang yang diberikan harus didahulukan untuk kebutuhan-kebutuhan primer. Dan bagi Royyan, buku termasuk bagian dari kebutuhan primer tersebut.

Jalan Semarang di Surabaya jadi solusi

Di tengah-tengah jam istirahat kerja, Selasa (7/42023) saya tiba-tiba kepikiran tentang toko buku di Jl. Semarang. Pukul 11.46 WIB, saya pun memacu motor ke Jl. Semarang, Kecamatan Bubutan, Surabaya, dengan asumsi, “Pasti ada saja mahasiswa yang berburu buku di sana”.

Suasana di pusat buku bekas Jl. Semarang, Surabaya. (Muchamad Aly Reza/Mojok.co)

Bagi warga Surabaya, khususnya dari kalangan pelajar dan mahasiswa, tentunya tak asing dengan Jl. Semarang yang berlokasi tidak jauh dari Stasiun Pasarturi.

Berjuluk Kampung Ilmu, Jl. Semarang, Surabaya menjadi pusatnya buku-buku bekas dan bajakan. Ada puluhan toko yang beredet dari trotoar hingga ke area utama atau titik pusat Jl. Semarang.

Saat saya tiba di sana, sebuah toko di deretan paling depan tengah dikerubungi para pembeli. Dua laki-laki dan dua perempuan. Saya pun mendekat.

Nida (20), salah satu dari mereka mengaku memang sering ke Jl. Semarang untuk membeli novel atau buku-buku yang berkaitan dengan perkuliahan.

“Aku kalau beli buku memang mending di sini. Harga mulai dari Rp15 ribuan, Rp25 ribuan, atau kalau tebel banget paling Rp35 ribuan,” jelas Nida.

Bagi Nida, Jl. Semarang di Surabaya adalah solusi bagi mahasiswa dengan keuangan pas-pasan seperti dirinya. Karena untuk mendapat lebih dari satu buku, ia tak perlu meloloskan uang hingga ratusan ribu.

“Kalau dapat yang bekas-bekas ya syukur. Kalau mentok adanya bajakan, karena mampunya segitu, yang bajakan tetap dibeli. Beli di Togamas atau malah Gramedia bagiku kok terlalu memaksakan diri,” sambungnya.

Berburu buku dari uang sisa

Berbeda dengan Fahim dan Royyan yang belanja buku di awal bulan, Nida menetapkan harus menunggu sampai akhir bulan dulu sebelum memutuskan berburu buku.

“Nunggu sisa uang saku di akhir bulan. Misalnya, akhir bulan sisa uang Rp200 ribu. Maka Rp100 ribu bisa ditabung, yang Rp100 ribunya lagi bisa buat ke Jl. Semarang,” paparnya.

 “Kalau Cuma sisa Rp100 ribu, ya sama, dibagi dua lagi. Kalau nggak nyisa, yaudah berarti nggak beli buku dulu. Nunggu bulan depannya,” tambahnya.

Siasat semacam itu membuat kondisi keuangan Nida cenderung lebih sehat dibandingkan Fahim dan Royyan.

Lebih-lebih, Nida juga bukan tipikal orang yang harus baca buku milik sendiri. Jika ada bacaan yang menarik di perpustakaan atau milik temannya, ia akan memninjam barang sebentar. Denga begitu, ia tinggal membeli buku-buku yang belum ia baca dan kebetulan tidak ia temukan keberadannya di perpustakaan atau di rak buku temannya.

“Apalagi sekarang zaman digital, Mas. Kalau nggak ada buku, ya baca-baca di web aja. Yang penting kan baca. Aku sering juga kok baca Mojok. Dulu sih suka tulisannya Mas Agus (Agus Mulyadi). Sekarang lebih sering nunggu seri Malam Jumat,” akunya.

Penulis: Muchammad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Nasib Sedih Nelayan di Waduk Mrica Banjarnegara, Bendungan yang Dibangun Soeharto

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

 

Exit mobile version