Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Di Kobessah Kopi Gentan Orang-orang Bisa Saling Menitipkan Barang untuk Ditinggal, Meski Tak Saling Kenal tapi Benar-benar Dijagakan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
3 Januari 2025
A A
Kobessah Kopi Gentan adalah warung kopi teraman MOJOK.CO

Ilustrasi - Orang-orang yang saling percaya di Kobessah Kopi Gentan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada pola interaksi yang unik di Kobessah Kopi Gentan (orang-orang biasa menyebutnya dengan Kobessah Gentan saja) di Ngaglik, Sleman, Jogja. Tidak saling kenal, tapi mudah percaya. Dan orang yang dipercaya benar-benar menjaga kepercayaan itu.

***

Jangan lengah sedikitpun. Kalimat singkat itu tertanam di benak saya selama tujuh tahun merantau di Surabaya. Pasalnya, lengah sedikit, saya bisa kehilangan barang berharga. 

Contohnya ada banyak. Saya sudah beberapa kali menulis, bagaimana orang-orang di Surabaya begitu mudah kehilangn motor. 

Misalnya ketika seorang anak kos hendak mengambil barang di dalam kamar, lalu motor diparkir di luar tanpa digembok. Ketika dia keluar, motor sudah raib. Padahal itu di siang bolong. Dia juga tidak sampai satu menit masuk ke dalam kamar.

Dua ponsel hilang di warung kopi

Seorang teman (laki-laki) di Surabaya dulu dua kali mengalami nasib teramat sial. Dua ponselnya hilang di warung kopi gara-gara kelengahannya.

Kejadian pertama terjadi di sekitar Stasiun Gubeng. Kala itu dia sedang menunggu adiknya yang mengunjunginya di Surabaya. Dia nongkrong di sebuah warung kopi (mirip angkringan) di seberang stasiun.

Awalnya dia menunggu sambil bermain ponsel. Tapi lama-lama dia jenuh juga. Akhirnya, dia memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang dia taruh di atas meja. Lalu dia hanyut dalam lamunan: sebat sambil memandangi lalu-lalang di jalanan Gubeng. 

Ketika dia membalikkan badan untuk mengambil ponsel, tas kecilnya sudah terbuka. “Mak deg”. Lalu dia korek-korek isi tasnya. Ponsel dan dompetnya sudah raib. 

Kejadian kedua lebih konyol. Ini terjadi saat dia ngopi sendiri di sebuah warung kopi di Wonokromo, saat teman-teman yang lain sudah balik ke kos masing-masing. 

Saat dia ke kamar mandi untuk buang air, ponselnya itu dia tinggal tergelatak di meja karena posisi sedang di-charge. Ketika balik ke mejanya, ponselnya sudah tidak ada, sisa charger-nya saja. 

Kejadian-kejadian sial yang teman saya alami di warung kopi itu membuat saya cukup parno. Namun, rasa parno tersebut agak terkikis ketika saya pindah ke Jogja setahun ini. Terutama setiap ngopi di Kobessah Gentan. 

Di Kobessah Kopi Gentan, orang bisa percaya menitipkan barang pada orang lain

Saya beberapa kali ngopi di Kobessah Gentan. Kadang sendiri, kadang nongkrong dengan seorang teman. 

Hingga suatu hari, saat saya sedang fokus di depan laptop, seorang pengunjung lain menepuk bahu saya. 

Iklan

“Mas, saya nitip laptop saya ya, di meja itu. Saya mau ke toilet sebentar,” ujarnya sembari menunjukkan meja yang berjarak satu meja dengan meja saya. 

Saya agak kaget. Pasalnya, di meja sana isinya barang penting semua: laptop, ponsel yang di-charge, dan tas yang tergelatak di kursi. Tapi saya iyakan saja. “Kok segampang itu percaya barang itu bakal saya jaga dengan baik?” Begitu batin saya.

Tapi karena kepercayaan itu, saya pun berhenti sejenak dari hadapan laptop. Saya menyandarkan tubuh sambali menyesap rokok. Sesekali saya alihkan pandangan ke meja orang yang menitipkan laptopnya pada saya tadi.

“Sudah, Mas. Terimakasih ya.” Orang yang menitipkan barangnya pada saya tadi kembali, dan itu yang dia katakan dengan senyum takzim. 

Dititipi barang, ya harus dibantu menjaga

Saya menganggap kejadian itu hanya sepintas lalu. Walaupun awalnya membuat saya penasaran. Karena kalau di Surabaya, saya tidak yakin barang yang ditinggal itu bakal utuh.

Sampai kemudian saya ngopi dengan seorang teman yang saya kenal sejak awal saya pindah di Jogja. Namanya Fahri (27), pemuda asal Medan, Sumatera Utara.

Fahri peneliti muda. Hari-hari berkutat dengan jurnal-jurnal ilmiah. Hari itu, saya sedang menyimaknya serius untuk membantu saya mengerjakan sebuah tulisan.

“Bang, saya nitip laptop saya, ya. Saya mau salat dulu.” Tiba-tiba pengunjung lain mendekati kami dengan ucapan itu.

“Oh oke oke, Bang, aman itu. Kau salat lah dulu,” jawab Fahri. 

“Kau kenal, Wak?” tanya saya pada Fahri. 

“Nggak lah. Tapi ya udah, kita bantu jaga aja,” jawabnya. 

Kami lalu hanyut dalam obrolan lagi. Saya perhatikan, mata Fahri sesekali melirik ke arah meja orang yang menitipkan laptopnya tadi. 

“Kau sering ada orang asing menitipkan barang begini?” Tanya saya pada Fahri. 

Tidak sering. Tapi beberapa kali ngopi di Kobessah Gentan, dia memang mengalami hal seperti itu. Dia bahkan sempat sekali menitipkan barangnya pada pengunjung lain karena hendak ke toilet, saat dia sedang ngopi sendirian.

“Kau kok percaya bahwa barangmu akan aman?” Kejar saya. 

“Nah itu, Bro. Dua tahun di Jogja, aku menyimpulkan, orang di Jogja ternyata nggak aneh-aneh. Coba kalau di Medan, aku pun mikir dua kali nitipkan barang begitu,” balas Fahri. 

Eksperimen nekat di Kobessah Kopi Gentan

Saya makin penasaran. Maka, November 2024 lalu saya mencoba melakukan eksperimen di Kobessah Gentan. 

Saya sengaja ngopi sendiri. Saya juga sengaja membawa laptop saya yang sudah butut. Sehingga kalau digondol orang, potensi penyesalannya akan kecil.

Saya charger laptop itu. Lalu saya tunggu sampai saya benar-benar punya alasan ke toilet. 

Ketika rasanya sudah kebelet buang air kencing, saya lalu menentukan, pengunjung mana yang hendak saya titipi laptop. Iya, hanya laptop butut itu. 

Kalau HP dan dompet, tetap saya bawa ke toilet. Dua barang itu terlalu penting bagi saya untuk saya jadikan pertaruhan dalam eksperimen itu. Kalau laptop, setidaknya jika hilang, saya masih bisa bekerja dengan laptop atau komputer fasilitas kantor. Toh laptop saya juga memang sudah busuk.

“Mas, saya titip laptop saya itu ya. Mau ke toilet bentar,” ucap saya pada tiga orang pemuda yang sedang asyik ngopi. 

“Oh aman, aman, Mas. Kami jagakan,” jawab salah satu dari mereka. 

Saya sengaja agak lama di toilet. Ketika kembali, dari jauh terlihat laptop saya masih di tempat. Tidak bergeser se-senti pun. Tiga pemuda yang saya titipi memang tampak asyik ngobrol. Tapi satu di antara mereka, sesekali melirikkan mata ke arah laptop saya: memastikannya aman. 

Fenomena di Kobessah Kopi Gentan itu menjadi salah satu temuan unik bagi saya selama di Jogja. Saya masih penasaran, kok bisa gitu ya? Atau metode eksperimennya yang diubah: tinggalkan laptop, tapi tidak perlu pakai bilang “nitip” ke orang lain? Saya kok “tertantang” untuk mencobanya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Dari Bingkisan Makanan hingga Undangan Nikah: Kisah Tukang Parkir Warung Kopi di Jogja yang Selalu Ramah kepada Pelanggan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 3 Januari 2025 oleh

Tags: kobessah gentankobessah kopipilihan redaksiwarung kopi di jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Grand Filano lebih cocok untuk jarak jauh daripada BeAT. MOJOK.CO

Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

26 Februari 2026
Jangan Remehkan Supra X 125, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang Mojok.co

Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

25 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya! MOJOK.CO

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya!

23 Februari 2026
Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi MOJOK.CO

Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi

26 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.