Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Penghapusan Presidential Threshold adalah Langkah Maju Bagi Demokrasi

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
3 Januari 2025
A A
Presidential Threshold, MK.MOJOK.CO

Ilustrasi - Penghapusan Presidential Threshold adalah Langkah Maju Bagi Demokrasi (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mahkamah Konstitusi (MK) resmi menghapus ketentuan presidential threshold atau ambang batas pencalonan presiden dan wakil presiden sebesar 20 persen. Bagi Perludem, langkah ini dapat membuka ruang kompetisi politik yang lebih adil dan inklusif.

***

Awal 2025, MK membuat gebrakan. Lembaga peradilan ini resmi menghapus ketentuan presidential threshold sebesar 20 persen. Hal tersebut berdasarkan pembacaan keputusan nomor perkara 62/PUU-XXII/2024, Kamis (2/1/2024).

“Mengabulkan permohonan para pemohon untuk seluruhnya,” ujar Ketua MK Suhartoyo saat membacakan putusan di Gedung Mahkamah Konstitusi, seperti Mojok kutip dari channel Youtube resmi Mahkamah Konstitusi RI.

Presidential threshold sendiri merupakan syarat minimal persentase kepemilikan kursi di DPR atau raihan suara bagi partai politik atau gabungan partai politik (koalisi) untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden.

Dengan penghapusan ini, bakal calon presiden atau wakil presiden yang akan maju dalam Pilpres 2029 mendatang, tak perlu diusung oleh partai atau koalisi yang punya representasi 20 persen kursi di parlemen.

Memperluas alternatif pilihan bagi rakyat

Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menyambut baik penghapusan ketentuan presidential threshold ini.

Peneliti Perludem, Annisa Alfath, menilai penghapusan ambang batas dapat memperluas alternatif pilihan bagi rakyat. Ia juga dapat mencegah polarisasi, dan memperkuat prinsip kesetaraan dalam politik.

“Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat prinsip kesetaraan. Tetapi juga membuka ruang kompetisi politik yang lebih adil dan inklusif, menghindarkan masyarakat dari polarisasi. Serta memperluas alternatif pilihan bagi rakyat Indonesia,” kata Alfath, dalam keterangan tertulisnya kepada Mojok, Jumat (3/1/2024). 

Selain itu, alumnus UGM ini menegaskan bahwa pihaknya juga mendorong pembentuk undang-undang untuk memasukkan ketentuan penghapusan presidential threshold ke dalam revisi UU Pemilu.

Proses revisi tersebut harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat luas untuk memastikan implementasi yang adil dan efektif.

“Penyusunan revisi UU Pemilu harus melibatkan partisipasi semua pihak yang memiliki perhatian terhadap penyelenggaraan pemilu. Termasuk partai-partai politik yang tidak memiliki kursi di DPR,” imbuhnya.

Wujudkan pemilu yang lebih adil dan inklusif

Selain memastikan hak politik warga negara untuk memilih dan dipilih, penghapusan presidential threshold juga mampu mengurangi dominasi partai besar dalam pencalonan presiden dan wakil presiden. 

Menurut Alfath, langkah tersebut merupakan wujud nyata dari semangat demokrasi yang inklusif. Yang mana, setiap partai politik memiliki hak setara dalam proses pencalonan.

“Keputusan MK ini adalah awal dari perjuangan untuk menciptakan sistem politik yang lebih sehat, kompetitif, dan berorientasi pada kepentingan rakyat,” ujar peneliti Perludem ini.

Iklan

Meski demikian, upaya baik ini tak boleh berhenti di sini. Melalui Perludem, Alfath mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengawal implementasi putusan MK ini.

Dia juga mendorong pemerintah dan partai politik untuk berkomitmen menciptakan sistem politik yang menjunjung tinggi hak memilih dan dipilih sebagai wujud kedaulatan rakyat.

Alasan MK menghapus presidential threshold

Mahkamah Konstitusi sendiri memiliki beberapa pertimbangan mengapa pada akhirnya menghapus presidential threshold. Padahal, selama sedekade terakhir, kebijakan tersebut sudah 36 kali diuji materikan ke MK dan selalu mentok.

MK sendiri menyebut, presidential threshold dihapus karena bertentangan dengan hak politik dan kedaulatan rakyat. Hakim MK Saldi Isra, yang membacakan pertimbangan, mengatakan pasal 222 Undang-Undang nomor 7 tahun 2017 telah melanggar moralitas, rasionalitas, dan ketidakadilan intolerable secara nyata bertentangan dengan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia tahun 1945.

“Sehingga terdapat alasan yang kuat dan mendasar bagi Mahkamah untuk bergeser dari pendirian dalam putusan-putusan sebelumnya,” ucap Saldi Isra.

Dalam hal ini, menurut Saldi Isra, dalil para pemohon terkait threshold pengusulan calon presiden dan wakil presiden, pada pasal 222 UU nomor 7 tahun 2017 juga tidak memiliki kekuatan hukum secara mengikat.

Selain itu, MK juga beralasan presidential threshold dihapus karena Indonesia merupakan negara yang menganut sistem presidensiil dalam bentuk multipartai. Baginya, berapapun besar angka persentase threshold, bertentangan dengan pasal 6A ayat 2 UUD NRI tahun 1945.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Keluarga Berkuasa: Betapa Ngerinya Warisan Dinasti Politik Jokowi di Tingkat Daerah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Januari 2025 oleh

Tags: Mahkamah Konstitusimkpemiluperludempresidential thresholdpresidential threshold 20 persen
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

putusan MK Pilkada.MOJOK.CO
Aktual

Kawal Putusan MK, Satu-satunya Cara Hindari Mulusnya Jalan Calon-calon Boneka di Pilkada 2024

22 Agustus 2024
Ringkasan PERINGATAN DARURAT Putusan MK terkait Pilkada 2024 yang Diabaikan DPR MOJOK.CO
Aktual

Runtutan di Balik Trendingnya “PERINGATAN DARURAT”: DPR Tolak Putusan MK, Upaya Muluskan Kaesang untuk “Berkuasa”?

21 Agustus 2024
Pemilu 2024 Selesai, Petugas KPPS Balik Setelan Pabrik: Jelas Mancing, Mabar, Slot! MOJOK.CO
Ragam

Pemilu 2024 Selesai, Petugas KPPS Balik Jadi Kaum Korea: Jelas Mancing, Mabar, Slot!

15 Februari 2024
Cerita Ibu Rumah Tangga di Semarang Dapat Serangan Fajar 4 Parpol, tapi Tetap Golput karena Bukan DPT.mojok.co
Ragam

Cerita Ibu Rumah Tangga di Semarang Dapat Serangan Fajar 4 Parpol, tapi Tetap Golput karena Bukan DPT

15 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi MOJOK.CO

Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi

26 Februari 2026
Pekerja gila Surabaya yang melamun di Danau UNESA. MOJOK.CO

Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

24 Februari 2026
Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.