Tak hanya di Papua dan Maluku, mop sebenarnya juga bertebaran di Sulawesi Utara, terutama di kalangan Suku Minahasa, Sanger, dan Mongondow. Cerita-cerita lucu itu rata-rata mirip satu sama lain, bahkan ada yang mirip betul dengan mop Papua, dengan nama yang berbeda saja. Mop orang Minahasa misalnya, akan menggunakan nama-nama tokoh seperti Tole, Waseng, Mince, Nyong, atau Noni. Sementara di Sanger, ada nama-nama Ungke, Utu, Wawu, dan Alo’. Sedangkan Uyo’, Anu’, dan Lengkebong beredar dalam cerita-cerita Mongondow.

Saya berasal dari Mongondow, dan berikut kisah-kisah lucu daerah saya tersebut.

Lagu Garuda Pancasila

Lengkebong duduk di bangku SD kelas 4. Usianya baru 10 tahun. Pada suatu Jumat, Ibu Titing si wali kelas mengumpulkan semua siswa, termasuk Lengkebong.

“Sebelum torang libur, Ibu mau kasi tau. Senin nanti, torang pe kelas dapa pilih jadi kelompok penyanyi pas upacara,” kata Wali Kelas.

“Horeeeeee!” anak-anak berteriak girang, sementara Lengkebong hanya menguap.

“Jadi, hari ini, sebelum pulang, torang latihan manyanyi dulu,” ajak Wali Kelas.

Setelah beberapa kali latihan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, tiba saatnya untuk lagu bebas.

“Ngoni samua hapal lagu ‘Garuda Pancasila’?” tanya Wali Kelas.

Anak-anak kompak menjawab, “Iyooo!”

Lengkebong kembali menguap.

Ibu Titing kemudian menyuruh anak-anak bernyanyi, tentu saja dengan aba-aba kedua tangannya.

“Garuda Pancasilaaa … silaaa ….”

Ibu Titing mengernyitkan dahi. Ia seperti mendengar ada suara yang serupa gema. Ia kembali memberi isyarat dengan tangan.

“Garuda Pancasilaaa … silaaa ….”

Hal serupa kembali terjadi, Ibu Titing makin heran.

“Kenapa ada suara macam gema bagitu e?”

Anak-anak hanya bertukar pandang. Sekali lagi, Ibu Titing menyuruh anak-anak bernyanyi, dan gema itu terdengar lagi. Bagian sila itu selalu telat.

Penasaran, Ibu Titing kemudian menyuruh satu per satu anak menyanyi di depan kelas. Ia bermaksud menyeleksi.

“Coba ngana, Anu’,” katanya kepada seorang anak perempuan.

Anu’ kemudian maju ke depan kelas dan bernyanyi.

“Garuda Pancasilaaa. Akulah pendukungmuuu ….”

Anu’ berhenti setelah diberi aba-aba oleh Ibu Titing.

“So bole. Coba ngana, Uyo’.”

Kali ini seorang bocah laki-laki maju. Dan seperti Anu’, Uyo’ lancar-lancar saja. Demikian pula anak-anak lainnya. Hingga tiba giliran Lengkebong.

“Sekarang ngana, Lengkebong.”

Gontai Lengkebong maju ke depan kelas. Setelah mendapat aba-aba dari Ibu Titing, Lengkebong mulai menyanyi.

BACA JUGA:  Cinta Halmahera—Jawa Bonus Babi

“Burung Garuda Pancasilaaa ….”

Sontak saja tawa menebal di ruang kelas.

Anak TK

Anu’ girang karena ia mulai masuk TK. Selama sepekan, ibunya kerap mengantar Anu’ ke TK Siti Masita yang hanya berjarak sepelempar bola kasti. Selain diberi bekal makanan dan kue, Anu’ juga sering diberi jajan seribu rupiah. Uang itu bisa dipakai Anu’ untuk membeli makanan ringan yang ia suka.

Setelah yakin Anu’ bisa pergi sekolah sendiri, ibunya dengan lembut bertanya, “Anu’ so bole pigi sekola sandiri?”

Anu’ yang mungil dan berlesung pipit itu tersenyum sembari mengangguk.

“Betul, so brani?” Ibunya mengulang kembali pertanyaan. Sebenarnya ibunya tidak khawatir jika Anu’ berangkat ke TK sendirian. Sebab dari rumah menuju TK, Anu’ hanya menyeberangi tanah lapang, bukan jalan raya.

“Iyo, co boye (so bole),” jawab Anu’.

Mendengar jawaban Anu’, ibunya kemudian hanya mengantar putrinya itu sampai di beranda. Anu’ diberi jajan seribu rupiah, yang dimasukkan ibunya ke saku seragam. Pandangan ibunya terus membuntuti Anu’, sampai anak itu selamat mencapai gerbang TK.

Hari berikutnya, seperti biasa ibunya memberi jajan kepada Anu’. Masih dengan jumlah yang sama: seribu rupiah. Kali ini ibunya tidak lagi mengekori langkah Anu’.

Di tengah perjalanan, tanpa disadari Anu’, uang jajannya terjatuh. Sesampainya di TK, ia segera masuk ke kelas. Pelajaran menghitung dimulai.

“Anak-anak, kalu tiga ditambah tiga, berapa?”

“Enaaammm!” kompak anak-anak menjawab termasuk Anu’.

Setelah puas dengan berhitung, Ibu Guru itu coba menaikkan level ke perhitungan uang. Ia mengambil beberapa koin dan uang kertas seribuan.

Anak-anak cepat tanggap dengan maksudnya. Hampir semua pertanyaan sederhana terjawab, seputar penambahan koin ratusan dan uang kertas seribuan. Ibu guru sengaja memakai alat peraga koin dan seribuan, sesuai kemampuan berhitung anak-anak.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan. Dan anak yang menangis itu … Anu’.

“Kiapa sayang?” Ibu Guru mendekat lalu mengelus-elus rambut Anu’.

“Anu’ pe jajan calibu (seribu) ilang.”

Ibu guru kemudian mengambil selembar uang seribu yang dijadikannya alat peraga barusan.

“Napa, ibu tukar jo?” tawar Ibu Guru kepada Anu’.

Anu’ dengan malu-malu, mengambil uang pemberian ibu guru. Tapi … Anu’ masih menangis.

Ibu Guru tampak heran. “Kiapa manangis ulang, Anu’ sayang?” Tapi Anu’ terus menangis.

BACA JUGA:  Hormati yang Tidak Puasa, Hormati yang Merokok

“Anu’ sayang, kan ibu guru so tukar tu doi yang ilang? Kiapa masih manangis, sayang?”

Sesenggukan Anu’ menjawab.

“Bagini … co dua libu (so dua ribu).”

Ramadan dan Durian

Di kampung saya, Desa Passi di Kabupaten Bolaang Mongondow yang masih bermimpi talak tiga dari Sulawesi Utara itu, musim durian selalu datang bersamaan dengan Ramadan. Tapi itu dulu, ketika saya masih dikejar Ibu dengan lelehan bubur pisang. Ketika musim durian sudah tak tentu seperti sekarang, masih terkenang sejumlah cerita lucu tentang Ramadan dan musim durian. Cerita berikut setiap tahun menjadi bahan bualan kami ketika nongkrong di posko Ramadan desa.

Alkisah, ada pohon durian yang menjulang tinggi dan berdampingan dengan masjid desa. Pohon itu berbuah lebat dan matang tepat di pertengahan bulan puasa.

Ada seorang bapak yang dipercayakan menjadi imam masjid kala itu. Ia sering dipanggil Papa Midi.

Pada suatu subuh, setelah bersantap sahur, Papa Midi segera menuju masjid. Sang imam ini sama halnya dengan penduduk lainnya, doyan makan durian.

Sesampainya di masjid, yang selalu sepi di pertengahan Ramadan, sang imam memilih menghabiskan selinting rokok kreteknya dulu sebelum masuk ke masjid. Menurut cerita, peristiwa ini terjadi medio ’70-an, dan satu-satunya penerangan berasal dari lampu minyak.

Saat asyik merokok, Papa Midi tergoda menuju pohon durian di samping masjid. Setiap siang, ia memang suka mengecek kalau ada buah jatuh. Subuh itu, berbekal cahaya korek api, ia tidak menemukan apa-apa.

Setelah dongkol dan rokok di jepitan jemari pupus, Papa Midi melangkah masuk ke masjid. Ia merapat ke jam tua seukuran piring yang menempel di dinding papan. Masjid kala itu masih dibangun dari papan. Bahkan jendela lebarnya tanpa daun jendela. Hanya sekali lompat, seketika posisi kita sudah berada di luar masjid.

Sudah waktu untuk mengumandangkan azan, gumamnya setelah melirik jam. Papa Midi kemudian berteriak mengumandangkan azan, sebab masjid kala itu belum difasilitasi pengeras suara.

“Allaaahu akbar allaaaaaahu akbar!” Baru saja ia memulai azan ketika … kraaaak! Terdengar bunyi durian jatuh.

Sang muazin kaget. Tak ingin ada yang mendahuluinya, ia segera mengakhiri azan, “Laa ilaaha illallaah!”

Setelah itu, sang muazin melompati jendela.

No more articles