Mudik Lebaran Demi Gaya-gayaan yang Bikin Nelangsa

mudik-lebaran-celengan-mojok

MOJOK.COSelama ini prinsip uang boleh habis, dompet dihajar sampe tiris, asal bisa gaya-gayaan saat mudik lebaran sudah jadi kebiasaan. Hadeeh padahal kan itu tuh tuman! Daripada kerepotan bayar utang setelahnya, kita harusnya mulai mikirin mending nggak usah mudik aja sekalian, mylov~

Sahabat Celenger yang lebih merindukan THR daripada ucapan I Luv You,  

Hajat besar politik bangsa sudah dapat dikatakan usai. Letupan-letupan kecil yang muncul sesudahnya, anggaplah seperti mercon bulan Ramadan yang memang harus ada. Bisa dianggap gangguan, tetapi bisa juga dimaknai sebagai tradisi yang bikin kangen kalau tidak ada lagi. Tidak perlu terlalu dirisaukan.  Siapa pun calon presiden yang kalian dukung kemarin, tidak kemudian membuat lebaran esok otomatis mendatangkan surplus secara finansial bagi kita.

Lebarannya sih peristiwa budaya biasa. Tetapi ada hajatan yang menyertainya dan skalanya jauh lebih besar dari pesta demokrasi 5 tahunan yang begitu-begitu saja: MUDIK LEBARAN. Ada pergerakan luar biasa besar dari kota-kota besar, Jakarta utamanya, menuju ke kampung halamannya, menyebar ke seluruh Indonesia. Ritual tahunan yang identik dengan kemacetan, melibatkan jumlah manusia yang besar, serta jumlah rupiah yang melimpah.

Khusus untuk Jakarta, satu kali dalam satu tahun, setidaknya selama satu minggu selama lebaran, kota ini akan menjadi tempat yang sangat nyaman dan manusiawi. Hilang semua hiruk pikuk yang menderanya hampir satu tahun penuh. Jalan-jalan protokol yang di kesehariannya tampak sempit lagi padat, ternyata setelah kita amati sangatlah lebar. Ibaratnya, kalau kita menyebrangnya saat Subuh, kita akan sampai di ujung menjelang Maghrib. Saking lebarnya.

Begitu sampai di tempat tujuan, khususnya orang Jakarta, tidak sekadar piawai dalam menciptakan kemacetan. Lalu lalang mereka tidak sekadar mengepulkan debu jalanan tetapi juga menunjukkan betapa borosnya mereka mereka dalam menggerakkan ekonomi daerah; membelanjakan uang di tempat kuliner, wisata, dan belanja. Kalau penampakannya mengesankan nggaya, sejatinya hanya bentuk percaya diri yang tumpah ruah. Seperti magnet yang menempelkan potret keberhasilan.

Padahal sangat mungkin mereka harus utang kepada majikannya dengan janji bulan depan tidak gajian, utang melalui fintech, harus menganggarkan secara khusus untuk menyewa kendaraan, dan bilamana perlu berani menggunakan sepeda motor demi ongkos yang lebih murah. Tidak ada pemudik yang ingin dianggap gagal di perantauan oleh sahabat masa kecilnya, oleh kerabatnya, dan tentu saja oleh orang tuanya.

Banyak dari mereka yang di kesehariannya tinggal mengontrak rumah petak di gang-gang sempit di ibu kota, merayap tanpa lelah sepanjang hari di padat dan panasnya jalanan dengan hanya mengandalkan liatnya mereka dalam berusaha, ada yang punya mobil walau tidak kuat membuat garasi, dan ada pula yang kerap telat membayar cicilan motor.  Mudik lebaran seperti menjadi puncak perjalanan spiritualitas mereka. Uang boleh habis, dompet dihajar sampe tiris, tetapi membuahkan sesuatu yang manis saat turut berjibaku dalam segala perilaku tidak ekonomis.

Lebaran juga menjadi saat kritis bagi hubungan suami istri. Itu masa dimana skill berkomunikasi dan kemampuan bernegosiasi sangat dipertaruhkan. Ya mudik identik dengan keinginan untuk kembali ke kampung halaman, kembali ke tempat masa kecilnya. Mudah kalau pasangan yang tinggal sekota, ataupun hanya berbeda kabupaten seperti pasangan seleb facebook, Iqbal Selalu di Bantul dan Nurul Asli Kotagede.

Bayangkan kalau beda kabupatennya terpisah lautan, Bantul dan Belu di Nusa Tenggara Timur? Niscaya tiap tahun selalu diisi dengan keributan kecil: bergilir atau suami yang harus selalu dimenangkan. Hahaha, itu ya semua dalil agama hingga ekonomi bisa dibincangkan tak berkesudahan. Tidak jarang pihak laki-laki yang bertekuk lutut.

“Tahun ini giliran ke Bantul,  Ma. Pleaase, Aku kangen makan sate Sortalok bareng rombongan teman saat masih jadi seniman kethoprak dulu.”

“Halah… cuma sate Sortalok. Itu bisa dipaketin, Pa. Ga urgent banget loh itu. Papa di Belu sudah tua, Pa. Tega memupus kangen opa dengan cucunya? Yakin tega, Pa? Nangis nih mama…”

Dalil ekonomi juga tidak bisa diabaikan. Jika Ramadan merupakan bulan pengeluaran tanpa ampun, maka Lebaran merupakan kelanjutannya. Bulan pengeluaran habis-habisan. Untuk para ASN dan pegawai swasta yang dalam beberapa saat lagi mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) secara transparan, sistematis dan masal, tentu tidak jadi masalah. Bahkan untuk ASN, mereka akan dihadang sesuatu yang sangat menggembirakan. Gaji ke 13! Horeeee.

Gosah ngiri ya, cukuplah membayangkan betapa nikmatnya THR dan gaji ke 13 untuk membeli beragam keperluan selama sisa bulan Ramadan. Mau mudik pake jalur udara tinggal klik, klik dan klik. Tiket yang mahal tetap bisa kebeli. Nah bagaimana untuk kalian yang baru saja menjadi pegawai atau tengah merintis menjadi seorang wirausahawan, sementara isi rekening kalau ditarik lagi hanya mampu mengeluarkan kata maaf?

Itu jelas masa-masa yang sulit. Belum kalau disergap pertanyaan, “tahun ini kalo nggak keliru hampir 30 tahun kan ya? Kapan nikah?” Jenis pertanyaan dari kerabat atau teman yang tidak sopan, tidak pantas, tapi sudah terlanjur membudaya. Masih tetap harus mudik?

Pada dasarnya mudik lebaran merupakan peristiwa budaya yang menuntut kesiapan kombinasi fisik, mental, dan finansial. Lebaran memang musim segala sesuatu menjadi lebih mahal karena adanya tarikan permintaan, inflasi. Maka kemampuan finansial haruslah prima. Bagi para debutan yang rasanya belum lama mendapatkan angpao, sudah saatnya menyiapkan angpao untuk sepupu atau keponakan. Begitulah normalnya sebuah roda kehidupan, pernah menerima harus siap dengan konsekuensi untuk memberi.

Tidak ada yang salah kalau kalian menunda kepulangan sementara. Terpenting menyampaikan ke Ibu, “Bu, mohon maaf saya telat pulang.  Semoga Tuhan memampukan ananda bisa pulang bulan depan. Mohon maaf, semoga Ibu berkenan.” Tentu hal tersebut akan membuat suara kita tersedat dan tercekat. Jelas akan menjadi peristiwa yang menyedihkan, apa lagi membayangkan Ibu-ibu lain tengah dikunjungi anak cucunya.

Tetapi tetap ingat, tampil mampu dan tidak merepotkan di depan orang tua, kerabat, dan kolega jelas memiliki keutamaan lebih, mylov~

Exit mobile version