Asal-Usul Kata Bule Konon Dimulai dari Bule Itu Sendiri

ilustrasi Orang Indonesia Emang Overproud dan Norak. Mbok Diterima Aja mojok.co

ilustrasi Orang Indonesia Emang Overproud dan Norak. Mbok Diterima Aja mojok.co

MOJOK.CO Tercatat, asal-usul kata bule ini dipopulerkan oleh seorang bule asli di Indonesia pada tahun 1960 dan bermakna ‘kekurangan pigmen’.

Seorang kawan dari Swiss—namanya William—pernah bercerita pada saya betapa ia merasa sedikit terganggu saat berjalan-jalan di Jogja untuk liburan musim panasnya. Hampir setiap 3 meter, ia akan disapa seseorang yang lain—kadang bergerombol—lalu diajak berfoto. “Padahal saya bukan aktor Hollywood, kau tahu,” katanya.

Saya berkata padanya, menjadi bule di Indonesia ibarat nasi goreng pakai telur ceplok dua biji—spesial. Sering dianggap ganteng/cantik dan eksklusif karena berasal dari luar negeri, bule menjadi sasaran yang tepat untuk sekadar bicara basa-basi dalam bahasa Inggris atau sekalian diajak berfoto. Malah, guru-guru bahasa Inggris terkadang membawa murid-muridnya ke tempat wisata untuk menyapa para bule. memberinya beberapa pertanyaan, dan—tentu saja—foto bersama!

“What is it again?” tanya William. Saya mengulang lagi, “Bule. You’re a bule for us.”

Dalam KBBI, kita sudah bisa menemukan kata bule tertulis jelas di sana. Setidaknya ada tiga definisi yang muncul, yaitu:

1. bulai

2. orang (binatang dan sebagainya) berkulit putih

3. orang kulit putih (terutama orang Eropa dan Amerika), orang Barat

Ya, Pemirsa sekalian, kata bule merupakan ragam cakapan dari kata lain yang sesungguhnya juga ada di KBBI: bulai. Tercatat, asal-usul kata bule ini sendiri merujuk pada keadaan kekurangan pigmen, mengakibatkan seseorang ‘berwarna’ putih pada seluruh tubuh dan rambutnya.

Bukan cuma anak-anak SD dan SMP yang sedang field trip di Candi Prambanan dan Malioboro, istilah bule memang telah menyebar luas di kalangan kita (hah, kita???). Malah, Januari 2017 lalu, Presiden Jokowi menyebutkan kata bule dalam forum resmi dalam pernyataannya yang menimbulkan pro dan kontra: “Saya bahkan ingin ada tiga atau empat bule profesional yang memimpin perusahaan BUMN agar orang-orang kita belajar serta termotivasi dan berkompetisi.”

Sebenarnya, meski terkesan akrab dan ringan, penggunaan kata bule tidaklah seenteng itu. Dikutip dari BBC Indonesia, sebagian orang justru merasa panggilan ini sedikit menghina, persis sebagaimana kata whitey di Amerika Serikat, gwai loh di Hong Kong, ang mo di Singapura, mat salleh di Malaysia, hingga farang di Thailand. Beberapa bule bahkan merasa bahwa istilah bule ini sendiri sedikit rasis dan patut untuk ditolak.

Nah pertanyaannya, kenapa bule di Indonesia bisa sampai disebut bule?

Orang asing di Indonesia datang sejak zaman dulu kala—sejak kita bahkan belum muncul dalam bentuk zigot. Penjajahan di Indonesia pun dilakukan warga negara asing, memunculkan istilah-istilah tersendiri dalam penyebutannya oleh warga pribumi, yang kemudian menjadi sejarah asal-usul kata bule.

Sebelum kata bule populer, kata yang umum dipakai, khususnya bagi pendahulu kita di Jawa, adalah kumpeni atau kompeni serta londo. Apa artinya?

Kumpeni atau kompeni adalah bentuk sederhana dari compagnie—kata dalam bahasa Belanda yang menjadi kata akhir dalam nama VOC (Vereeinigde Oost-Indische Compagnie). Kata londo juga dipakai untuk merujuk pada orang-orang Belanda, diucapkan dengan lafal Jawa dan hingga kini masih digunakan sebagian orang.

Lantas, bagaimana asal-usul kata bule selanjutnya? Apakah ia ijik-ijik muncul begitu saja setelah orang-orang kita (hah, kita???) bertemu dengan londo-londo penjajah itu???

Sebagai bangsa yang dijajah, rakyat Indonesia ternyata punya sapaan atau sebutan tersendiri bagi orang kulit putih, yaitu Tuan (dalam bahasa Inggris berarti Mister). Seorang peneliti Indonesia, Benedict Anderson, rupanya merasa sebutan ini terlalu kolonial dan tidak mengenakkan. Untuk itulah, Anderson langsung berupaya mengganti istilah Tuan dengan sesuatu yang terkesan lebih cair dan akrab.

Memasuki tahun 1960-an, Anderson mengklaim dirinya memopulerkan kata bulai di Indonesia, atau disebut dengan bule. Asal-usul kata bule, bagi Anderson, adalah dimulai dari dirinya sendiri yang mengajak orang-orang Indonesia di sekitarnya untuk menyebut dirinya (dan orang-orang berkulit putih lainnya) sebagai bule. Ternyata, istilah ini disukai dan kepopulerannya terus bertambah, hingga masuk ke surat kabar, majalah, atau mendominasi dalam bahasa percakapan Indonesia.

Namun begitu, kepercayaan diri Anderson justru diragukan beberapa sejarawan. Sebagian di antara mereka tidak menyetuju klaim si bule karena istilah bule itu sendiri telah dipakai sejak satu dekade sebelum hari di  mana Anderson menyebarkannya ke kawan-kawan terdekatnya. Meski begitu, mereka tidak menampik kemungkinan Anderson-lah yang berjasa memopulerkan istilah itu untuk digunakan sebagaimana mestinya.

Penting untuk digarisbawahi, baik Anderson, sejarawan, maupun KBBI—ketiganya sama-sama menjelaskan bahwa bule adalah istilah yang merujuk pada kaum pendatang berkulit putih. Sejak asal-usul kata bule dimulai, sapaan ini memang digunakan pada mereka yang juga berhidung mancung dan berbadan tinggi, alias turis kaukasian dari Eropa.

Namun kini, seiring berjalannya waktu dan update aplikasi Instagram yang tanpa henti, sapaan bule tidak lagi se-eksklusif itu. Nyatanya, sering kali kita menyebut turis-turis asing lainnya dengan sebutan bule Afrika, bule Korea, dan lain sebagainya. Lucu? Tunggu dulu—William juga punya cerita lucu.

Usai berkisah padanya soal asal-usul kata bule, saya balik bertanya: apa sebutan bagi pendatang seperti kami di Swiss?

William memutar matanya dan sedikit berpikir. Ia tertawa sebentar dan berkata, “I’m not sure, but some of us call you guys Chinese.”

Ya,Teman-teman, mentang-mentang kita dari Asia, kita dianggap Chinese. Apakah ini artinya sudah tiba waktunya bagi kita untuk memopulerkan istilah semacam bule Indonesia di Swiss—seperti apa yang Anderson lakukan pada kita di tahun 1960??? Hmm???

Exit mobile version