Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Tugu Pensil Kulon Progo dan Kisah Panjang Pemberantasan Buta Huruf di Baliknya

Kenia Intan oleh Kenia Intan
19 September 2023
A A
Tugu Pensil dan Kisah Pemberantasan Buta Huruf di Kulon Progo MOJOK

Tugu Pensil dan Kisah Pemberantasan Buta Huruf di Kulon Progo (wikipedia, visitkulonprogo)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tugu Pensil di Kulon Progo bukan sembarang monumen. Tugu ikonik yang diperkirakan berdiri sejak 1962 itu menjadi penanda perjuangan Kulon Progo memberantas buta huruf. 

Kalian yang kerap melintasi Jalan Sentolo-Brosot, pasti sudah tidak asing dengan Tugu Pensil. Tugu berbentuk pensil setinggi  4 meter itu cukup mencolok dengan warna merah hati. Apalagi lokasinya tepat berada di pertigaan yang mempertemukan jalan provinsi. Pertigaan itu menghubungan akses Kulon Progo dengan Purworejo (arah barat), Kulon Progo dengan Bantul (arah selatan), Kulon Progo dengan Yogyakarta (arah utara). 

Bukan sembarang monumen, Tugu pensil ternyata menyimpan kisah yang panjang. Tugu itu sebagai pengingat kisah panjang Kulon Progo terlepas dari buta aksara dasar, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar. Itu mengapa tugu ini juga terkenal dengan nama Tugu Bebas 3 Buta (B3B) Kulon Progo. 

Upaya mengentaskan B3B di Kulon Progo memang layak menjadi monumen. Setelah Indonesia merdeka, sebagian besar masyarakat Kulon Progo masih buta huruf. Melansir salah satu penelitian berjudul “Upaya Pemberantasan Buta Huruf di Kabupaten Kulon Progo tahun 1942-1962“, pendidikan di Kulon Progo sangat tertinggal selama masa penjajahan. Mayoritas warga Kulon Progo hanya mengenyam pendidikan tradisional keagamaan yang berlangsung di masjid atau surau. 

Kondisi tidak lebih baik saat penjajahan Jepang. Pemerintah Jepang menutup banyak sekolah sebagai bentuk anti Belanda. Jumlah guru dan murid otomatis menurun drastis. Kemunduran di bidang pendidikan ini mengakibatkan bertambahnya orang buta huruf. Penyelenggara pendidikan pada waktu itu memang kurang teratur karena pemerintah Jepang fokus memperkuat militer.

Jalan panjang memberantas buta huruf di Kulon Progo

Sebenarnya, upaya pemberantasan buta huruf di Kulon Progo dimulai sejak Indonesia lepas dari Belanda. Saat itu ada program kursus membaca dan menulis untuk masyarakat. Namun, program itu berjalan lambat karena masyarakat harus mengantongi izin pemerintah Jepang terlebih dahulu kalau ingin melaksanakan suatu kegiatan. 

Kemudian, pada 1944, Kasultanan Yogyakarta membentuk struktur panitia untuk mengentaskan buta huruf di Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Adikarta. Panitia ini kemudian dikenal sebagai Pambrasta Woeta Sastra (PWS). PWS menggelar kursus pemberantasan buta huruf secara gratis, tapi orang-orang tidak tertarik mengikutinya. Akibatnya, jumlah buta huruf masih saja tinggi. Pada September 1944 tercatat ada 33.269 orang buta huruf dan tingkat kehadiran murid ke kelas jauh lebih rendah dari itu. 

Setelah Indonesia merdeka, pemberantasan buta huruf menjadi lebih giat. Kursus buta huruf berubah nama menjadi kursus ABC (Analfabetisme Bestrijdings Comite) di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Ketika itu, pemerintah melibatkan berbagai pihak. Dampaknya, jumlah penduduk buta huruf di berbagai daerah, termasuk Kulon Progo, mampu ditekan.

Pada 1962 setidaknya ada 14.754 penduduk buta huruf di Kulon Progo. Jumlah itu memang masih banyak, tapi setidaknya jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya yang mencapai puluhan ribu orang. Penurunan ini kemudian terasa pada perbaikan hidup masyarakat. Dengan melek huruf, perekonomian masyarakat meningkat. Di sisi lain, tingkat pengangguran di Kulon Progo menurun pada saat itu. 

Penulis: Kenia Intan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Tugu Gamping, Kembaran Tugu Jogja yang Bernasib Sial
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 19 September 2023 oleh

Tags: buta hurufKulon ProgoTugu Pensil
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Slow Living Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong (Unsplash)
Pojokan

Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan

4 Januari 2026
Qonitah Ikhtiar Syakuroh, atlet para badminton (bulu tangkis difabel) asal Kulon Progo Jogja sang penderes medali emas MOJOK.CO
Sosok

Ketangguhan dalam Nama “Qonitah Ikhtiar Syakuroh”, Dari Raket Rp40 Ribuan dan Ejekan Cara Berjalan Jadi Penderes Emas

2 November 2025
Biennale Jogja 2025: Membuka Keterasingan Padukuhan Boro yang Diapit Jalan Daendels dan JJLS MOJOK.Co
Seni

Biennale Jogja 2025: Membuka Keterasingan Padukuhan Boro yang Diapit Jalan Daendels dan JJLS

24 September 2025
200 Tahun Perang Jawa- yang Tersisa dari Perang Besar MOJOK.CO
Esai

200 Tahun Perang Jawa: Menyusuri yang Tersisa di Selarong, Bagelen, dan Wates

23 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026
Pakai hp android Samsung S26 terintimidasi user iPhone. Tapi tak berpaling karena Samsung lebih berguna dari iPhone yang hanya memperdaya pengguna MOJOK.CO

Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.