Menelusuri Pabrik Gula Beran yang Kini Jadi Tempat Cetak KTP Warga Sleman

Pabrik Gula Beran MOJOK.CO

Pabrik Gula Beran (tropenmuseum.nl)

MOJOK.COJogja pernah menjadi “kota yang manis”, istilah lainnya Land of Sugar. Bagaimana tidak, pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda ada banyak pabrik gula di wilayah ini.

Pada masa itu, terdapat total 19 pabrik gula di Jogja; membentang dari Bantul hingga ujung utara wilayah Sleman. Namun, kini praktis tinggal Pabrik Gula (PG) Madukismo di Kasihan, Bantul, yang masih tersisa. Itupun sudah bukan bangunan asli, karena Sri Sultan HB IX telah membangun ulang pabrik pada 1951.

Selain PG Madukismo, 18 suikerfabriek alias pabrik gula lainnya tinggal nama. Ada yang tersisa cerobongnya saja, ada yang bangunannya masih utuh tapi terbengkalai, dan ada juga yang sudah berubah jadi bangunan lain.

Salah satu pabrik gula yang kini sudah beralihfungsi adalah Pabrik Gula Beran di Beran, Kabupaten Sleman. Kini, lokasinya sudah menjadi kompleks perkantoran pemerintah Kabupaten Sleman.

Gedung utamanya pun tak ada lagi karena sudah berubah jadi kantor Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Sleman.

Awal berdirinya Pabrik Gula Beran

Cukup tricky untuk mencari jejak keberadaan Suikerfabriek Beran atau PG Beran. Beberapa arsip pemberitaan Bahasa Belanda yang saya telusuri di laman delpher.nl, kurang bisa menjawab sejak kapan PG Beran ada dan mulai beroperasi.

Namun, jejak kemunculan PG Beran paling awal saya jumpai di kolom iklan surat kabar Batavia Handlesblad edisi 29 Januari 1876. Iklan ini menginformasikan soal pemesanan pembelian saham PG Beran. Jadi, saya memprediksi PG Beran mulai beroperasi pada medio 1870-an.

Prediksi ini tampaknya masuk akal, karena jika kita telusuri periode tersebut memang jadi masa di mana banyak hadir pabrik gula di wilayah vorstenlanden Jogja. Itu mulai dari PG Bantul pada 1861 oleh Wieseman dan Broese van Groesneau (ia juga pendiri PG Beran), kemudian PG Gandanglipuro (1862) oleh Stefanus Barends, serta dua pabrik lain yakni PG Padokan (1864) dan PG Barongan (1867) oleh George Weijnschenk.

Sejak 1930-an produksi gula di Hindia Belanda memang sedang gencar-gencarnya. Dalam kebijakan cultuurstelsel atau tanam paksa, gula menjadi salah satu komoditas ekspor pemerintah kolonial dari 20 persen tanah tiap desa

Alhasil, industri gula pun mencapai 77 persen dari total nilai ekspor, sehingga menempati urutan pertama komoditas unggulan di Hindia Belanda pada 1940-an.

Sementara pembukaan pabrik-pabrik gula di wilayah Jogja, juga imbas dari adanya UU Agraria yang berlaku mulai 1870. Sebab, undang-undang ini memungkinkan perusahaan perkebunan swasta Eropa mendapat izin sewa tanah dalam jangka waktu lama.

Khusus di wilayah vorstenlanden, termasuk Jogja, diberlakukan aturan Dekrit Konversi yang berpihak pada para penyewa lahan Mirip-mirip UU Minerba sekarang, tapi versi perkebunan. Alhasil, aturan ini pun makin menggiurkan bagi para pengusaha untuk membuka parbik di Jogja.

Tumbuh dan layunya pabrik

Di wilayah Jogja, 19 pabrik gula ini saling terkoneksi oleh jalur kereta api. Rel-rel ini memang sengaja dibangun untuk efektivitas distrubusi gula di Jogja.

Dekat PG Beran sendiri, dulunya terdapat Stasiun Beran. Terletak di Tridadi, Sleman, stasiun yang dibangun oleh perusahaan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 1898 ini berfungsi sebagai jalur distribusi gula ke wilayah Magelang. Kini, lokasi Stasiun Beran dialihfungsikan jadi kantor Koramil.

Menurut berbagai catatan, medio 1920-an jadi puncak masa jaya pabrik-parbik gula di Jogja, termasuk PG Beran. Dalam setahun saja, PG Beran tercatat bisa menghasilkan 2.000-3.000 picol gula. Tiap 1 picol gula dihargai 18 gulden.

Sayangnya, bulan madu ini tak bertahan lama. Memasuki 1930-an, dunia dilanda krisis ekonomi alias malaise. Sejumlah pabrik gula di Jogja pun mulai oleng, beberapa malah sudah tutup sejak krisis datang.

Untuk mengatasinya, berdasarkan catatan De Lokomotief, PG Beran melakukan berbagai cara. Termasuk menurunkan produksi dan menggantinya dengan varietas rosella, hingga memangkas upah para pekerjanya.

Namun, cara kedua tersebut akhirnya berdampak buruk. Banyak buruh PG Beran akhirnya berdemo karena jam kerja mereka bertambah tapi gaji berkurang; banyak yang mogok kerja.

Akhirnya, PG Beran benar-benar jatuh. Laporan De Indische Courant edisi 21 Maret 1932 bahkan menyebut bahwa “PG Beran akan mengehentikan penanaman tebu pada 1932 dan berhenti menggiling pada 1933”.

Tahun-tahun berikutnya, PG Beran benar-benar menghentikan operasionalnya. Masuknya Jepang sejak 1942, ditambah strategi “bumi-hangus” yang dipakai pejuang kemerdekaan, bikin bangunan fisik PG Beran seperti ditelan bumi.

Saat mengunjungi lokasi PG Beran, kita tak akan menyaksikan lagi mesin-mesin menggiling tebu. Melainkan, hanya ada mas-mas dan mbak-mbak yang lagi nyetak KTP warga Sleman.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Sejarah Mencatat, Ibu-ibu Arisan Pegang Peran Berkembangnya Masjid Syuhada Kotabaru

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Exit mobile version