Penjelasan Pola Korban KDRT yang Selalu Kembali Pada Pelaku

korban kdrt mojok.co

Ilustrasi korban KDRT. (Mojok.co)

MOJOK.COKasus penyanyi Lesti Kejora yang jadi korban KDRT masih jadi perhatian publik. Belum selesai luapan rasa kesal pada suaminya yang sudah jadi tersangka, kini netizen dibuat geram atas tingkah Lesti yang memilih untuk mencabut laporannya.

Fenomena seperti ini sebetulnya tak hanya datang dari kalangan selebritis. Orang-orang seringkali bertanya, mengapa korban KDRT sulit untuk lepas dari lingkaran setan ini? Mereka cenderung menutupi, bahkan menganggap kekerasan adalah yang lumrah atau ibaratnya sudah terlanjur lantas mau bagaimana lagi?

Padahal kekerasan tidak boleh diwajarkan. Ada beberapa alasan kenapa KDRT bisa terjadi. Salah satunya karena pelaku overprotective dan tidak ingin kehilangan pasangannya. Unsur pertama yang dapat menyebabkan adanya KDRT adalah manipulasi mental.

“Memanipulasi mental itu gampangannya gini, orang itu kadang menjustifikasi tindakannya sehingga pelaku maupun korban merasa itu tindakan yang betul,” ungkap Cornelius Siswa Widyatmoko, M.Psi, Dosen Psikologi Universitas Sanata Dharma, ketika dihubungi Mojok (17/10/2022).

“Lalu akan muncul kekerasan [mental]. Kekerasan mental itu sudah masuk semuanya, entah itu kekerasan fisik, kekerasan seksual, atau mungkin juga ini yang jarang disebutkan yaitu kekerasan finansial,” ungkap Pak Siswo selaku Dosen Psikologi Universitas Sanata Dharma, ketika dihubungi Mojok (17/10).

Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pelaku biasanya ingin menguasai pasangannya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Ini tentu saja akan menimbulkan dampak bagi korban kekerasan. Korban akan merasa tindakan yang dilakukan pasangannya itu benar, dan merasa pasangannya itu patut melakukan hal itu kepadanya.

“Karena merasa itu benar kemudian korban mentalnya down. Merasa bersalah, menyalahkan dirinya sendiri, kok saya begini, kok saya nggak mencintai pasangan saya. [perasaan] Itu bercampur dengan pengalaman kekerasan jadi mix feeling. Jadi, satu sisi dia merasa down, di sisi lain merasa dicintai,” jelas Cornelius Siswa yang kerap dipanggil Pak Siswo.

Trauma yang ditimbulkan korban kekerasan dalam sebuah hubungan, bisa lebih mendalam dan lebih besar dari efek yang ditimbulkan akibat trauma dari suatu bencana, “Trauma bencana, itu gejala alam. Semua orang mungkin mengalami. Tapi, kalau pasangan yang melakukan itu kan berarti gimana ya. Saya mau menyalahkan pasangan saya juga enggak, karena dia mencintai saya. Saya merasa dia betul begitu, tapi disisi lain kok mengalami kekerasan gitu.”

Kekerasan dalam hubungan baik dalam saat pacaran maupun pernikahan punya efek yang sama. Hal ini juga berkaitan dengan seberapa dalam seseorang memiliki keterikatan dalam sebuah hubungan.

“Dalam rumah tangga biasanya relasi yang terjadi tidak hanya masalah emosional, tapi juga ada masalah finansial, masalah hubungan kekerabatan dengan keluarga yang lain, bisa jadi relasi yang seperti itu lebih kompleks.”

Lantas, mengapa korban KDRT justru sulit lepas dari lingkaran setan ini? Hal ini nampaknya dipengaruhi oleh banyak faktor baik internal maupun eksternal. Seperti yang sudah dipaparkan oleh Pak Siswo, faktor internal berkaitan dengan manipulasi mental yang mendera korban KDRT.

Sedangkan faktor internal antara lain, adanya ancaman yang menjadi bagian dari manipulasi mental, masalah ekonomi, adanya tanggung jawab (anak), dan menjaga harkat martabat keluarga. Untuk bisa keluar dari pola ini para korban KDRT harus bisa memutus rantai ‘kelekatan’.

“Masalah kelekatannya harus diputus dulu. Bila korban punya masalah kelekatan finansial, itu yang harus diputus. Sejauh pengamatan saya, pemberian informasi yang bersifat kognitif itu masih kurang efektif karena orang itu tahu bahwa dia sudah harus lepas, tapi tidak bisa lepas,” kata Pak Siswo.

Dengan kata lain, korbam dapat secara aktif melepas dengan menjalani therapy yang berbasis peningkatan kesadaran atau mindfulness. Ketika ada seseorang mengalami KDRT, kita juga bisa memberikan dukungan untuk korban dengan memberikan dukungan mental serta menyarankan untuk pergi mencari pertolongan kepada professional.

Efek yang ditimbulkan akibat KDRT sudah menjadi masalah yang serius, maka dari itu pencegahan perlu dilakukan dengan menerapkan self-awareness atau mindfulness sebagai bentuk pencegahan KDRT.

Selain itu, untuk mencegah KDRT kita perlu memiliki koneksi yang dekat dan sehat dengan siapa saja. Baik orang tua, teman, atau bahkan dengan alam. Pembebasan diri dari kekecewaan relasi yang sudah lalu juga diperlukan untuk mencegah adanya kekerasan. Tak lupa, pelaku KDRT harus mendapatkan tindak pidana secara hukum.

“Dengan menerapkan itu bisa mencegah KDRT, karena mencegah lebih mudah daripada mengobatinya,” pungkas Pak Siswo.

Reporter: Mutiara Tyas Kingkin
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Belajar dari Lesti Kejora, Berikut Cara Lapor Kasus KDRT

Exit mobile version