Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Kembali Bermasalah di Malioboro, Becak Bisa Ditinggalkan Wisatawan

Yvesta Ayu oleh Yvesta Ayu
19 April 2022
A A
becak malioboro

Sejumlah wisatawan menggunakan transportasi becak di kawasan Malioboro, Senin (18/04/2022). (Yvesta Ayu/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Viralnya becak motor di Malioboro yang nuthuk penumpangnya dengan harga tak sesuai kesepakatan menunjukkan masih banyaknya masalah di dunia pariwisata Yogyakarta. Alih-alih jadi pilihan, becak di kawasan wisata di Yogyakarta bisa ditinggalkan wisatawan.

Tukang becak motor yang nuthuk harga kembali mencoreng wajah pariwisata Yogya. Sebelumnya, ada warung makan yang mahal, parkir mahal, dan bakpia yang berjamur menjadi atensi masyarakat di media sosial. Bahkan belum sebulan, tepatnya 21 Maret 2022, juga ada peristiwa yang sama di mana rombongan wisatawan yang hendak pergi ke Malioboro justru diantarkan ke lokasi oleh-oleh dengan harga mahal oleh oknum tukang becak. 

Sementara peristiwa yang terjadi 17 April 2022 berawal ketika seorang warganet di salah satu media sosial (medsos) membagikan cerita temannya yang akan pulang ke penginapan ditawari naik becak motor sebesar Rp20 ribu.

Namun, setelah sampai penginapan, tukang becak tersebut meminta tarif sebesar Rp80 ribu. Dia bahkan mengancam bila tidak mau membayar maka akan dipanggilkan teman-temannya. Kejadian tersebut akhirnya viral di berbagai medsos.

Perlu komitmen tukang becak agar wisata DIY kembali pulih

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Rahardjo mengungkapkan, belajar dari kasus-kasus yang terjadi selama ini, paguyuban tukang becak sebagai bagian dari ekosistem pariwisata DIY seharusnya ikut mendukung pemulihan sektor tersebut di masa pandemi Covid-19. Bukan sebaliknya justru mencoreng nama baik pariwisata DIY dengan tidak memberikan layanan terbaik pada wisatawan.

“Perlu ada komitmen ya karena pariwisata kan sensitif,” tandasnya.

Singgih menambahkan, untuk mengantisipasi kejadian serupa, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta serta kabupaten lain. Apalagi menjelang libur panjang Lebaran, akan semakin banyak pemudik dan wisatawan yang datang ke DIY.

Sarana prasarana serta infrastruktur disiapkan demi menyambut wisatawan. Selain itu kesiapan ekosistem lain yang menunjang pemulihan wisata.

“Kita koordinasi untuk menghindarkan berbagak keluhan seperti becak nuthuk, oleh-oleh basi dan lainnya. Kita minta mitigasinya agar tidak terjadi lagi,” paparnya.

Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY) pun akhirnya memberikan tanggapan terkait kasus ini. Meski pelaku akhirnya diberikan sanksi oleh Pemkot Yogyakarta, kasus tersebut mencoreng nama paguyuban tersebut.

Wisatawan bisa tinggalkan becak

Padahal saat ini ada lebih dari 1.700 tukang becak di DIY, termasuk di kawasan Malioboro. Bila kejadian tersebut terus berulang maka tukang becak akan kehilangan rezekinya karena ditinggalkan wisatawan. Apalagi banyak wisatawan yang saat ini memilih transportasi lain yang tarifnya sudah jelas.

Ketua PBMY, Parmin di Malioboro, Senin (18/04/2022) mengungkapkan, meski bukan merupakan anggotanya, dia tidak habis pikir pelaku bisa nuthuk tarif becak bagi wisatawan Malioboro.

“Padahal dalam berbagai pertemuan bersama, kami terus melakukan sosialisasi agar tukang becak jangan sampai merugikan penumpang,” jelasnya.

Parmin mengakui, tidak adanya standar harga membuat oknum tukang becak bisa seenaknya mematok tarif kepada penumpang. Namun, sebenarnya ada kesepakatan tidak tertulis dari para tukang becak untuk tiap rute destinasi wisata yang didatangi penumpang.

Iklan

Sebut saja rute Malioboro ke Keraton Yogyakarta yang dipatok seharga Rp20 ribu hingga Rp30 ribu. Jika wisatawan ingin ditunggu, cukup membayar dua kali lipat dari kesepakatan awal untuk pulang pergi. Sedangkan rute Malioboro ke pusat oleh-oleh di Patuk pun hanya dipatok Rp10 ribu hingga Rp20 ribu sekali jalan. 

“Semua kan tergantung tawar menawar, tapi ada saja yang kemudian malah nuthuk,” jelasnya.

Parmin menyebutkan, sanksi yang diberikan kepada tukang becak yang nakal sah saja dilakukan. Mereka dilarang mangkal untuk beberapa waktu sebagai bentuk pertanggungjawab.

Namun selain sanksi, Parmin berharap ada penertiban keberadaan tukang becak. Salah satunya dengan kepemilikan Kartu Tanda Anggota (KTA). Dengan penataan tersebut maka tukang becak bisa terpantau aktivitasnya. Termasuk dalam pemberian sanksi bila mereka tidak melanggar aturan yang ditetapkan.

“Dengan KTA kan bisa juga membuat penumpang jadi lebih aman dan nyaman,” ujarnya.

Reporter: Yvesta Ayu

Editor: Agung Purwandono 

BACA JUGA Guru Besar UGM Minta Maaf, Nilai Lebih Sopan dari Unggahan Ade Armando

Terakhir diperbarui pada 20 April 2022 oleh

Tags: becakbecak motorKilasmalioborowisataYogyakarta
Yvesta Ayu

Yvesta Ayu

Jurnalis lepas, tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO
Kilas

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO
Esai

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Kos di Jogja
Catatan

Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari

19 Februari 2026
Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO
Sehari-hari

“Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

17 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perantau Minang di kantin kereta api Indonesia (KAI) dalam perjalanan mudik Lebaran

Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”

13 Maret 2026
Dihina dan dijauhi tongkrongan hanya karena naik motor Honda BeAT. Tidak memenuhi standar sinematik ala Yamaha Aerox, NMax, dan Vario MOJOK.CO

Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik

12 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.