Sebelumnya harus dijelaskan bahwa saya adalah seorang yang sangat amat penakut. Mungkin karena ini, hantu cenderung empati dan simpatik ke saya, lalu jarang menampakkan diri. Seumur hidup, hanya sekali saya dipertontonkan demo penampakan pocong. Dan sekali sudah cukup bagi saya. Kadang, sekali lebih baik daripada berkali-kali. Dan sekali, jauh lebih baik daripada tidak pernah sama sekali.

Saya kelas dua SMA waktu itu, dan baru saja resmi dilantik sebagai anggota Delapan Inti Pramuka di sekolah. Tepat seminggu setelah pelantikan, agenda rutin Pramuka dan sekolah saya adalah mengadakan perkemahan dengan anak-anak kelas satu baru dalam rangka Masa Orientasi Siswa (MOS). Ini agenda rutin untuk setiap anak kelas satu agar mengikuti perkemahan dan tak jarang, pulang-pulang mereka akan menjadi gebetan atau pacar dari sang kakak kelas.

Berangkatlah kami ke Bumi Perkemahan Selondo di Kecamatan Kendal. Tepat di kaki Gunung Lawu, di sebuah daerah perbatasan antara Kota Ngawi dan Magetan. Yang jelas, tempatnya berbentuk tanah lapang luas dengan salah satu pendopo yang besar dan sungai jernih di bagian bawah bukit. Di sekelilingnya, untuk menambah suasana angker, adalah hutan yang walau tak lebat, tapi tampak sangat provokatif dan menyeramkan.

Begitu sampai, si penjaga daerah situ sudah wanti-wanti agar kami tidak melakukan hal yang aneh-aneh disana. Standar baku untuk aturan berkemah di hutan. Dan juga, kami dilarang bermain air di sungai, karena konon, penunggu mata airnya adalah seorang jin yang sangat sensitif dan perasa.

Singkat kata, di malam pertama, sebagai senior, saya diharuskan mendampingi beberapa adik-adik kelas satu untuk penjelajahan malam di hutan. Dari awal saya sudah menolak sebenarnya, karena ya itu tadi, saya ini penakut. Saya ikut Pramuka untuk main ke alam dan berkemah, bukan untuk nonton demit atau pocong. Tapi dasar guru pembimbingnya yang kepalang brengsek, tetaplah saya dan tiga teman sesama senior yang diutus untuk mendampingi penjelajahan malam.

Seingat saya, rombongan kami tidur di sebuah daerah di dalam hutan yang curam dan tidak landai. Di sekelilingnya, banyak pohon pisang. Karena sebagai senior kami dilarang tidur, jadilah kami ngobrol ngalor-ngidul untuk meredakan hawa seram yang menyergap.

Belum sampai obrolan kami selesai, kejadian yang tidak diharapkan akhirnya terjadi. Awalnya adalah seorang kawan bermata sipit mirip Ahok bernama Niko yang kembali dari kencing dan bilang bahwa sepertinya, ia melihat pocong. Karena Niko percaya bahwa vampir Cina lebih menakutkan daripada pocong, ia bercerita dengan nada datar dan tanpa ketakutan berarti. Sedangkan saya dan dua teman lainnya, sudah girap-girap dan ketar-ketir.

Sampai akhirnya, saya menoleh kearah kanan, di antara pohon pisang yang banyak dan menjulang, ada sesosok makhluk dibungkus kain putih (yang herannya, tidak lusuh seperti di film-film) berdiri tegak mematung memandang kami dari jarak hanya sekitar dua ratus meter dari tempat saya berdiri. Ia tinggi, mungkin sekitar dua meter lebih, tinggi yang cukup ideal andai si pocong mau banting setir menjadi pemain basket NBA.

Dengan muka tidak jelas wujudnya namun terlihat rusak dan gosong. Ia hanya diam, tidak bersuara dan tidak bergerak sama sekali. Hanya memandang ke arah kami.

Sepersekian detik kemudian, saya menangis sekuat-kuatnya. Bayangkan, pocong diam saja sudah menakutkan, bagaimana kalau ia kemudian joget sambalado di depan kalian sambil lompat-lompat kegirangan? Sungguh, hantu Indonesia itu lebih menakutkan daripada FPI, bung.

Itu pertama kalinya dan semoga menjadi yang terakhir kalinya saya melihat hantu.

Tapi dasar namanya hidup, kadang tak sesuai dengan keinginan. Pengalaman horor dengan pocong sewaktu SMA itu rupanya bukan yang terakhir kalinya untuk saya. Kelak, saya rupanya dipertemukan kembali dengan pengalaman horor lainnya.

Bermulanya adalah beberapa bulan yang lalu, saat saya menempati indekos baru di daerah Sawojajar, Malang. Ketika melihat rumahnya, tidak ada ketakutan berarti, hanya saja, bibi penjaga indekos waktu itu sempat tanya apakah saya hafal ayat Kursi atau tidak. Jelas saja saya tidak hafal. Lha wong kadang Al Kafirun saja saya sering salah ucap kok waktu shalat. Tapi dalam hati jadi mikir, kok mau masuk kost aja sampai ditanya hafal ayat Kursi, ya?

Kekhawatiran itu sirna sampai beberapa minggu di indekos baru hingga akhirnya, di suatu malam saat sedang menonton Real Madrid melawan AS Roma di Liga Champions, saya mendapat sambutan manis dari mbak penunggu indekos. Awalnya, suaranya hanya seperti suara cicak di dinding, tapi lama-kelamaan, ketika suara televisi dikecilkan, suaranya seperti berbunyi “hehehehe” dengan intonasi datar dan terdengar jelas di telinga. Hanya saja, suaranya terasa dekat tapi sumbernya terasa jauh. Pikir saya, mungkin mbak indekos yang sedang icik-icik itikiwir sama suaminya, karena kost saya memang campur.

Keesokan hari ketika saya konfirmasi ke bibi, eh ternyata barulah semua terbongkar bahwa sosok suara itu adalah kuntilanak yang konon menghuni sebuah ruang jemuran tepat di atas kamar saya. Sialnya, tangga untuk menuju jemuran itu tepat di depan pintu kamar saya. Paduan yang sempurna. Sejak saat itu, kalau tidak diganggu dengan suara ketukan di depan pintu yang kalau dibuka tidak ada orangnya, ya beliau mengganggu dengan suara ketawanya ketika saya sedang asyik menonton bola di televisi.

Dua waktu yang saya ingat, mbak kunti yang hits ini mengganggu tepat saat saya menonton laga Bayern Muenchen melawan Mainz di ajang Bundesliga sekitar pertengahan Maret lalu dan yang terbaru sekali, ketika kemarin malam saya sedang asyik menonton Barcelona melawan Atletico Madrid di ajang Liga Champions.

Mungkin, ini mungkin, mbak kunti adalah seorang Cules, suporter Barcelona. Wajar saja, karena di tim itu, ada sesama makhluk astral bernama Lionel Messi. Wajar kalau ia menyukai Barcelona. Yang menjadi masalah, akhir-akhir ini gangguan itu mulai menyebalkan dan suaranya semakin menyeramkan. Kalau di awal ia hanya berbunyi “hehehehe” kali ini ia bisa bersuara seperti berdehem tapi keras sekali, dan sialnya, saya selalu sendirian menonton bola.

Nanti malam ini, saya bersiap begadang lagi untuk menonton ajang Europa League antara tim antah berantah dari Inggris, Liverpool, melawan tim kuat Jerman, Borussia Dortmund. Saya harap, sebagai suporter Barcelona, kuntilanak penunggu jemuran yang semoga tidak berniat menampakkan diri ke saya ini tidak ikut menonton pertandingan ini.

Nah, Kalau anda ingin mencoba merasakan pengalaman nonton bola dengan sensasi mistik seperti yang saya alami, cobalah sesekali menonton bola sambil menyetel lagi Lingsir Wingi lewat MP3 di gawai masing-masing. Insya Allah, kalau tidak ada aral melintang, akan ada satu atau dua wanita cantik berdaster putih menemani jadwal menonton bola teman-teman sekalian. Masih bagus kalau kakinya menapak lantai, kalau kebetulan ia bisa terbang dan tertawanya menyeramkan, itu adalah jackpot bagi Anda. Selamat mencoba!

Tapi tolong diingat, kalau anda kena jantung atau kolaps, itu di luar tanggung jawab percetakan.

No more articles