fbpx

MOJOK.COBenarkah Tuhan tidak terlibat dalam terciptanya alam semesta seperti pernyataan Stephen Hawking? Kang Hasan membahasnya lebih dalam.

“Tuhan tidak terlibat dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta,” begitulah kesimpulan yang dipromosikan Stephen Hawking dalam bukunya: Grand Design.

Kontan pernyataan Stephen Hawking itu memancing banyak tanggapan.

Sebuah cara promosi yang bagus. Kata teman saya, seorang fisikawan teoretik, kalau mau melariskan buku tentang Tuhan gunakan sains di dalamnya. Sebaliknya, kalau mau menulis buku laris tentang sains, sebutlah Tuhan di dalamnya.

Benarkah Tuhan tidak terlibat dalam terciptanya alam semesta?

Itu bukan pertanyaan sains. Sains tidak membahas Tuhan. Sains membahas hal-hal yang bisa diamati. Tuhan bukan sesuatu yang bisa diamati. Maka Tuhan bukan objek kajian sains.

Artinya, pernyataan bahwa Tuhan tidak terlibat dalam terciptanya alam semesta juga bukan pernyataan sains. Itu pernyataan pribadi Stephen Hawking.

Sains bekerja memotret alam, memotretnya sampai detil. Yang dipotret bukan hanya hal-hal yang tampak secara kasat mata, tapi hingga ke hal-hal yang tak terlihat. Sains menunjukkan bahwa “ada” atau “keberadaan” tidak selalu harus berupa sesuatu yang bersifat materi.

Pemotretan sains juga melampaui zaman. Kita bisa punya potret tentang masa lalu, ratusan juta bahkan milyaran tahun yang lalu, meski kita mustahil kembali ke zaman itu. Kita bisa punya potret Galaksi Bima Sakti meski kita tidak pernah melihatnya dari luar.

Jadi sains tidak selalu bicara soal-soal yang “nyata” dan faktual. Sains juga memakai imajinasi.

Tapi kenapa sains tidak membahas Tuhan?

Ini sebenarnya menarik. Banyak ilmuwan yang merupakan orang-orang yang taat beragama, orang-orang yang percaya Tuhan.

Isaac Newton, misalnya, adalah orang yang taat beragama. Newton bahkan melakukan kajian-kajian untuk mencari pesan-pesan ilmiah yang terkandung dalam Bible. Tapi yang dikenal dunia soal Newton adalah rumusan yang dia buat tentang hukum-hukum gerak, relativitas, dan gravitasi.

Kita tidak mengenal rumusan sains yang melibatkan Tuhan menurut versi Newton. Kenapa?

Stephen Hawking sebenarnya sangat nakal soal Newton. Dalam buku Brief History of Time Hawking menggambarkan kebingungan Newton soal ketiadaan kerangka acuan absolut. Ketiadaan kerangka acuan absolut itu adalah konsekuensi dari rumusan mekanika Newton, yang dia sendiri tidak menyadarinya.

Baca juga:  Kolom: Lubang Hitam yang Bukan Lubang

Dalam gagasan personal yang dianut, Newton menganggap ada kerangka acuan absolut, karena dia percaya pada keabsolutan Tuhan. Tapi tanpa Newton duga, juga tak bisa dia control, ternyata rumusan yang dibuat justru meruntuhkan apa yang selama ini Newton percayai. Dalam buku Grand Design Hawking lagi-lagi mengejek Newton.

Nah, bagian inilah yang penting. Sains itu adalah potret alam semesta. Ilmuwan adalah pemotretnya. Tentu saja seorang pemotret punya selera.

Seorang ilmuwan berniat mengatur hasil potretannya sesuai seleranya. Tapi begitu sebuah potret jadi, potret itu jadi milik orang banyak. Pemotretnya tak lagi bisa memonopoli interpretasi terhadap potret itu sesuai seleranya. Interpretasi menjadi milik semua orang.

Itulah yang terjadi pada Newton tadi. Hukum-hukum fisika yang dirumuskan, yang tadinya disangka akan mengukuhkan kepercayaannya tentang Tuhan, ternyata justru berakibat sebaliknya.

Newton sendiri mungkin masih tetap percaya pada Tuhan. Tapi hukum-hukumnya, yang diterima banyak orang sebagai kebenaran sains, tidak lagi terkait dengan kepercayaannya.

Cerita mirip terjadi pada Albert Einstein, yang semua menolak probabilitas dalam mekanika kuantum, melalui pernyataannya yang terkenal: “Tuhan tidak main dadu.”

Tapi lagi-lagi, sains tidak berkembang sesuai selera Einstein. Mekanika kuantum terus berkembang, dengan memakai prinsip probabilitas tadi. Tapi harus dicatat di sini bahwa kata “Tuhan” yang dipakai Einstein dalam kalimat tadi adalah metafora.

Dengan proses itu, Tuhan “tersingkir” dari pemikiran sains. Para ilmuwan sepertinya sadar bahwa apapun yang dia percayai, pada akhirnya tidak akan berpengaruh pada rumusan sains.

Kalau dia memasukkan faktor kepercayaan itu dalam rumusan, maka rumusan itu tidak akan cocok dengan alam, karena alam tidak bekerja berdasarkan kepercayaan manusia.

Tapi kenapa Stephen Hawking perlu membuat pernyataan kontroversial itu?

Ya, seperti saya tulis tadi, mungkin itu cara dia untuk membuat bukunya laris. Tapi sepertinya ada hal yang lebih fundamental.

Ketika seseorang meluncurkan sebuah kardus melalui selembar papan miring yang menghubungkan truk tempat kardus semula berada, dengan lantai tempat kardus akan diturunkan, di situ bekerja hukum-hukum gerak sesuai rumusan Newton tadi.

Dalam situasi itu orang hanya akan berpikir bahwa yang terjadi di situ adalah proses mengikuti hukum-hukum alam. Orang tidak berpikir soal filsafat, soal bagaimana Tuhan berperan dalam meluncurnya kardus tadi.

Baca juga:  Stephen Hawking, 76 Tahun Menerjemahkan Semesta

Demikian pula dalam berbagai urusan lain.

Ketika orang mencampurkan sejumlah bahan kimia, dalam kondisi termodinamika tertentu, orang juga tidak berpikir bagaimana peran Tuhan dalam memutus ikatan kimia pada molekul-molekul, kemudian menyambungkannya ke atom-atom lain, untuk membuat ikatan baru.

Reaksi kimia dianggap mematuhi hukum alam, seperti kardus meluncur yang mengikuti hukum Newton tadi.

Bagi Stephen Hawking, proses terciptanya alam pun hanyalah sebuah proses yang mengikuti hukum alam. Lebih lanjut lagi, Hawking menganggap hukum alam itu tunggal, yang dia sebut sebagai “Grand Design”, atau “Theory of Everything”.

Hukum yang membuat kardus meluncur tadi adalah hukum yang sama dengan hukum yang membuat reaksi kimia terjadi.

Dalam ilustrasi yang dibuat Hawking, hukum kimia, fisika, biologi, bahkan rumusan-rumusan ilmu sosial, adalah sebuah hukum tunggal. Hukum alam itu, tulis Hawking, mirip dengan selembar peta dunia.

Kitalah yang membuatnya tampak seolah sebagai hukum-hukum yang terpisah. Semua itu tampak terpisah, karena setiap orang di setiap bidang, fokus memandang hukum-hukum yang ia geluti saja. Persis seperti orang yang hanya fokus melihat peta sebuah negara, nyaris tidak peduli pada peta dunia.

Dalam konteks gagasan Hawking, teori big bang yang mengawali proses terciptanya alam semesta, hanyalah sebuah kejadian fisika seperti sebuah kardus meluncur di bidang miring.

Kalau kau tak berpikir tentang peran Tuhan meluncurnya sebuah kardus, kenapa perlu repot berpikir soal peran Tuhan pada big bang?

Hawking ingin menyadarkan orang-orang, bahwa alam bekerja berbasis pada suatu hukum. Ketika orang membayangkan ada sesuatu yang maha kuasa, kata Hawking, yang maha kuasa sekali pun tidak akan bisa mengubah hukum itu.

Sesederhana fakta, bahwa kita tidak akan pernah melihat sebuah kardus meluncur sendiri dari lantai ke atas truk. Itu tidak akan terjadi, tidak mungkin dibuat terjadi, karena itu melanggar hukum alam.

BACA JUGA Stephen Hawking, 76 Tahun Menerjemahkan Semesta atau tulisan Kang Hasanudin Abdurakhman lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles