MOJOK.COGara-gara pandemi, aplikasi streaming video kayak Netflix jadi rajin dipakai. Berikut pengalaman saya memakai 10 aplikasi paling populer di Indonesia itu.

Sewaktu bioskop tutup selama pandemi, saya nggak bisa nonton film di layar lebar. Padahal saya sudah menganggarkan pos pengeluaran per bulan untuk nonton film. Alhasil, bajet hiburan itu dipakai untuk langganan aplikasi streaming video.

Nah, dari sekian banyak aplikasi streaming yang pernah saya pakai untuk nonton, mana yang terbaik? Baik dari segi biaya langganan sampai kelengkapan koleksinya.

Netflix

Aplikasi ini sempat menjadi polemik di Tanah Air. Dari mulai pemblokiran oleh provider BUMN sampai akhirnya dibuka untuk dikenakan PPN. Netflix telah menjadi andalan dengan konten orisinalnya.

Koleksi serial dan filmnya pun terus update, bahkan dijanjikan akan ada rilis film tiap Minggu sepanjang 2021. Bersamaan dengan beberapa konten yang diam-diam menghilang dari katalog karena habis hak siarnya. Seperti film-film Christoper Nolan yang mindblowing.

Dari segi kepopuleran, Netflix lumayan terkenal di kalangan kelas menengah. Dari segi koleksi pun Netflix bisa jadi jawara tanpa tanding. Namun, biaya langganannya paling mahal dibandingkan kompetitornya.

Sudah begitu, dipisahkan ke dalam berbagai macam paket, mewakili kelas sosial. Dari mulai paket ponsel, dasar, standar, sampai premium.

Namun, sistem berlangganan Netflix ternyata gampang sekali untuk diakali. Makanya sampai banyak pengecer akun Netflix murah yang berkeliaran di media sosial. Nah, kalau banyak akal, kita bisa nonton Netflix secara gratis setiap bulannya.

Iflix

Bagi saya, Iflix seperti Netflix versi gratis. Dulu, saya tidak perlu berlangganan VIP untuk nonton serial The Flash yang episodenya lebih lengkap dibandingkan yang di Netflix.

Baca juga:  iPhone 12 Pro Max, Hape Terbaik di Pertengahan 2021, Android Maju Semua Nggak Takut!

Sekarang? Konten Iflix mulai berkurang. Termasuk The Flash yang sudah diboyong ke Netflix. Tapi masih banyak konten yang bisa ditonton secara gratis. Contohnya, serial Thailand Bad Genius. Tak berlebihan jika Iflix punya slogan, “FREE TV, seriously!”

Dan sebagai gantinya, kita harus sabar nonton iklan.

Melihat nama Netflx dan Iflix, bahkan ada juga Genflix, saya sempat berekspektasi bakalan ada aplikasi streaming video dakwah bernama Flix Siauw.

WeTV

Dengan tagline “Nonton hiburan Asia terbaik!”, WeTV sempat menjadi primadona ketika menayangkan episode terbaru Imperfect the Series. Saya pun berlangganan VIP untuk bisa menontonnya di hari pertama penayangan. Soalnya kalau bukan VIP, harus nunggu satu sampai dua Minggu ke depan untuk menontonnya secara gratis. Di Iflix.

Iflix dan WeTV memang punya kesamaan dari segi interface. Beberapa kontennya pun seragam.

Berhubung yang dijual adalah konten Asia, WeTV fokus menyuguhkan drama Korea, Thailand, dan anime. Untuk konten lokal, WeTV ditopang oleh salah satunya serial My Lecturer My Husband. Itu loh yang pakai materi promosi Reza Rahadian dan Prilly nikah ikut-ikutan Dinda Hauw dan Rey Mbayang.

Vidio

Selain menonton Vidio Original seperti serial Serigala Terakhir dan World of Dr. Boyke, kita juga bisa nonton siaran televisi swasta di Vidio. Ini merupakan terobosan untuk pengguna Android TV tidak perlu langganan TV kabel atau pasang antena untuk menjangkau siaran TV.

Kelebihannya, ketika nonton tayangan TV di Vidio, kita harus maraton nonton iklan dua kali. Pertama, iklan dari Vidio dan iklan commersial break yang disuguhkan oleh TV swasta itu sendiri. Namun, iklan organik Vidio bisa dihilangkan dengan berlangganan paket premium sekaligus membuka akses ke konten-konten VIP.

Baca juga:  Lagu ‘Keke Bukan Boneka’ Di-Take Down Youtube Karena Dianggap Melanggar Hak Cipta

Viu

Sewaktu A World of Married Couple viral, Viu menjadi pegangan wajib para penikmat drakor. Saking terkenalnya dengan branding speliasis drakor, saya sampai langganan Viu untuk setahun. Yang harganya hampir sama untuk paket premium Netflix sebulan. Alasan saya langganan adalah ingin menonton Reply 1994 dan Reply 1997, setelah sebelumnya nonton Reply 1988 di Netflix.

Saya pikir drakor yang saya cari itu pasti ada di Viu. Apalagi artikel di website Viu pernah mengulasnya. Namun, ternyata drakor-drakor itu tidak tersedia di Viu. Fiuh! Ternyata Viu tidak drakor-drakor amat.

iQIYI

Justru drakor Reply 1994 dan Reply 1997 tersedia di iQIYI yang punya imej aplikasi streaming anime legal. Sudah begitu, saya bisa menonton drakor tersebut secara gratis. Banyak judul anime lawas seperti Digimon dan yang teranyar seperti Attack on Titan bisa disaksikan secara cuma-cuma di sini. Episode anime di iQIYI juga tayang lebih awal dibandingkan di Netflix.

Konten di iQIYI yang terkunci dan bisa dibuka dengan paket VIP adalah film-film semiporno dari Asia. Menandakan bahwa iQIYI, selain ditujukan untuk anak-anak nonton anime, juga cocok untuk orang dewasa yang punya duit lebih.

Prime Video

Sebagai salah satu orang terkaya di dunia, ternyata Jeff Bezos sang CEO Amazon.com juga ingin memutar uangnya di bisnis hiburan digital. Maka lahirlah anak cabang usaha Amazon, yaitu Prime Video.

Prime menarik perhatian dengan serial orisinalnya yang anti-mainstream. Yaitu The Boys yang bercerita tentang superhero berperangai buruk. The Boys muncul menjadi anomali kebajikan superhero Marvel dan DC.

Setelah season The Boys berakhir, berakhir pula masa langganan saya. Mungkin bakalan berlangganan lagi kalau season terbarunya muncul.

Baca juga:  Komunitas Vegan Tolak Video Mardigu karena Isinya Daging Semua

HBO GO

HBO GO menjadi rumah untuk superhero DC. Sayang, masih banyak film animasi DC di sini yang belum tersedia terjemahan bahasa Indonesianya. HBO GO juga sempat mengalami crash ketika para fanboy DC menyerbu film Zack Synder’s Justice League.

HBO GO seperti rumah yang ingin mengadakan open house, tetapi belum siap menerima banyak tamu. Beberapa suguhannya yang memikat juga nggak bisa dimakan oleh orang Indonesia.

Namun, HBO GO bisa membuat rumah seperti hotel bintang lima yang di tivinya ada channel HBO.

Disney+

Jika HBO GO adalah rumah DC, Disney+ adalah markas besar Marvel Cinematic Universe. Tambahkan waralaba Star Wars dan animasi Disney Pixar. Tak ketinggalan film-film Indonesia terbaru yang tayang setiap hari Jumat (walaupun rerata kualitas film lokalnya masih “horor”). Menjadikan Disney+ Hotstar sebagai ancaman untuk bisnis Netflix.

Paket berlangganan Disney+ pun nggak neko-neko. Tidak ada kelas-kelasnya. Satu paket untuk semua masyarakat. Bahkan isi pulsa saja bisa dapat paket langganan Disney+. Sementara Netflix terasa sangat eksklusif karena harus punya kartu kredit untuk daftar langganannya.

YouTube

Yah, aplikasi nonton streaming video terbaik tetaplah YouTube. Tidak perlu langganan dan hampir ada di hape semua orang. Bisa nonton film pendek seperti Tilik secara gratis. Bisa juga nonton film panjang tapi bajakan.

Kalau nggak kuat nonton film lama-lama tapi pengen tahu ceritanya, banyak channel yang sudi meringkas sinopsisnya dan menceritakan ulang untuk para subscriber tercinta. Mantap kan?

BACA JUGA Tribute untuk Lebah Ganteng: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dalam Bidang Subtitel-subtitelan dan tulisan rubrik KONTER lainnya.