MOJOK.CO – Menurut Ahmad Dhani, lapas merupakan Sekolah Tinggi Ilmu Kesabaran (STIK). Sebab di sana, dirinya diuji kesabarannya. Hm, termasuk kesabaran Baladewa juga, Dhan.

Setelah kena vonis 1 tahun penjara di PN Surabaya, musisi Ahmad Dhani kini dikembalikan ke LP Cipinang Jakarta. Ini artinya Ahmad Dhani kembali ke “kampus” lamanya.

Sebentar, sebentar, kenapa LP Cipinang disebut “kampus”? Halah, ini sekadar istilah yang dipakai Dhani sendiri.

Menurutnya, Lembaga Pemasyarakatan (LP) atau penjara itu tak lebih merupakan Sekolah Tinggi Ilmu Kesabaran (STIK). Sebab di LP para terpidana memang diuji kesabarannya. Bila di LP sering terjadi kerusuhan, berarti para “mahasiswa” IP-nya jelek sekali.

Istilah penjara jadi kampus itu muncul dari surat Ahmad Dhani kepada ibu tercinta, Ny. Joyce Theresia Pamela Kohler, beberapa waktu lalu.

Begini bunyi suratnya:

“Surat untuk mama…  Dari anakmu tercinta —- Ma, penjara bagi mereka yang tidak bersalah…adalah STIK (Sekolah Tinggi Ilmu Kesabaran). Alhamdulillah sekarang aku menjadi orang yang lebih sabar.  Mama jangan sedih Mama jangan menangis, keluar dari penjara laknat ini InsyaAllah aku menjadi orang yang lebih sabar. —– Ahmad Dhani, Medaeng, 13 Frb 2019.

Lapas Medaeng yang terletak di Jl. Letjen Sutoyo Waru Sidoarjo, memang sempat jadi “kampus” lama Ahmad Dhani. Di sinilah dia berharap akan menjadi orang lebih sabar menghadapi segala cobaan Illahi.

Jika Dhani menjadi mahasiwa yang berkelakuan baik, dari masa kuliah 3 semester (1,5 tahun), mungkin nanti tinggal dijalani 2 semester saja dan lulus cumlaude.

Itu semua sekedar kata kiasan. Cara Ahmad Dhani menghibur dan menenangkan ibunda tercinta, Ny. Joyce Theresia Pamela Kohler. Satu-satunyalah orangtua untuk Dhani berkeluh kesah dan bercurhat ria, karena sang ayah, Edy Abdulmanaf, sudah tutup usia tahun 2012 lalu.

Istilah yang dipakai Ahmad Dhani tidak salah-salah amat, tembok penjara memang menjadi ajang menguji orang melatih kesabaran. Meskipun, kalau bisa ditawar tak usahlah menguji kesabaran dari balik jeruji besi. Sebab ujian kesabaran di sini memang mengerikan.

Dosennya sih baik-baik saja, ke sana kemari hanya bawa kunci sel. Tapi sesama mahasiswanya, bisa saling gojlok. Mana yang kuat bisa “menindas” yang lemah. Tapi Alhamdulillah, kabarnya ketika masih di “kampus” Medaeng, Sidoarjo, dia dielu-elukan mahasiswa STIK yang lain, baik jurusan Narkoba maupun Pembunuhan. Entah dengan STIK di Cipinang Jakarta.

Baca juga:  Enaknya Jadi Fadli Zon

Bahkan karena terdaftar di dua “kampus”, ada dua tugas KKN yang harus dijalani Dhani. Di Jakarta tentang ujaran kebencian di medsos, dan di Surabaya tentang pencemaran nama baik. Padahal Dhani hanya mengatakan “idiot” pada penolak “ #2019 ganti presiden”, tapi langsung urusan bui.

Sebagai musisi sukses, sebetulnya Ahmad Dhani sudah hidup nyaman. Tinggal di rumah bagus  Pondok Indah, istri cantik dan tiga anak lelaki yang  ganteng-ganteng. Dari album-album musiknya yang mencapai jutaan keping, Dhani sebagai pentolan Dewa 19 kayaknya tak pernah kekeringan duit.

Apalagi Ahmad Dhani juga secara sah sudah menjabat sebagai Presiden Republik Cinta tanpa perlu lewat pemilu. Mau jadi presiden seumur hidup pun, Amien Rais juga tak bakal berani ngusilin. Paling juga mentok cuma Rhoma Irama yang bisa jadi pesaing, itu pun beda genre “negara”.

Tapi itulah Ahmad Dhani, sosok jiwa muda anti kemapanan. Tak mau dengan kehidupan yang monoton. Tiba-tiba ingin menjadi sosok yang tak hanya mengontrol kebijakan di Republik Cinta, melainkan juga di Republik Indonesia.

Paling tidak politik adalah salah atu lahan luas untuk memenuhi ambisinya. Maka tak heran ketika Dhani sempat berangan-angan jadi Gubernur DKI Jakarta. Apa lagi PKB juga memberi semangat—jika tak mau disebut “diplembungke” seperti balonku ada lima.

Namun begitu ditanya NPWP dalam arti: (N)omer (P)ira (W)ani (P)ira, Ahmad Dhani langsung kabur karena merasa isi tasnya tak banyak-banyak amat. Dhani lalu banting harga dengan Nyabub Bupati Bekasi. Sayangnya, meski sudah rela hanya menjadi wakil, eh, tetap gagal.

Pada Pileg 2019 kemarin dia mencoba peruntungan Nyaleg DPR dari Gerindra, eh gagal juga. Padahal kalau berhasil ke Senayan, Dhani berpeluang menggantikan posisi Fahri Hamzah dalam ilmu Nyinyirologi yang selama 5 tahun ini sedang tren.

Baca juga:  Jangan Sembarangan Memajang Hitler di Indonesia

Paling celaka, sejak Pilpres 2014 dia doyan main medsos dengan postingan yang galak-galak.

Dhani pernah bersumpah jika Jokowi jadi presiden, siap potong dia punya burung. Untung saja tak dimasalahkan, kendati sumpah itu tak pernah dipenuhi.  Namun demikian dia tidak kapok juga. Belakangan Dhani ketanggor, kena batunya!

Sampai akhirnya Ahmad Dhani dipaksa jadi terdakwa di dua Pengadilan Negeri, Jakarta dan Surabaya.

Beberapa waktu silam Dhani dikembalikan ke “kampus” LP Cipinang setelah kena vonis 1 tahun penjara di PN Surabaya. Seperti di PN Jakarta, dia juga naik banding. Entah apa keputusan MA nanti. Apa dikurangi, apa ditambah, apa tetap. Andaikan Hakim Agung Artidjo Alkostar nan “pemurah” itu belum pensiun, niscaya ada kemungkinan vonis Dhani malah ditambah.

Di “kampus” Cipinang, kini Dhani ditaruh pada sel yang dihuni pencuri dan peselingkuh. Mungkin maksud pihak kampus agar suami Mulan Jamela itu tidak lagi ngompol alias ngomong politik. Sebab, pada kenyataannya memang tidak semua orang suka politik.

Dicampur pencuri, paling banter juga bakal diajak bicara politik menyatroni rumah orang. Dicampur peselingkuh, paling-paling bicara politik menggoda bini tetangga. Udah.

Nah, setelah selesai “kuliah” di kampus STIK Jakarta, nantinya Ahmad Dhani lebih baik kembali ke habitat lamanya, sebagai musisi handal. Menimbang peristiwa-peristiwa pahit yang menghantam kehidupannya, Dhani kayaknya memang sama sekali tak berbakat di jagad politik.

Buat apa bermimpi jadi gubernur segala? Wong faktanya sudah jadi Presiden Republik Cinta tanpa dibatasi periode 5 tahunan.

Lagian, meski dengan segala kontroversinya, lagu dan konser-konser musik Ahmad Dhani tetap banyak ditunggu penggemar. Tak peduli pilihan politiknya apa, Baladewa akan selalu menyanyikan lagu-lagu ciptaannya. Mau itu di Sidoarjo, mau itu di Jakarta.

Meski di belantika musik lagu-lagunya begitu bernas, di medsos Ahmad Dhani emang doyan bikin telinga panas, bahkan sampai bikin dirinya berakhir di lapas.

Sudahlah, Dhan, sudah. Ikhlas, ikhlaskan aktivitas politikmu itu agar kamu bisa menyapa lagi penggemarmu yang selalu datangi konser Dewa 19 dengan perasaan lepas dan bebas.



Loading...



No more articles