Adik bungsu saya yang kala itu baru berusia dua tahun merengek minta makan. Jam biologisnya sudah minta jatah. Simbah langsung tanggap meminta gendongan pada Ibu yang masih perlu istirahat setelah menempuh perjalanan panjang. “Mbah Lim,” kata Simbah singkat saat ditanya hendak kemana.

Jarum jam nyaris menunjukkan pukul 9 pagi saat kami sekeluarga sampai di tujuan. Hampir 24 jam perjalanan panjang dari Bogor ke Muntilan. Di musim mudik Lebaran jalanan memang tidak bisa ditebak.

“Sop empal,” pinta Simbah pada pelayan warung Mbah Lim, begitu sebutan local people pada warung itu—sekarang lebih dikenal dengan sebutan Warung Sop Empal Bu Haryoko setelah mendapat hype luar biasa di acara kuliner asuhan Bondan Winarno. Dalam hitungan menit sudah terhidang semangkuk sop berisi bihun goreng berpulas sedikit kecap dan rebusan daun kol diguyur dengan kuah kaldu. Pelengkapnya adalah sekerat daging sapi goreng .

Daging ini sebetulnya adalah fusi antara baceman dan empal. Terlalu gurih untuk masuk ke famili baceman, namun terlalu empuk dan manis jika dibaptis dengan nama empal. Tapi karena yang punya resep lebih suka menamainya dengan empal, ya mau bagaimana lagi? Toh ketika kunyahan pertama, semua mulut terdiam dan dalam sepesekian detik ada guncangan keras di indra perasa.

Bayangkan daging sapi dengan predikat lulus cum laude dari penataran berbagai substansi rempah, dimasak sampai paripurna di tungku arang sejak sebelum azan subuh sampai warung buka jelang pukul 7 pagi.

Daging ini kemudian digoreng dalam minyak dengan suhu yang hanya Tuhan yang tahu. Menghasilkan tekstur renyah di luar sampai menghasilkan remah, namun begitu lembut di dalam sampai-sampai membuat tidak sadar kalau kendaraan yang diparkir baru saja kena serempet truk pasir yang seringkali lewat dengan sembrono.

Kompatriotnya adalah semangkuk sop, yang lagi-lagi absurd. Hanya bihun, rebusan kol, serta bawang goreng yang ditabur malas-malasan. Terlalu sederhana, cenderung pelit, dan langsung mendapat instruksi balik badan jika ingin mendaftar ke grup Ivy League of Sop-sop an kalau memang ada.

Tapi bukankah substansi sop adalah kaldu? Dan kaldu ini memutarbalikan semua nilai-nilai ideal tentang sop tadi. Kaldunya sangat ringan, bening dengan jejak bumbu yang tipis, namun anehnya secara bersamaan punya signature yang sangat kuat. Gurih, namun tidak membuat kepala pusing akibat dosis MSG yang kelewat brutal.

Bihunnya hadir dalam rupa terbaik. Tidak terlampau menor dengan pulasan kecap. Sedikit pucat, namun terlihat elegan. Sepertinya saat dimasak semua saripati rebusan daging tadi disertakan sehingga jika sedang kere tidak mampu menebus sekerat daging (saat saya SMA tahun 2003, sekali makan bisa menghabiskan 20 ribu), masih ada jejak-jejak makanan surga yang masuk ke mulut.

Simbah langsung bergegas setelah seplastik sop beserta uba rampe diserahkan. Saya sedikit-sedikit mencuri pandang ke arah para babah dan tacik yang sedang sarapan. “Idih gak puasa,” kata saya dalam hati.

BACA JUGA:  Panduan Memilih Oleh-Oleh Kuliner: Dompet Tenang, Kerabat Senang

Adik saya sudah tenang. Pengalaman sebagai ibu membuat Simbah tahu bagaimana menenangkan balita  yang butuh sarapan saat bulan puasa. Selama bertahun-tahun, Mbah Lim menyediakan solusi makanan saat beberapa warung makan tutup.

Giliran saya yang goyah. Target saya untuk tetap berpuasa supaya sukses mencatatakan clean sheet sedikit demi sedikit mulai kendor. Masih terbayang betapa nikmatnya para babah dan tacik menghirup kuah kaldu sup yang bening namun gurih itu. Saya mulai gelisah bolak-balik ke arah meja makan, tempat Simbah menyimpan sisa sarapan adik tadi. Tiap menit posisi tangan masih mendekat ke arah tudung saji.

Setengah jam sebelum Dzuhur sisa sop empal tadi sudah saya tandaskan. “Jangan berisik, sebentar lagi masjid ramai orang mau salat,” kata Bapak saat memergoki saya makan di kamar yang lokasinya nyaris menempel sisi masjid.

***

Ayo gawe sweeping sing ra do poso! (Ayo sweeping yang tidak puasa!)Ajakan tadi mengagetkan saya dan paman yang sedang leyeh-leyeh selepas Zuhuran di bulan puasa 2004. Si empunya ide dikenal baru hangat-hangatnya mendalami gerakan jihad ala Ja’far Umar Thalib. Saking hangatnya, penampilannya pun dibuat mirip komandan laskar Jihad itu.

Ajakan konyol tadi langsung kami tolak. Bagaimana mungkin melarang orang makan siang di bulan puasa tanpa tahu lebih dahulu penyebab yang bersangkutan tadi tidak puasa.”Sopo reti lagi meteng, halangan, nek ra malah wong Katolik (siapa yang tahu kalau lagi hamil muda, halangan, atau malah orang Katolik),” kata paman saya.

Mungkin kalau jadi dilakukan, aksi tadi akan menjadi catatan kelam dan meninggalkan trauma mendalam bagi sejarah peradaban Muntilan. Seperti aksi lempar-lemparan batu ke toko-toko milik warga keturunan Tionghoa tahun 1998 silam.

Setidaknya saat menu sop empal jadi salah satu alternatif sarapan saat saya sudah boleh makan nasi, tidak pernah ada yang protes berujung penutupan warung saat bulan puasa. Padahal lokasi warung tadi adalah situs bunuh diri paling tepat di bulan puasa. Namanya Kawedanan, kampung seruas jalan yang jika pohon silsilah warganya dirunut semuanya masih berhubungan saudara. Kawedanan dikenal sebagai salah satu simpul gerakan Muhammadiyah di Muntilan, selain kampung Kauman serta Jumbleng.

Ada masjid besar bernama masjid Al-Mustaqiem yang jadi pusat interaksi sosial kampung dan jadi basis pengumpulan massa pendukung partai politik, mulai PPP saat zaman Orde Baru dan terakhir PAN saat tahun 2004. Kebetulan selama kurun waktu 2002 sampai 2005 saya mendapat kepercayaan menjadi ketua remaja masjid yang peresmiannya dilakukan oleh A.R. Fakhrudin, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1971-1985.

BACA JUGA:  Catatan Mualaf Mudik Ke Jerman

Sebagai kampung Muhammadiyah, Kawedanan pernah ketiban apes waktu Amien Rais ngerjain Gus Dur tahun 2001 lalu. Sudut-sudut kampung dijaga ketat, akses keluar masuk lewat regol ditutup oleh anak muda setempat serta KOKAM, organisasi kepemudaan Muhammadiyah, untuk berjaga-jaga kalau ada aksi dari anak-anak muda NU.

***

Bagi warga Kawedanan, sop empal Mbah Lim adalah solusi  saat harus mencari sarapan saat bulan puasa untuk anak-anak yang belum wajib puasa, untuk para perempuan yang sedang berhalangan, anggota keluarga yang sedang sakit, juga poro sepuh yang sudah tidak kuat berpuasa. Tidak ada yang gusar dan keslomot saat intimidasi wangi rempah kaldu yang direbus dengan arang serta aransemen khas daging goreng sudah mengusik sejak imsak. Saya masih ingat persis, lokasi warung tadi hanya selangkah dengan rumah salah satu imam masjid Al-Mustaqiem. Dor!

Bisa jadi situasi sosial yang begitu kompleks di Muntilan membuat warganya akhirnya sudah tahu sama tahu. Basis warga Muhammadiyah, kantong jamaah Nahdlatul Ulama, rumah warga keturunan Tionghoa, juga tonggak penyebaran Katolik di tanah Jawa. Cukup wajar kalau organisasi-organisasi seperti FPI atau HTI tidak banyak berkembang.

Selama bertahun-tahun, warga Muntilan sudah biasa dengan berbagai isu-isu toleransi tanpa harus berbicara di forum ilmiah tingkat tinggi yang ndakik-ndakik atau membuat ontran-ontran di ranah media sosial sampai lupa waktu berbuka.

Separuh kota tidak puasa Ramadhan karena Muhammadiyah sudah Lebaran duluan, sudah biasa. Anak muda NU be-­retetet ndona ndona sambil mbleyer-mbleyer motor RX King setiap acara khataman dan haul Mbah Kiai Dalhar, sudah biasa. Hiburan gratis kembang api dan barongsai dari babah-babah dan tacik-tacik yang merayakan Imlek, sudah biasa. Juga solat Ied diiringi bunyi lonceng Gereja Katolik Santo Antonius, sudah biasa juga.

Memang benar seperti yang pernah dituturkan dalam film Tabula Rasa garapan sutradara Adrianto Dewo: makanan adalah itikad baik untuk bertemu

Seperti Mak yang menganggap gulai kepala kakap sebagai ritus ziarah, saya menempatkan sop empal layaknya perjamuan kudus setiap saya berkesempatan pulang ke Muntilan. Seperti ada rukun ibadah yang kurang lengkap bila tidak meyesap kaldu sop serta mengunyah gurihnya empal.

Boleh jadi, sop empal dibuat bukan lagi sebagai hidangan, namun ritus pemujaan di sekte kuliner Muntilan. Ada mantra-mantra yang dirapalkan dalam tiap gigitan empal, ada puja-puji di tiap lembaran bihun, juga butir-butir bahagia dalam setiap tetesan kuah kaldu sop.

Dan saat ibadah tadi paripurna, masih ada ruang untuk mengucap syukur saat melewati dapur yang tak pernah berhenti meniupkan wangi magis tungku arang. Maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan?

 

No more articles