Menertawakan Kearab-araban yang Mirip Seperti Gejala Keminggris

Menertawakan Kearab-araban yang Mirip Seperti Gejala Keminggris

Menertawakan Kearab-araban yang Mirip Seperti Gejala Keminggris

Jauh sebelum heboh tentang Fitsa Hats, Kyai saya pernah punya cerita.

Suatu hari, seorang kyai datang ke acara takziyah di sebuah desa. Oleh tuan rumah, beliau diminta menjadi salah satu orang yang akan melepas jenazah. Di antara deretan pembaca doa, sang kyai kebagian urutan buncit. Sebelum beliau adalah pak modin yang berdoa dengan sepenuh hikmat. Sayangnya, si kyai merasa ada yang ganjil dalam bacaan pak modin. Setiap kali habis membaca lahu dalam doanya untuk si mayit, ia lalu melanjutkannya dengan bacaan lamawna wa dawauna laha.

Jadilah doa itu berbunyi, allahummafirlahu lamawna wa dawauna laha….allahumma la tahrimna ajrahu wala taftinna ba’dahu waghfir lana walahu lamawna wa dawauna laha….

Bagi orang yang tiap hari bergelut dengan doa, bacaan pak modin jelas mengganjal. Tapi pak kyai menahan diri untuk bertanya. Takut kalau-kalau akan membuat pak modin merasa digugat atau dikurangi legitimasinya. Rasa penasaran akhirnya dibawa pulang. Di rumah, si kyai membolak-balik buku semacam majmu’, kitab kecil berisi surat-surat pilihan, panduan tahlil, dan aneka doa populer seperti yang terlihat di saku pak modin. Dan terbongkarlah misteri.

Dalam kitab tersebut, doa atas mayit memang tertulis bahwa di akhir kata lahu terdapat tanda kurung. Di dalamnya terdapat keterangan dalam huruf Pegon yang berbunyi, lamun wadon laha. Rupanya, panduan berbahasa Jawa yang berarti “Jika untuk perempuan (kata lahu diganti) laha” tersebut oleh pak modin dikira bagian dari doa sehingga diarabkan dalam pembacaannya.

Kyai saya kemudian berbicara tentang modin inpres. Sebutan yang agaknya lebih merupakan kritik para kyai kala itu atas campur tangan pemerintah dalam urusan umat, hingga soal-soal agama. Pengelola urusan agama diambil seenaknya, bahkan dari orang yang tidak kompeten di bidangnya. Dan mengarabkan sesuatu agaknya menjadi salah satu upaya para modin inpres untuk mengatrol wibawa di mata umat meski sering berakhir dengan cemooh.

Makanya, ketika mendengar Ahok menertawakan Habib Novel yang menulis Pizza Hut menjadi Fitsa Hats di BAP-nya, rasanya seperti lelucon biasa saja. Ahok menduga bahwa Novel sengaja memelesetkannya karena malu pernah bekerja di perusahaan milik orang yang tidak seiman dengannya. Bagi saya, tuduhan itu juga berlebihan. Novel sendiri sudah menyanggahnya dan menimpakan typo pada polisi.

Sanggahan Habib Novel itu penting dan patut diapresiasi. Saya salut karena ia yang secara terbuka mengaku tidak malu pernah kerja di sana. Setidaknya tidak seperti para mualaf yang tiba-tiba jadi dai atau pendeta dan sangat bersemangat menjelek-jelekkan keyakinan di masa lalunya.

Yang paling penting, sanggahan tersebut menguatkan dugaan saya bahwa yang dilakukan oleh Novel dengan Fitsa Hats tak jauh berbeda dengan pilihan pak modin inpres. Pizza Hut terdengar kurang fasih dan ia ingin membuatnya lebih afdhol. Sayangnya, setelah melucuti asal-usul Amerika dari Pizza Hut ia tidak menggantinya menjadi Arab tapi Italia.

Gejala mengarabkan sesuatu makin jamak saat ini, sebagaimana kecenderungan untuk sok Inggris. Mulai dari ber-ana-anta, hingga ribut-ribut soal manakah penulisan amin yang sesuai kaidah bahasa Arab di antara amiin, aamin, atau aamiin. Atau perdebatan bertele-tele tentang bagaimana cara menuliskan kata insya Allah yang akurat, dengan in shaa Allah, insha Allah atau inshaAllah. Soal teknis penulisan itu menjadi amat vital seolah kesalahan ejaan atau spasi akan membuat Tuhan salah paham dan keliru mengambil keputusan.

Kekhawatiran serupa pernah juga diceritakan oleh seorang teman yang kuliah di Mesir tentang mahasiswa Indonesia baru yang menolak masuk sebuah toko swalayan. Penyebabnya, di depan toko tersebut terpacak tulisan besar yang dibacanya wail lakum (celaka kalian). Mahasiswa baru kita gusar. Ia tak habis pikir dengan trik konyol yang dilakukan pemilik toko untuk menarik pelanggan. Bukannya sambutan manis ala mbak dan mas penjaga minimarket, mereka malah memaki. Untung, temannya yang lebih lama tinggal di sana menjelaskan bahwa kalimat itu seharusnya dibaca welcome.

Ya, siapa pun mafhum, politik itu kejam. Sebuah niat luhur berubah menjadi bahan tertawaan yang berkepanjangan. Sementara tidak ada yang mengolok pemilik warung eceran yang menulis bensin dengan bengsin atau Mizone dengan Mijon.

Tapi andai Habib Novel mau mengambil hikmah dari pepatah bijak yang mengatakan banyak gagasan besar lenyap begitu saja karena pemiliknya tak tahan ditertawakan, barangkali kelak ia bisa menjadi besar. Lihatlah Fuad Alkhar (yang berperan menjadi Wan Abud) atau Cinta Laura.

Jika Fuad Alkhar tenar dengan aksen Arabnya, Cinta Laura dengan dialek Inggrisnya. Keduanya terbukti berhasil membuat diferensiasi. Fuad Alkhar pada masanya pernah begitu laris menjadi aktor komedi spesialis peran arab. Nama Cinta Laura pun tak kalah moncer, gayanya banyak ditiru. Cerita-cerita kocak tentang tentang dia bertebaran. Apa saja yang diucapkan bisa membahagiakan masyarakat Indonesia, meski sekadar kata “becek”. Semua suka dia, kalau ada yang sebel paling-paling penjaga toko cat, dalam cerita yang populer berikut.

Cinta Laura: “Mas, ada koucing anggoura (dengan “r” yang tidak jelas)?”
Penjaga toko: “Tidak ada, Mbak….”
Cinta Laura: “Kalau koucing Persyia (sekali lagi, dengan “r” yang tidak jelas)?”
Penjaga toko: “Tidak ada juga, Mbak.”
Cinta Laura: “Oh God!! Okay!! Kalau koucing kampoung ?”
Penjaga toko: “Kita gak jual kucing, Mbak!!”
Cinta Laura: “Hey!! So!!?? kenapa di depan kamu tulis TOKO CAT?”

Tapi sehebat-hebatnya Cinta Laura, toh ia belum berhasil menciptakan merek baru yang fenomenal.

Exit mobile version