Surat Terbuka untuk Coki Pardede: Si Raja Terakhir ‘Dark Comedy’

MOJOK.COSurat terbuka untuk sahabat Tretan Muslim dan Habib Ja’far, Coki “Al Kuffar” Pardede yang lagi-lagi bikin inovasi kontroversi.

Dear, Shokhabat Coki “Al Kuffar” Pardede selaku Ketua Pemuda Tersesat yang semoga sehat selalu dan masih bisa bermain nada-nada sampai tahun depan. Selamat ya, Coki. Antum menutup tahun ini dengan masalah lagi.

Belum kapok juga antum ya dengan kasus kurma dan daging babi, serta banjir, dan Covid-19. Hebat antum. Hebat. Ane syaaalut.

Ini menandakan, bahkan kasus kurma campur daging babi itu, di mana antum dan Tretan sempat jadi buronan ormas sedunia, di mana acara-acara antum sampai dicekal… ternyata masih belum bikin filter joke antum dipasang juga.

Begini, Shokhabat Coki Pardede yang semoga selalu dirahmati algoritma YouTube dan Instagram. Sebagai komika noob, saya juga agak-agak paham di dunia komedi ada genre-nya. Di antaranya blue joke, dirty joke, dan kesukaan antum, dark joke.

Kalau kita lihat pengertian sekilas, dark joke itu merupakan sebuah aliran komedi yang membahas hal-hal tabu. Misalnya seperti kematian, kecelakaan, penyakit, atau katakanlah persoalan hidup yang meresahkan bagi sosok seperti antum.

Mungkin, sebagian masyarakat ketika membaca pengertiannya saja sudah merasa geram. Apalagi kalau sampai lihat contoh-contohnya. Yah, kayak postingan antum di Instagram beberapa hari lalu… yang berpose memegang minuman boba dengan latar foto anak-anak Afrika yang kelaparan.

Melihat postingan itu, Shokhabat Coki Pardede, saya tidak marah. Serius tidak marah saya. Serius ini, saya cuman tertawa. Saya tertawa karena teringat opini antum yang hyumanity ebov relijion itu.

Heran saya, kok bisa ya ada orang yang menjunjung kemanusiaan lebih tinggi daripada agama kayak antum, tetapi lawakannya menggores sisi kemanusiaan itu sendiri.

Bukankah itu bertolak belakang, ya, Shokhabat Coki?

Bukankah ini nggak beda jauh dengan pemuka agama yang ngomongin moral, tapi moralnya sendiri remuk? Nggak beda jauh sama orang yang khotbah soal open-minded tapi demen closed-minded goblok-goblokin orang yang nggak setuju sama pendapat dia, ya Shokhabat Coki?

Oke lah, saya sendiri juga kenal dark joke dari beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2017 dan sering pakai juga. Jadi yah kadang saya keluarkan itu dark joke ketika open mic di komunitas… hanya saja jelas tidak seheboh kayak antum begini ini.

Kenapa? Ya karena saya tidak terkenal kayak antum. Jelas.

Bahkan bukan hanya ketika open mic saja, ketika nongkrong bareng teman yang satu frekuensi, guyonan yang keluar pasti ada dark-dark-nya macam itu. Dan dari sini seharusnya kita bisa sama-sama lihat, lawakan yang sensitif itu sebaiknya dilontarkan di circle sendiri, bukan untuk konsumsi publik.

Antum pasti tahu di Facebook sudah dari zaman kapan ada grup-grup yang menjadi rumah bagi orang-orang yang menyukai komedi genre ini. Saran saya, coba gabung ke grup tersebut dan keluarkan semua dark joke yang antum punya di sana, jangan pipis sembarangan.

Selain berpotensi menjadikan antum bermasalah, itu juga bisa membahayakan orang-orang di lingkungan antum, Sokhabat Coki Pardede yang—barangkali—sudah jadi kata kunci bagi anggota ormas di mesin pencari.

Kan ndak lucu sama sekali kalau antum yang melawak haha-hihi, orang-orang di sekitar antum yang kena persekusi. Cuaaaakzzz.

Lalu ada masyarakat yang emosi dengan lawakan antum sampai bikin somasi dan ingin mengajak antum ngopi bareng. Dan karena selera ngopi orang itu beda-beda, ajakan ngopi ini bisa aja jadi agak-agak seram.

Oke, di sini antum bisa saja mengeluarkan pleidoi: selera orang berbeda, kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, sampai kalau tidak suka ya jangan follow (hei, lantas kenapa antum nggak kunci saja itu akun Instagram antum woy?).

Saya hanya mengingatkan saja bahwa antum itu publik figur—yang mana sudah pasti segala kegiatan antum dipantau netizen. Dan secara perlahan, kabar tentang seorang Coki ini pasti akan sampai di telinga mereka yang tidak mem-follow dan bahkan tidak kenal siapa Coki “Al Kuffar” Pardede itu.

Lagi pula Shokhabat Coki Pardede, menurut saya, bahan dark joke antum itu kok ya itu-itu mulu. Lagi-lagi seputar Afrika, kelaparan, 911, teroris, dan sebagainya. Jadi bagi orang yang sudah lama ngikuti antum, mungkin sudah mulai terasa dan terdengar buih-buih rasa kebosanannya.

Perlulah kiranya mencari bahan-bahan baru supaya kedengaran segar di telinga. Misalnya seperti beberapa bulan lalu, anak-anak Twitter menganggap mati lampu, ditinggal pacar, dan kondangan ke mantan itu dark joke. Padahal salah, tidak lucu pula, tapi setidaknya mereka sudah mencoba dan percaya dirinya tinggi.

Meski begitu, walaupun kadang tak setuju dan takut-takut juga dengan dark joke antum yang disebar itu, sebenarnya saya ini kagum dengan mental antum, Shokhabat Coki Pardede.

Bagaimana tidak? Kasus-kasus yang menimpa antum itu kadang sampai pada level yang betul-betul berbahaya. Namun, antum terlihat biasa-biasa saja, seolah tidak peduli, seolah tidak terjadi apa-apa.

Antum juga teguh dengan pendirian. Setelah kasusnya redup, antum sering kembali melakukannya lagi dengan cara-cara dan gimik yang berbeda pada lain kesempatan. Beneran nggak ada kapok-kapoknya.

Sungguh, ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berpegang teguh pada pendiriannya. Kalau tidak, ya paling satu dua kali dia sudah bosan dan beralih ke hal lainnya.

Terakhir, harus saya katakan dengan sejujurnya, saya penasaran sama jalan pikir antum, Shokhabat Coki Pardede. Serius penasaran.

Soalnya saya curiga, jangan-jangan hobi antum itu sebenarnya bukan bikin joke dari ironi-ironi bencana, bukan dari materi kelakuan aneh umat beragama, bukan dari premis bencana alam yang sama sekali tidak ada filternya, melainkan dari…

…dikejar-kejar ormas dan suka bikin carut-marut keselamatan teman-teman Anda!

BACA JUGA Menghitung Penghasilan Majelis Lucu Indonesia dari Youtube dan tulisan Dian Rijal Asyrof lainnya.

 

Exit mobile version