Super Junior, BTS, sampai EXO dan Gejala Bandingkan Kpop Zaman Dulu Lebih Baik

 MOJOK.CO – Fans BTS dan EXO yang mau belajar menyukai Super Junior saat Closing Ceremony Asian Games 2018 kemarin keren sekali. Aksi mereka redakan post-power-syndrome para Kpopers senior.

Saya heran ketika belakangan beberapa teman Generasi Z kenal Super Junior. Ah, rupanya karena Super Junior diundang untuk Closing Ceremony Asian Games 2018 kemarin. Sebagai fans KPop, para anak generasi Bangtan Boys (BTS) dan EXO itu bahkan mau belajar mencintai Super Junior yang menurut saya atmosfer musiknya beda sama KPop zaman sekarang.

Yang dilakukan para Exol dan BTS Army itu keren sekali. Tidak gampang lho berkenalan apalagi menyukai sesuatu yang sering dibandingkan dengan idola mereka sebagai yang “lebih baik, lebih KPop, lebih berkualitas”.

Generasi Y (milenial) macam saya berkenalan dengan KPop melalui boy band atau girl band seperti Super Junior, DBSK, Big Bang, SNSD, 2NE1, SHINee. Sedangkan Generasi Z saat ini biasanya berkenalan dengan KPop pertama-tama melalui BTS, EXO, atau BlackPink.

Kalau kalian cukup luang, silakan streaming MV Debut masing-masing grup itu di YouTube. Maka akan kalian temukan perbedaan “warna musik” yang cukup signifikan antara KPop era Gen-Y dan Gen-Z. Kalaupun ada kesamaan, biasanya lebih berdasarkan “aliran” perusahaan yang menaungi (SuJu dengan EXO dari SM, 2NE1 dengan BlackPink dari YG).

Banyak analisis soal perbedaan warna musik lintas generasi KPop ini, dan tentu saja setiap masa punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi sepanjang pengamatan terbatasku di dunia KPop, komentar miring lebih sering diutarakan para KPoper generasi milenial (termasuk saya) terhadap KPoper zaman sekarang.

Menurut KPoper milenial, kualitas vokal member BTS/EXO tidak sebagus SuJu/BigBang sebab sudah banyak filter dan digitalisasi. Konsep MV (music video) mereka pun nggak banyak yang bercerita seperti KPop zaman dulu (biasanya satu lagu memiliki dua versi MV; dance version dan storyline version). Itu belum lagi soal proporsi “edit wajah” tiap personil.

Nah, penyakit membandingkan zaman sendiri dengan zaman orang lain seperti ini, pada tahap tertentu bisa sangat menyebalkan. Generasi yang lebih baru, lebih muda, seringkali dianggap “selalu ada yang kurang” bagi generasi yang merasa lebih senior. Tentu saja ini nggak hanya terjadi di dunia KPop yang fanbase-nya cukup fanatik. Cukup amati saja kelakuan para sesepuh dengan post-power-syndrome di Fesbuk.

“Penulis zaman sekarang nggak mutu semua, analisisnya dangkal, temanya remeh temeh banget. Nggak kayak zamanku dulu.”

“Musisi zaman sekarang cengeng, apaan, cinta-cintaan mulu. Nggak berani mengkritik pemerintah, cuma ngejar popularitas. Nggak kayak zamanku dulu.”

“Apaan nih kualitas pemuda zaman sekarang. Bisanya mainan internet. Kasian banget Bung Karno kalau tahu 10 pemuda sekarang bisanya menggoncang hape cuma buat dapat bonus olshop.”

Blah blah blah.

Seseorang yang masa jayanya berlalu tapi belum bisa move on, biasanya memang selalu caper dengan cari-cari panggung. Paling mudah dengan mengomentari kualitas “zaman sekarang” berbeda dengan “zaman dulu”.

Di zaman saya dulu, prestasi olahraga lebih baik. Di zaman saya dulu, harga BBM nggak rajin naik. Di zaman saya dulu, anak pejabat nggak bisa nitip posisi. Kalau kata penganut post-power-syndrome akut, “Piye, isih penak jamanku to?”

Padahal bukan berarti yang zaman sekarang pasti lebih buruk seratus persen. Sebagai anak muda saya percaya kebijaksanaan orang tua selalu dibutuhkan pada setiap zaman. Tapi hanya orang tua yang bijak lah yang mau memberi ruang dan waktu kepada generasi “zaman sekarang” untuk memberikan pembuktian kualitas mereka sesuai standar dan kebutuhan zaman sekarang, bukan pakai standar zaman dulu terus-menerus.

Pemuda zaman sekarang mungkin cuma bisa mainan YouTube, bukan angkat bambu runcing. Tapi ya hellaw~ siapa yang masih perang pakai bambu runcing di zaman sekarang? Di zaman digital ini, perang konten justru lebih urgent didalami para pemuda kalau beneran ingin terjun memberi “suara baik” di tengah banjir informasi.

Penulis zaman sekarang mungkin nggak sedalam dulu, tema yang diangkat cuma curhatan remeh temeh sehari-hari, nggak ngomongin urusan bangsa negara kayak penulis zaman dulu. Tapi pada era digital saat ini, penggiringan opini publik dengan pendekatan personal seperti itu justru banyak dilakukan. Kalau istilah (sok) kerennya, ini tentang personal is political, konsep yang sebenarnya sudah lama banget dipakai gerakan perempuan gelombang kedua.

Ada hal-hal baru yang menurut kita kurang greget, kurang berkualitas, kurang gagah, kurang bermakna, padahal sebenarnya karena kita kurang mau mengenalnya. Kita tidak akan bisa menilai keindahan komodo jika di mata kita hanya ada dinosaurus. Untuk mau mengenal hal-hal baru dari generasi yang berbeda, sebenarnya kita hanya perlu berbesar hati melepas kacamata zaman kita.

Hebatnya, para KPoper Generasi Z justru mencontohkan teladan kebesaran hati itu. Mereka para fans BTS dan EXO yang sering dianggap nggak benar-benar ngerti KPop oleh para seniornya, justru mau mengunjungi masa lalu dan berkenalan dengan grup-grup senior untuk kemudian mulai mencintai KPop zaman itu, tanpa lantas harus membenci KPop zaman sekarang. Mereka pun mau berbesar hati mengakui kalau SuJu itu keren, meskipun BTS juga keren. Daebak lah, KPoper Gen-Z ini!

Seandainya saja generasi masa lalu juga mau berbesar hati mengunjungi masa sekarang dan berkenalan dengan apa-apa yang kadung mereka benci tanpa benar-benar mengetahui, alangkah lebih bahagianya hidup mereka.

Tapi ya kejayaan sejarah dan masa lalu memang paling nyaman diingat sebagai tempat kembali. Meskipun kita tahu pasti tidak akan bisa kembali menghidupi zeitgeist yang sama pada masa berbeda.

Exit mobile version