Soal Meiliana dan Rasanya Jadi Minoritas di Negeri Bhineka Tunggal Ika bagi Atlet Indonesia

MOJOK.CO – Bagaimana rasanya ketika kamu ditanya soal kasus Meiliana, tapi yang bertanya pernah membela Indonesia sebagai seorang atlet dan kebetulan juga non-muslim?

Kasus Meiliana yang mengeluhkan bisingnya pengeras suara azan masjid masih juga hangat diobrolkan selain kabar-kabar raihan medali yang berhasil disabet atlet-atlet kita pada Asian Games 2018. Yah setidaknya hal tersebut masih dibicarakan di lingkungan saya.

Hal yang bikin saya akhirnya mendiskusikan hal tersebut dengan salah satu murid saya, sebut saja namanya Ben, kebetulan dia non-Muslim dan atlet tenis meja kelas junior. Loh, apa hubungan tiga hal itu?

Ada hubungannya kok, simak aja dulu.

Jadi begini, Ben bertanya pada saya soal posisi azan dalam Islam setelah dengar kasus Meiliana ini masih hangat-hangatnya. Katanya, “Kenapa orang ibadah harus diingatkan terus-terusan? Memang selemah itu ingatan seseorang pada kewajibannya ke Tuhan?”

Demi mendengar pertanyaan itu, saya sampai urung memberinya soal algoritma pada sesi belajar saat itu. Saya tiba-tiba terserang perasaan takut kualat sama murid sendiri karena sering nge-drill pake soal-soal sulit. Giliran gentian dikasih soal sulit dari muridnya, saya berbalik enggak mampu jawab. Halah, ini zaman apa sih kok malah gurunya yang takut sama murid?

Selain itu, kok ya murid-murid jaman sekarang songong-songong ya? Berani-beraninya menguji pengetahuan gurunya. Dibanding soal algoritma, pertanyaan Ben ini pertanyaan rumit buat saya yang pengetahuannya sangat cetek. Saya memang pernah belajar di pondok pesantren, tapi pertanyaan macam itu mana berani saya tanyakan ke ustaz atau ustazah saya waktu itu. Udah ngeri duluan dipelototin karena bertanya yang aneh-aneh. Lah, ini si Ben berani betul tanya begituan.

Saya akhirnya menjawab pertanyaan Ben dengan terpatah-patah. Saya bilang, “Posisi azan dalam agama saya itu sebenarnya buat campaign sih, Ben. Istilah agama saya tuh syiar.”

Campaign apa? Masuk Islam? Kan, orang Islam sudah banyak di Indonesia?” Ben bertanya lagi.

Saya berharap dia berhenti setelah saya menjawab satu pertanyaannya. Saya lupa, Ben ini sejenis makhluk homo sapiens post-milineal yang curious-nya serius sampe ke usus. Alhasil, jawaban-jawaban saya mungkin tidak akan pernah memuaskan dahaga kepenasaranannya soal kasus Meiliana.

“Menurut saya, azan itu campaign untuk selalu optimis, Ben. Ini murni jawaban saya Ben. Saya kurang ngaji sih. Cuma begini, saya sedikit tahu arti kata-kata dalam lafaz adzan itu. Puncaknya bagi saya ada di lafaz ‘mari menuju Allah (melalui salat), mari menuju kemenangan’. Itu ajakan untuk memulai hari, atau mengingatkan pada beberapa waktu maut; pagi, siang, sore, senja, malam, yang mungkin mood-mood kita turun di sana. Kayaknya gitu sih, Ben.”

Jawaban saya yang kelewat “aman” itu memunculkan diskusi baru antara saya dan Ben. Pertama, soal antitesis jawaban saya yang ditunjukkan melalui realitas kasus Meiliana. Menurut Ben, jikalau optimisme menjadi semangat yang ingin disebarkan dalam azan yang dikumandangkan, haruskah ia menjadi pengganggu bagi yang lainnya? Optimisme macam apa, katanya. Semangat optimisme harusnya inklusif, tidak eksklusif. Bisa menyasar ke semua kalangan. Entah kenapa, saya mengamini apa yang menjadi asumsi bocah 15 tahun itu.

Ben, mencontohkan, dia pernah menghadiri pernikahan salah satu kolega ayahnya yang kebetulan berlokasi di gereja. Tapi, gereja HKBP. Loh, kenapa lagi dengan gereja itu? Sebentar, tarik napas dulu. Unsur B di akronim HKBP itu berarti Batak. Dan, seperti juga kebanyakan orang yang punya stigma tentang orang Batak yang bersuara lebih keras dari orang Jawa pada umumnya, Ben juga menyimpan stigma itu tentang orang bersuku Batak.

“Aku bukannya enggak suka sama khotbah pendetanya sih. Cuma, kok aku dengarnya jadi kayak orang marah-marah. Padahal aku juga Protestan. Tapi karena menikahnya juga menggunakan bahasa Batak, yang aku enggak paham, aku tetap ngerasanya itu orang  kok lagi marah-marah ya? Kok di hari bahagia gitu ada sih yang marah-marah. Baru, pas dijelaskan sama Papa bahwa orang itu sedang mendoakan yang baik-baik, kasih wejangan-wejangan penuh pengharapan, baru aku paham.”

Barangkali, apa yang ingin dikatakan Ben adalah soal cara. Pesan optimisme yang terkandung dalam azan, bisa jadi disalahpahami jika tidak dilakukan dengan cara yang benar. Salah satu caranya adalah melantunkannya dengan suara yang lembut, tidak merusak telinga apalagi melebihi 150 desibel. Konon, suara dengan 150 desibel itu suara petasan. Yang tentunya mengganggu pendengaran.

Sama halnya dengan ibadah di tempat ibadah lainnya, yang jika tidak dikemas dengan cara yang benar, akan mudah disalahartikan alih-alih mendekatkan diri pada Tuhan. Pada proses pemberkatan pernikahan di salah satu gereja HKBP yang pernah Ben hadiri, misalnya. Sudah ya dengan bahasa pengantar yang tidak dipahami oleh Ben (sama halnya dengan bahasa Arab dalam azan yang sangat tidak mungkin dipahami oleh Ibu Meiliana), kemudian dibawakan dengan suara yang enggak ada lembut-lembutnya. Bikin rungsing, berpotensi bikin hati kian kelam, tertutup peluang menerima hidayah.

Kedua, diskusi saya dengan Ben tentang azan dan kasus Meiliana juga jadi berjalan-jalan ke arah paling sensitif; soal identitas. Ben punya pendapat yang bikin saya de javu saking umumnya pendapat Ben, “Apa karena saya minoritas? Dan, sulit sekali hidup menjadi minoritas di negara Bhineka Tunggal Ika?”

Sebenarnya saya sempat kaget karena murid saya itu bisa sampai bertanya begitu. Ben yang saya kenal adalah remaja biasa saja. Kalau ada yang sedikit unik, itu karena Ben tidak memilih antara menjadi atlet atau tetap menempuh pendidikan formalnya. Dia mencoba melakukan keduanya. Meskipun dia menempuh pendidikan jalur sekolah rumah, tapi saat belajar dia sangat serius. Jalur persekolahan tidak mengizinkannya untuk menghabiskan sebagian besar waktu dalam sesi latihan.

Cabang olahraga yang dipilihnya juga aneh, menurut saya. Saya kira dulu Ben akan menjawab karena bakatlah dia akhirnya memilih cabang olharaga tenis meja. Dugaan saya meleset karena Ben beranggapan bahwa tenis meja itu cabang olahraga yang fisik dan logika digunakan secara bersamaan untuk saling mendukung. Mungkin cabang olahraga lain juga menuntut dua hal ini. Namun Ben menjelaskan, selain teknik, feeling dan hitung-hitungan di mana bola tenis meja akan mendarat butuh kejelian dalam menakar. Membaca permainan lawan juga dibutuhkan dan itu semua membutuhkan logika.

Kegemaran Ben di bidang olahraga sebenarnya sesuatu yang biasa atau kita bisa bilang wajar. Ayahnya mantan atlet renang dan polo air. Pernah menyumbang emas di laga Sea Games Junior (kelompok usia) tahun 1973 pada cabang renang. Pilihan menekuni cabang tenis meja dan jalan menjadi atlet juga dipilihnya dengan dukungan penuh orang tua.

Meskipun tenis meja membuatnya sibuk latihan dan kemampuan profesionalismenya telah diasah sejak dini, Ben tetaplah remaja belasan tahun. Obrolan-obrolan saya dengannya berputar-putar pada isu-isu remaja pada umumnya, yang kesemuanya agak receh. Mulai dari main game terbaru, main Tik Tok, suka-sukaan dengan lawan jenis. Kalaupun agak sedikit serius, biasanya hanya diskusi soal cita-cita dan bidang-bidang yang akan dipilihnya sebagai karier setelah tidak menjadi atlet. Panas-panas Pilkada DKI Jakarta lalu saja nggak sempat kami obrolkan. Meski pernah suatu kali dia meminta pandangan saya tentang Ahok yang ditahan karena dugaan penistaan agama yang saya peluk.

Jam terbangnya sebagai atlet, bertanding dari satu turnamen ke turnamen lain. Mulai dari tingkat lokal sampai internasional barangkali menjadi sesi pelajaran tambahan yang lebih bermakna bagi Ben, khususnya dalam hal menjadi Indonesia. Ben, justru yang mengajarkan saya lirik tambahan di lagu Indonesia Raya 3 stanza. Jujur, saya belum hapal sampai hari ini. Ben lebih dulu hapal karena itu adalah salah satu ritual paling umum saat membawa nama Indonesia pada turnamen internasional.

Perihal pertanyaan mengenai identitasnya sebagai kaum minoritas; etnis Cina dan non-Muslim, adalah pelajaran yang lebih serius dari seorang murid tentang menjadi Indonesia, kepada muridnya. Berkali-kali saya menjelaskan tentang pengamalan sila-sila dalam Pancasila, semakin banyak juga kasus-kasus yang dapat ditunjukkan Ben kepada saya (dan Indonesia) tentang penyimpangannya.

Aplikasi yang paling nyata untuk lema Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia, misalnya, masih jadi tanda tanya besar bagi Ben yang merasa sebagai golongan minoritas. SELURUH INDONESIA yang mana, sedang ditanyakan remaja berparas bak personil K-POP kegemaran remaja putri kita, kepada saya—dan barangkali juga kepada Indonesia.

Ben dan pertanyaan-pertanyaan turunannya tentang debat TOA (pengeras suara) sebenarnya sesuatu yang di buku-buku sekolah bisa dijawab dengan manis, tapi dalam realitas nyata kehidupan berbangsa dan bertetangga, itu jadi barang langka. Kalau sudah begini, saya hampir putus asa jadi guru di negeri Bhineka Tunggal Ika.

Keresahan ini mungkin feel-nya sama dengan keresahan Ben yang sudah ya menjadi warga minoritas, cabang olahraga tenis meja yang ditekuninya pun jarang dilirik pemirsa. Meski begitu, ada hal lain yang menurut saya bisa terus saya pelajari dari Ben dan pertanyaan-pertanyaannya tersebut.

Seresah apapun dan merasa jadi anomali sebagai kaum minioritas di negeri ini, pun menghadapi guru yang tidak cakap menjawab pertanyaan-pertanyaan kritisnya, dia tetap berangkat berlaga membela Indonesia melalui tenis meja meski ada banyak pertanyaan untuk negaranya—atau lebih tepatnya pertanyaan untuk orang-orang seperti saya untuk kasus Meiliana.

Pantang malas meski enggak banyak pasang mata yang tertuju padanya. Pantang menyerah mewakili negaranya meski—saya tahu—ada banyak sekali kegetiran di benaknya.

Salut ya, Ben. Terima kasih ya sudah berusaha membela negara saya melalui tenis meja.

———————–

*Ben merupakan atlet tenis meja yang pernah mewakili DKI Jakarta untuk meraih medali emas pada kategori beregu POPNAS XIV 2017 di Semarang.

Exit mobile version